
Pada sore harinya, Qairen pergi bersama Duckin. Beberapa pasukan prajurit Duu Arven mengikuti mereka, hingga ke sebuah restoran. Memang akhir-akhir ini, tidak pernah lepas dari pengawasan mata.
"Ajudan Duckin, ingat nanti kamu pergi menyamar." titah Qairen.
"Aman, komandan tenang saja." jawab Duckin.
Qairen melihat kaca spion. "Kita bertugas seperti pencuri, kemanapun diikuti pergerakannya."
"Komandan bersiap main kucing-kucingan dengan Duu Goval." Duckin masih fokus menyetir mobil.
Saat sampai di restoran, Duckin pergi ke toilet. Dia sudah berhasil tukaran baju, dengan seorang pria muda. Memang sudah direncanakan, dan diberi intruksi. Dua prajurit sibuk, saat melihat orang mirip Duckin kembali.
"Eh, ajudan Duckin tadi pergi kemana?"
"Palingan juga ke toilet."
"Kenapa aneh iya, datang-datang langsung pergi."
"Mungkin kebelet, tapi itu benar ajudan Duckin kok." Masih fokus mengawasi, dari jarak yang sangat jauh.
Duckin tertawa saat berhasil keluar dari restoran, dan segera menjalankan tugas. Duckin mengambil uang palsu, yang berada di tempat rahasia. Masih area dermaga, namun tempat yang aman.
"Sekarang juga, kalian antar uang ini ke sekretaris Micko." titah Duckin.
"Baik ajudan Duckin." jawab pekerja dermaga, yang disuruh Qairen.
__ADS_1
Micko diam-diam bertemu mereka di suatu tempat, lalu menerima uang yang dicuri tersebut. Dia merasa lega, karena tidak perlu dipermasalahkan.
"Syukur deh, bendarahara tidak kerepotan. Aku juga tidak bingung, menjelaskan selisih aset negara. Sampaikan terima kasih dariku, pada komandan Qairen." ucap Micko.
"Baiklah, nanti kami sampaikan bila bertemu." jawab pria muda berbadan kecil.
Pulang dari kerja, Ayesa masuk ke kamarnya. Dia terkejut melihat kamarnya banyak barang Childith, dan tidak tahu barang-barangnya di mana.
Ayesa segera menuruni anak tangga. "Hei kamu, mengapa barangku hilang dari kamar?"
"Kamarmu dipindahkan ke kamar lain, sebaiknya banyak menerima kenyataan." Childith tersenyum mengejek.
"Aku tetap mau di kamar lamaku, harusnya kamu izin bila ingin melakukan sesuatu."
Monic menengahi pertengkaran tersebut. "Sudahlah Ayesa, kamu mengalah saja. Ayah kamu sudah sakit-sakitan, untuk apa kamu ikut sakit karena banyak pikiran."
"Aku mengalah bukan karena takut, mau dicurangi bagaimanapun juga,
yang menjadi milikku akan tetap kembali." Ayesa menyemangati diri sendiri, sengaja menunjukkan sifat optimis.
Bibi Aynun mengantar Ayesa menuju ruangan kamar barunya. Ayesa menemui kucing kesayangannya, yang sedang bermain bola.
"Kamu semakin hari berisi, bulu di badanmu juga lebat. Cutely, aku bertemu dengan orang yang aku suka. Tapi, pikiranku menolak perasaan ini."
Puk!
__ADS_1
Puk!
Menepuk lembut punggung Cutely, yang asyik bermain. Matanya berbinar menatap Ayesa, lalu berjalan ke pangkuannya.
Jarum jam terus berputar, tanpa terasa sekarang sudah pagi. Semua orang melihat, bahwa hujan turun dengan deras. Duu Arven menjemput Ayesa, untuk pergi bersama. Dia juga sekalian melihat kondisi presiden Zicko.
"Bagaimana kabar Paman Zicko?" tanya Duu Arven.
"Jenderal muda, keadaan sekarang tidak begitu baik. Tidak tahu mengapa sangat lemas." jawab Zicko.
"Bibi Ainun sudah menyiapkan makanan secara teratur 'kan?" tanya Ayesa.
"Sudah nona, bahkan obat asma sudah rutin diberikan." jawab Ainun.
"Apa mau aku antar ke rumah sakit?" Duu Arven menawarkan.
"Tidak perlu, aku cukup beristirahat di rumah saja." jawab Zicko.
"Kalian tidak perlu khawatir, nanti aku suruh dokter datang ke rumah. Dia tidak perlu repot-repot keluar, ada kami berdua yang mengurus." sahut Monic.
"Baiklah, Bibi Ainun bantu mengawasi mereka." Ayesa menunjukkan rasa tidak percaya, yang sangat jelas.
Apel pagi kantor militer Chenida dimulai, dengan baris-berbaris yang rapi. Duu Arven yang menjadi pembina apel, sementara Qairen baris di sebelah Ayesa. Dia menjadi pemimpin barisan, namun terus melempar senyuman. Tidak lupa kedip mata sekali, sambil memperhatikan penampilannya.
"Dih, berlagak keren. Bisa-bisanya semalam aku curhat dengan Cutely, bila aku menyukainya. Gila, aku mungkin perlu dibawa ke rumah sakit." Bergumam-gumam, tidak terdengar jelas di telinga orang di sampingnya.
__ADS_1