
"Berita yang beredar sudah tidak sedap didengar. Rakyat banyak membela komandan Qairen, karena dia hanya korban dari perilaku keliru Ayesa. Maka dari itu, aku memberikan wewenang untuk mengembalikan pasukan prajuritnya." Presiden Zicko mengutarakan maksudnya.
"Ah presiden Zicko berlebihan menanggapi isu tersebut. Aku yakin surat kabar menerbitkan berita, karena suruhan dari nona Ayesa." Duu Goval menebak sasaran.
"Namun, rakyat sibuk berdemo di mana-mana. Seolah kita menindas Qairen, bila terus memaksa keadaan." ujar Zicko.
"Iya sudah, aku akan mengembalikan mereka ke habitat semula. Lagipula, aku sangat merindukan prajurit setiaku." jawabnya.
****
Ponsel disita, dan semua alat komunikasi kantor terputus. Ajudan setia Qairen disuruh keluar, tidak boleh berkomunikasi. Mereka yang mengawasi pemeriksaan, takut ada kiriman telegram diam-diam. Ada sekitar lima orang yang memeriksa, bahkan bendahara pemerintah ikut turun tangan.
"Sambil menunggu di dalam, mari bermain-main." ajak Qairen.
"Boleh komandan Qairen, kami berdua bosan." jawab Adrim, sambil melirik Aziz.
Di tengah permainan baik-baik saja, namun tiba-tiba raja catur disenggol Qairen. Setelah jatuh di bawah meja kakinya menginjak dengan santai, lalu menendang ke arah kolong lemari.
__ADS_1
"Aduh, catur rajanya menghilang, tidak bisa kita lanjut main. Bagaimana bila Dipang keluar dulu, untuk membeli catur baru." Tersenyum santai, menyembunyikan rencana dalam hatinya.
"Komandan Qairen, jangan mencoba-coba berbuat curang. Sedang dalam tahap pemeriksaan, takutnya malah berbuat hal lain." jawab Dipang.
"Aku tidak begitu, bukankah ada jenderal muda Duu Arven yang mengawasi?" Berusaha menutupi maksud hati, dengan terlihat biasa saja.
"Tidak bisa, semua harus ikut mengawasi." jawab Dipang.
”Aku harus mencari cara, supaya mereka tidak mengawasi terus. Kalau seperti ini, gerak-gerikku bisa ketahuan. Wakil presiden Duu Goval yang kejam itu, sengaja merepotkan aku hari ini.” batin Qairen.
"Komandan Qairen, kamu terlihat resah. Apa jangan-jangan, memang menyembunyikan sesuatu?" selidik Dipang, dengan sindiran.
"Ini sudah kebiasaan, bila ada panggilan alam. Jika ingin buang air besar, maka ingin berjoget. Harap maklum, kalian menahanku begitu lama." Pura-pura memegangi perut.
"Komandan Qairen, jangan membuat ulah. Nanti malah tidak nyaman, karena semua orang memperhatikan. " ujar Micko.
Qairen lompat-lompat, masih berjoget dengan heboh. "Kalian terlalu banyak bicara, aku rasanya ingin jongkok di sini." Gerakan mencakar dinding, lalu gerakan-gerakan konyol lainnya.
__ADS_1
"Sudahlah, kalian mengalah saja. Biarkan dia ke toilet, aku yang akan mengawasi dari luar." sahut Duu Arven.
Qairen tersenyum. "Jenderal muda memang baik." Memuji, lalu berhenti bergerak.
Qairen diawasi sebatas depan pintu toilet, di dalam diam-diam membuka lubang udara. Qairen melihat ada ajudan setianya Duckin, namun berada pada posisi agak jauh. Qairen melihat tong sampah, lalu mengambil kaleng minuman.
"Maafkan aku, kali ini harus menghadiahkan dirimu kaleng." Tersenyum, merasa lucu.
Tangan Qairen sudah di lubang, lalu melemparkan ke arah Duckin. Lemparan ini harus hati-hati, supaya tepat sasaran.
"Aduh!" Duckin memegangi pipinya.
Dia teringat ucapan Qairen sebelumnya, gunakan teropong ke segala arah. Duckin melihat jarak jauh dengan jelas, ada Qairen yang melambaikan tangan di toilet tingkat atas.
Qairen memberikan kode dengan tangan, supaya Duckin memeriksa kaleng. Duckin segera pergi diam-diam, berpura-pura membuang sampah. Duckin membuka kertas tersebut, untuk menjalankan tugasnya.
"Uang Yuan barat yang disimpan pada gudang dermaga, harus segera dipindahkan secepatnya." Duckin menghubungi orang-orang suruhannya, sebelum wakil presiden Duu Goval sampai. "Kotak-kotak besar harus diangkut diam-diam, ke bagian yang lebih aman."
__ADS_1