Military Sweet Love

Military Sweet Love
Tidak Terima


__ADS_3

Duu Goval marah pada prajurit setianya, yang bekerja dengan tidak benar. Duu Goval mencengkeram kerah bajunya, sampai kedua bola mata melotot.


"Lebih baik, aku dengar kepalamu dipenggal, asalkan komandan Qairen mati. Kamu ini bagaimana si bekerja, memang tidak bisa dipercaya. Berbeda dengan ajudan Dipang, yang selalu menjalankan tugas dengan benar." ucap Duu Goval.


"Maaf wakil presiden Duu Goval, aku juga sudah berusaha mengarahkannya. Dia malah menyuruh pasukan prajurit yang duluan. Aku yakin, sehebat-hebatnya ajudan Dipang tidak mampu membunuh komandan Qairen." jawabnya, membanding-bandingkan.


"Komandan Qairen tidak punya seribu nyawa, dia juga manusia biasa. Apa hebatnya, hingga ingin melawanku." Duu Goval semakin geram.


"Iya sudah, artinya hidupnya sedang mujur." jawab prajurit tersebut.


"Kamu ini menjawab terus, pakai berkata nasibnya mujur lagi. Dia belum ketiban sial saja, makanya selamat secara kebetulan." Duu Goval membanting buku.


"Iya deh, terserah wakil presiden saja." jawabnya, yang mengalah.


Ayesa sedang menunggu Qairen, sambil bersandar di mobil. Dia sengaja berkaca terlebih dulu, lalu memoleskan lipstik. Bersamaan dengan itu, mobil pun melaju. Pipi Ayesa terkena sasaran polesan lipstik tersebut.


"Komandan Qairen, mengapa kamu tidak bilang kalau mau jalan." Ayesa menendang mobil Qairen.


Kaca mobil mulai turun, memperlihatkan wajah menyebalkan Qairen. "Hai asisten Ay, mengapa hari ini sangat cantik." Malah tersenyum dan tertawa sendiri. "Hahah... hahah..."


"Sudahlah, ayo pergi sekarang. Katanya ingin mengajak menonton layar tancap." ujar Ayesa, teringat ucapan tadi siang.

__ADS_1


"Iya, kali ini sedikit berbeda. Acaranya dilakukan di sebuah pantai." jawab Qairen.


Ayesa melihat Qairen yang sedang meraih ponselnya, yang berada di area yang tidak jauh dari kemudi. Ayesa masuk ke dalam, lalu Duckin melanjutkan laju perjalanannya.


Duckin yang duduk di kursi penonton paling depan heboh. "Eh lihat, itu ada tema perang."


"Kesempatan untuk melihatnya dengan seksama." jawab Qairen.


Pistol menyerang dari arah berlawanan, untuk mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Ayesa merasa sedikit tegang, padahal hanya drama semata.


"Ayo dong, cepat berlari ke semak." Ayesa heboh sendiri, menepuk telapak tangannya.


Qairen menoleh ke arah Ayesa, sambil senyum-senyum. "Dih, senang sekali kamu dengan tindakan tentara itu."


"Kalau kamu memang suka dengan Jenderal muda, kenapa tidak cetak poster gambar dirinya. Lalu kamu tempel di ruang kamar, apa perlu peluk sambil tidur." jawab Qairen, dengan sewot.


"Saran yang bagus, terima kasih." Ayesa tersenyum sambil menyipit, sebenarnya geram. Kalau bisa, ingin cubit ginjal orang di sebelahnya.


"Aku terlalu mahal, tidak menerima ucapan terima kasih. Bahkan kuku dari jariku ini, bisa membuat harta negara bangkrut jika ingin membelinya." Qairen membenarkan kerah baju, mulai kumat narsis lagi.


Setelah selesai menonton, Ayesa dan Qairen duduk berduaan. Mereka menatap laut yang sedang bergemuruh ombak, sambil bercerita tentang penyu yang ada dalam pasir.

__ADS_1


"Dia suka menyembunyikan telur di sana." ujar Ayesa.


"Dia mengamankan anaknya, supaya tidak ada yang membunuh." jawab Qairen.


"Tidak akan ada yang membunuhnya, kecuali kamu yang jahat." ucap Ayesa datar.


"Aku tidak suka membunuh calon penyu, hanya suka mempermainkan induknya. Kalau aku ambil telurnya, pasti penyu banyak mikir."


Qairen memasak sup tulang sapi, lalu meletakkan mangkuk di atas meja. Tidak jauh dari sana, ada Ayesa yang masih santai rebahan.


"Tercium bau wangi, masakan apa ini?" tanya Ayesa.


"Ini namanya sup tulang sapi ala Qairen. Harus dicoba sekarang juga." jawab Qairen.


"Bagus, kalau disediakan aku akan menghabisinya sekarang." ujar Ayesa, dengan bersemangat.


"Ini bentuk penghargaan tidak terlupakan, harus kamu ingat dengan baik." jawab Qairen.


Ayesa mulai menyendok kuah dan daging sapi, benar-benar meresap bumbunya. Ayesa mengunyah dengan perlahan, sampai perutnya memberi perintah.


"Aku heran, mengapa komandan Qairen menyiapkan ini semua?" tanya Ayesa.

__ADS_1


"Aku hanya bosan di asrama." jawab Qairen, dengan jujur.


Ayesa hanya manggut-manggut, namun masih menyeruput air sup. Katanya sudah kenyang, namun masih lanjut makan.


__ADS_2