Military Sweet Love

Military Sweet Love
Mengikuti Diam-Diam


__ADS_3

Ayesa mengikuti Qairen diam-diam, lalu bersembunyi di balik tembok, saat Qairen menoleh ke belakang. Qairen tahu ada yang mengikutinya, jadi dia segera mempercepat langkahnya.


"Tidak boleh kehilangan jejak, harus cepat melangkah." Ayesa ikut berjalan cepat.


Disaat bersamaan siswi sekolah dasar lewat, dan Qairen menghentikan langkahnya. Qairen menoleh ke belakang, dan Ayesa sudah berhasil merebut tas anak itu.


"Tolong, ada pencopet!" teriaknya lantang.


"Kurang asam kamu Dik, aku sengaja bersembunyi malah memancing perhatian." Ayesa berlari tunggang langgang.


Qairen segera berlari mengejar perempuan, yang menggunakan tas di kepala. Ayesa melangkah ke kanan ragu, beralih ke kiri bingung.


"Aduh, aku harus ke lorong yang mana." monolog Ayesa.


Ayesa akhirnya memilih lurus saja, sampai bertemu Qairen menghadang di depan. Ayesa memilih putar balik, dan masuk ke area permainan. Ayesa melemparkan tas sembarangan, lalu bergabung dengan anak-anak yang bermain kelereng.


"Kakak, kamu sudah besar mengapa bermain ini?" tanya anak perempuan kuncir dua.


"Aku yang menyuruhnya menemaniku." Qairen tiba-tiba muncul.


Ayesa melihatnya sampai membuka mulut lebar, dan mata juga melotot. Dia benar-benar malu, karena ketahuan mengikuti.


"Aku tahu, siapapun senang melihatku. Sudahlah, mengaku saja bahwa kamu terpesona?"


Ayesa langsung berdiri. "Dih, narsis overdosis. Komandan otaknya eror."


Qairen berbicara, sambil terus berjalan. "Aku ingin terus berputar-putar, melangkah dengan santai ke sembarang arah. Bagaimana mungkin, bisa memergoki asisten Ay. Padahal aku baru melihat mata-mata, sungguh kebetulan sekali."

__ADS_1


"Sinting apa dia, tidak mau mengalah. Jelas-jelas aku ini perempuan, harus diberikan kemenangan." Mengomel, namun terdengar jelas.


Sementara di sisi lain.


"Tuan besar, sekarang komandan Qairen sudah mendapatkan nomor resmi militer untuk pasukannya. Lewat nona Ayesa, pasukan prajuritnya dengan mudah naik jabatan." ajudan Dipang mengadu.


"Hahah... setidaknya hubunganku jauh lebih baik, daripada hubungannya dengan presiden Zicko. Mulai hari ini, aku akan merubah UU no.74 pasal 2 yang menegaskan kekuasaan kita secara halus."


"Pintar juga pikiran tuan besar, aku akan segera mengirim telegram pada presiden Zicko."


"Lakukanlah sekarang."


Sampai di rumah istana, Dipang melihat presiden duduk. Bhaling sangat setia menemaninya, yang ingin menghirup udara segar. Dia bosan terkurung dalam kamar, dengan keadaan sakit-sakitan.


"Presiden Zicko, wakil presiden Duu Goval meminta anda menyetujui surat penerbitan hukum terbaru. Ini akan diumumkan pada negara Glowing. Semua langkah sekarang, masih perlu persetujuan dari presiden."


"Dia bilang, cukup dirinya yang mengawasi perbatasan. Pasukan di tangannya juga banyak." jawab Dipang.


"Apa yakin dia sanggup?"


"Jangan meremehkan, dijamin negara aman." Dipang berbohong.


Kembali ke kantor militer juga, setelah kepergok dengan Qairen. Ayesa merasa malu, karena Qairen tahu apa yang dipikirkannya. Inginnya mengawasi tanpa ketahuan, tapi malah terlihat dengan jelas.


"Asisten Ay, jangan suka diam-diam lagi. Sudah ketahuan, harusnya tidak bersembunyi." ucap Qairen.


"Aku tadi hanya ingin memberitahu, namun komandan Qairen sangat sibuk. Hal wajar, bila menunda niat ingin bicara." alibi Ayesa.

__ADS_1


"Katakan, bila kamu ingin bilang cinta sama aku." Qairen bicara spontan.


"Hmmm... bisa-bisanya berpikiran seperti itu." jawab Ayesa.


Sore hari, mata-mata Duu Arven memberitahukan informasi yang dilihatnya. Ajudan Nhanas menyampaikan, apa yang telah dikatakan pasukan prajurit.


"Ajudan Duckin dan komandan Qairen hanya makan di restoran, lalu setelahnya mereka pulang." ucap Nhanas.


"Kok aku merasa ada yang aneh iya." jawab Duu Arven.


"Mata-mata selalu mengikuti mereka, tidak kurang satu detik pun juga." ujar Nhanas.


"Baiklah, kita harus tangkap mereka, di waktu yang tepat." jawab Duu Arven.


Lungdon sedang membaca buku dengan santai, lalu Darkwin menghampirinya. Telegram dari Duu Goval sudah meluncur sampai ke meja kerjanya.


"Wakil presiden Duu Goval ini, berani-beraninya bermain denganku." gerutu Lungdon.


"Kalau main-main, kita singkirkan saja." jawab Darkwin.


"Sepertinya belum bisa dilakukan sekarang, kita masih memerlukan bantuannya." Lungdon meletakkan surat rahasia militer tersebut.


"Iya sudah, manfaatkan selagi berguna." jawab Darkwin.


"Aku hanya ingin menguasai pulau pasir, bagaimanapun caranya."


"Sertifikat wilayah minta saja padanya, dia termasuk berkuasa." Darkwin mengusulkan idenya.

__ADS_1


__ADS_2