
Duckin masuk ke dalam ruangan Qairen, setelah kepergian Ayesa beberapa menit lalu. Duckin melihat tubuh Qairen, yang diperban berwarna putih. Tujuan Duckin hanya memberikan laporan penting, sekaligus bersenda gurau.
"Apa yang terjadi?" tanya Duckin.
"Hanya luka kecil." jawab Qairen.
"Aku sudah menyembunyikan koper, yang berisi uang di sebuah menara hutan. Tidak aku duga, bahwa ada uang negara Glowing. Jelas-jelas, mereka penduduk negara barat. Uang palsu mereka pun masih aku tahan." ujar Duckin.
"Kerjamu dan pasukan sangat bagus, jangan biarkan Duu Goval mengetahui." Qairen berbicara, tanpa menyadari Ayesa yang menguping.
Plok!
Plok!
"Ternyata, seperti ini caramu bertugas di belakang Ayah." Ayesa benar-benar marah besar.
"Asisten Ayesa, kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Kamu kira, apa yang telingaku dengar kesalahan?"
"Tidak, maksudku hanya pikiranmu yang salah tanggap."
__ADS_1
"Kamu itu cuma komandan tentara yang licik, jahat, menghalalkan segala cara untuk kepentinganmu sendiri. Sejak awal, kamu memang berencana. Mulai dari membantu Ayah tidak tulus, membantuku pun mungkin ada maksud lain. Jangan munafik, katakan sejujurnya." Tunjuk-tunjuk orang, yang dibencinya sejak awal.
Komandan Qairen memperlihatkan raut wajah kecewa. "Ternyata, aku hanya orang yang seperti itu di hatimu?"
"Jangan drama lagi, kamu tidak cocok menjadi komandan. Lebih baik menyerahkan diri saja, dengan begitu aku bahagia. Kamu mati di dalam penjara, akulah yang bertepuk tangan pertama kali." Ayesa marah menggebu-gebu, saat tahu kebohongan Qairen di belakangnya.
”Kenapa hatiku sakit sekali, saat Ayesa mengatakan demikian.” batin Qairen.
"Asisten Ayesa, aku akui aku memang menyembunyikan uang palsu diam-diam. Aku memang mengamankan uang negara, tanpa persetujuan dari wakil presiden Duu Goval. Namun apa kamu mengerti, aku melakukan ini semua demi kecintaan pada negara."
"Tutup mulutmu pengkhianat!"
"Apakah pepatah berbohong demi kebaikan, tidak berlaku untuk menyelamatkan negara di ujung tanduk?" Qairen mengeluarkan petuah lama, yang tidak asing di telinga.
Baru saja pulang dari kerja, malah harus meladeni sepupu dengki. Childith marah, karena Duu Arven mengantar Ayesa pulang.
"Aku akan menikah dengan jenderal muda, lalu membuat perhatian ayahmu terbang bagaikan debu." Childith tersenyum mengejek.
"Silakan, aku sangat menantikannya." jawab Ayesa, namun dia tidak yakin Childith berhasil.
"Kamu pulang diantar dengan gonta-ganti lelaki, benar-benar tidak ada harga diri."
__ADS_1
Ayesa tersenyum santai. "Diantar karena tidak bisa naik mobil, itu merupakan kecerdasan yang aku miliki. Memilih menumpang padahal memilki rumah, itu merupakan sebuah kebodohan." sindirnya.
"Yang kamu injak daun orang lain, apa tidak takut jatuh melayang?" sindir Childith.
"Tidak apa-apa, aku melayang pun banyak yang bersedia menemani." Ayesa tersenyum.
"Eh Kakak sepupu, jangan sombong begitu. Meskipun melayang ditemani, saat jatuh pun dibiarkan sendiri."
"Kamu yang bicara, jadi hanya berlaku untukmu. Aku rasa, selalu ada manusia yang ingin melindungi ku." Tersenyum bangga.
Pesta besar-besaran sudah diselenggarakan malam hari, membuat masyarakat bertanya-tanya. Ada pemberitahuan besar apa malam ini, sehingga presiden Zicko mengundang rakyatnya. Childith sudah mengenakan baju dress brokat, dan Duu Arven mengenakan jas lengkap dengan dasi. Malam itu mereka sama-sama terlihat bersinar, meski Duu Arven tidak tahu maksud acara itu.
"Ayo wakil presiden Duu Goval, silakan duduk di sana. Tuan besar sudah menunggu, bersama dengan Childith dan nyonya Monic." ujar Bhaling.
"Baiklah, ayo Duu Arven." Melihat ke arah putranya.
"Duu Arven, maksud Ayah ke sini ingin melamar Monic untukmu." ujar Duu Goval.
"Apa? Kenapa tidak memberitahu lebih dulu." jawab Duu Arven, tindakannya tampak menolak.
"Jenderal muda Duu Arven, putri dari pamanku sudah dewasa. Kalian pantas bersama, karena kamu pria muda yang lembut. Melihat sifat Childith yang keras kepala, pantas didampingi denganmu. Lagipula kalau terus di sini, dia sering bertengkar dengan Ayesa putriku." Zicko mengutarakan maksudnya.
__ADS_1
"Maaf Paman, aku tidak bisa." Duu Arven segera beranjak dari duduknya, meninggalkan mereka menuju lantai atas.