Military Sweet Love

Military Sweet Love
Menyelidiki Duu Goval Dan Monic


__ADS_3

Qairen sedang berada di bar, mengawasi Monic dan Duu Goval. Sudah kedua kalinya, Qairen memergoki mereka. Pertama saat di toko baju bersama Duckin, yang kedua sekarang mereka minum bersama. Berdasarkan laporan Duckin, mereka banyak dipergoki bertemu berkali-kali. Monic datang ke istana diam-diam, lalu berada dalam ruangan berdua. Selain itu mereka main kejar-kejaran di taman bunga. Makan di restoran siput tanpa mengajak Childith.


"Goval, kapan kita bisa berjaya di negara Glowing." Monic mencubit pipi Goval, dengan bicara setengah mabuk.


"Hahah... tunggu hasilnya saja. Bila saat itu tiba, orang yang pertama aku hubungi kamu." jawab Duu Goval.


Monic menunduk lalu mendekatkan dahinya pada dahi Duu Goval. "Menjodohkan Duu Arven dan Childith harus terwujud. Aku tidak sabar lagi, bisa setiap saat bersamamu."


"Sekarang juga bisa bersama." Duu Goval memandangnya, dengan mata berbinar-binar.


Qairen terus mengawasi dengan teliti. "Bibi Monic istri dari almarhum Paman Ayesa, tapi hubungannya dengan wakil presiden tampak tak biasa. Hal wajar si bila mereka berniat menikah, apalagi sekarang Tante Monic janda. Tapi tidak masuk akal, bila hanya sebatas ini. Mereka kenal sudah lama, dari ibunya Ayesa masih hidup."


Keesokan paginya, Ayesa sudah diantar sampai ke kantor militer Chenida. Sopir pribadi di rumahnya segera pergi, setelah menjalankan tugas dengan baik. Saat menapaki tangga, Qairen melihat kedatangan Ayesa.


"Hai asisten Ay, mengapa pipimu diplester?" selidik Qairen.


"Tidak sengaja dicakar kucing." Ayesa berbohong.


"Sudahlah, aku tahu nona tertindas di rumah." Qairen memancing Ayesa agar bercerita.

__ADS_1


"Komandan Qairen jangan asal tebak, aku bahagia di istanaku sendiri." Ayesa masih berusaha menutupi.


Qairen mendekat ke arah Ayesa, lalu melihat kedua matanya. "Aku melihat bukan kebahagiaan yang ada di hatimu, melainkan kamu sangat sedih. Hanya saja, kamu tidak mau orang-orang mengetahui." Tebakan yang tepat sekali.


"Sudah berlagak seperti peramal, menebak kehidupan orang lain sesuka hati." jawab Ayesa ketus.


Ayesa berlalu begitu saja, membiarkan Qairen berdiri mematung. Duckin mengajak Qairen berbicara berdua di ruangan. Duu Arven baru datang ke kantor, dan melihat Duckin berbisik.


"Komandan Qairen, aku sudah menyembunyikan uang palsu di gudang dermaga." Duckin melaporkan tugasnya.


"Aku harus melihatnya nanti, kita perlu memeriksa isinya." jawab Qairen.


”Kalau dipikir-pikir, komandan Qairen terlalu banyak pergerakan tersembunyi. Aku takut dia menyembunyikan fakta, lalu menyerang diam-diam. Diawasi juga lebih baik, daripada terlambat mengetahui niat sebenarnya. Dia membawa pasukan prajuritnya, yang belum ada nomor petugas resmi militer, mana bisa aku tenang. Dia berhasil diangkat komandan tentara karena menolong Ayah Ayesa, dan melihat kemampuannya barulah mendapat jabatan ini. Sejauh ini, dia hanya diperkenankan melatih kampus Chenida.” batin Duu Arven.


Duckin baru berbalik badan, sudah melihat Qairen berdiri depan pintu. "Tante Fifi ingin menemui komandan."


"Suruh dia ke ruangan ku." titah Qairen.


Tante Fifi masuk ke ruangan, sengaja pintu ruangan dibuka lebar. Kalau tidak, bisa menimbulkan kecurigaan.

__ADS_1


"Qairen, sebenarnya Tante ke sini minta kamu memberitahu informasi." ujar Fifi.


"Informasi mengenai diriku rahasia, kecuali Tante mau membayar mahal." Qairen mengajukan persyaratannya.


"Komandan tenang saja, uang enam puluh juta akan aku transfer tunai." Fifi mengedipkan mata, sambil tersenyum lebar.


"Selain komandan tentara, aku mempunyai bisnis di mana-mana. Jet pribadi pun bertengger di lapangan penerbangan. Setiap hari naik mobil, jika bosan naik motor. Semua gudang dermaga milikku seorang. Aku juga tampan dan keren, dengan usia masih muda 22 tahun. Bla... bla... " Membual parah setinggi langit.


"Wow... cocok menjadi suamiku yang kedua." ungkap Fifi.


Qairen tersenyum, merasa lucu sendiri. "Kekuranganku satu, dan ini tidak disukai banyak wanita."


"Apa?" Tante Fifi memutar dan menggulung rambut pirangnya, dengan jari-jari sendiri.


"Mengarang cerita seperti sekarang ini." Qairen tersenyum.


Ayesa mengintip, dan rasanya ingin muntah. Duu Arven muncul, berada di atas kepala Ayesa.


"Mari kita perhatikan dia, nanti berbuat macam-macam dengan Tante." Ayesa fokus, lalu menarik tangan Duu Arven.

__ADS_1


"Bukankah seperti ini tidak baik, ingin mengetahui privasi orang lain." jawab Duu Arven.


"Biarkan saja, dia sangat genit." Ayesa jadi ingin tahu lebih jauh.


__ADS_2