
Duckin mendekat ke arah Qairen. "Eh, surat kabar sudah mulai menerbitkan berita. Sebentar lagi, wakil presiden Duu Goval akan kalah." ujarnya.
"Dia belum kalah, masih banyak memiliki poin penting. Kalau pun ada yang bisa diambil, hanya para prajurit ku saja." jawab Qairen lirih.
"Biarlah, komandan harus senang sedikit dia berjaya. Sebentar lagi dia akan terguling, karena sudah mencurangi rakyat." ucap Duckin.
Qairen tersenyum, sambil menepuk-nepuk pundak Duckin. "Benar, ucapan kamu sungguh benar. Hanya butuh beberapa trik cerdas, untuk mengikuti permainan Duu Goval."
Tidak butuh waktu lama, sudah banyak protes dari para prajurit Duu Goval. Mereka tidak betah tinggal di asrama, karena masakan Duckin selalu tidak enak. Bahkan pagi ini juga sangat asin rasanya, membuat lidah tidak dapat menelan sayur tersebut.
"Ajudan Duckin, mengapa kamu sangat pelit. Kami sangat ingin makan ayam, daripada makanan sederhana seperti ini." protes salah satu prajurit.
"Harusnya kalian tahu, bahwa komandan Qairen bukan orang kaya. Bila kalian ingin makan enak, maka ikut dengan wakil presiden Duu Goval saja. Dari sebelum kalian tinggal di sini, kami sudah terbiasa hidup sederhana." Duckin tersenyum ke arah mereka.
Sementara di sisi lain, prajurit setia Qairen sibuk menanam sayur. Duu Goval memang tidak peduli pada orang lain, sehingga disuruh mengerjakan sesuatu secara berlebihan. Makan juga lauk sambal terasi, dan hanya diberi ikan asing goreng saja.
"Aku rindu dengan komandan Qairen, karena dia sangat baik. Walau pun aku sering mendengar kalimatnya yang narsistik."
__ADS_1
"Sama, aku lebih betah di sana. Namun, kita di sini atas titah komandan Qairen juga."
Ajudan Dipang tiba-tiba muncul, mendengar percakapan mereka. Lama-lama bosan juga, karena mereka membahas Qairen terus-menerus.
"Mengapa kalian tidak berlindung di bawah ketiaknya saja. Setiap hari yang dibahas dia dan dia." ucap ajudan Dipang, dengan spontan.
"Aku berlindung di bawah ketiak juga tidak mungkin, kami disuruh mengikuti wakil presiden Duu Goval yang mulia." jawabnya.
Pada siang harinya, kantor militer Chenida kedatangan wakil presiden Duu Goval, bersama dengan para prajurit. Qairen merasa senang, bisa berjumpa dengan bawahannya lagi. Namun sedikit sedih, karena sebagian para prajuritnya bertambah kurus.
"Apa kabar kalian semua?" Qairen bertanya, dengan raut wajah sumringah.
Duu Goval tersenyum, sambil menahan jengkel. "Aku mendengar, bahwa ada helikopter yang lepas landas di atas udara. Kira-kira, komandan Qairen telah melakukan apa?"
"Aku tidak tahu apa-apa, aku saja berada di rumah sakit. Bila tidak percaya, tanyakan saja pada ajudan Nhanas." jawab Qairen.
Tidak lama kemudian, muncul para mahasiswa kampus militer Chenida. Ditambah lagi kehadiran Micko, dan juga Duu Arven. Qairen paham, bahwa ada maksud lain Duu Goval. Namun dia berusaha tenang, supaya di akhir bisa menang.
__ADS_1
"Kenapa komandan Qairen? Takut iya, bila gudang bandara diperiksa?" Duu Goval tersenyum mengejeknya.
"Apa yang bisa ditakutkan, aku tidak berbuat pelanggaran." jawab Qairen, dengan santai.
"Senjata negara barat kali ini, pasti ditemukan di area sekitar. Dimohon untuk tidak terlalu gugup iya." ujar Duu Goval.
"Yang aku takutkan, wakil presiden hanya baru menduga saja. Sungguh malu, bila tidak ada apa pun." Qairen tetap terlihat santai, padahal hatinya tidak tenang.
Qairen dikurung dalam sebuah ruangan, sampai tahap pemeriksaan selesai. Duu Arven heran melihat Qairen tertawa-tawa sendiri, padahal tidak ada yang lucu. Qairen seperti orang frustasi, memukul-mukul meja dengan kayu kecil.
"Ada apa denganmu komandan Qairen, kamu masih waras 'kan?" tanya Duu Arven.
"Tenang, aku hanya merasa terharu." jawab Qairen, yang puas mengerjai Duu Goval.
Beberapa jam kemudian, Duu Goval telah kembali. Para prajurit setianya ikut kesal, karena capek-capek ke bandara tidak menemukan apa pun.
"Komandan Qairen, hari ini kamu berhasil lolos. Tapi tidak tahu selanjutnya, aku tidak ada jaminan." ujar Duu Goval.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku pasti selalu menang." jawab Qairen.