Military Sweet Love

Military Sweet Love
Jatuh Dari Balkon


__ADS_3

Duu Arven melihat Ayesa yang berdiri di teras, entah mengapa tidak ikut keluar. Ayesa sedang berdiri, memegang kucing kesayangan sambil mengelus lembut tubuhnya.


"Ayesa!" panggil Duu Arven.


"Hah, ada apa ke sini? Bukankah ini acara lamaran kamu dan sepupuku?" Ayesa malas menyebut kata sepupu, tapi tetap saja itu kenyataannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan, ini penting sekali." ujar Duu Arven.


Ayesa tersenyum. "Mendadak sekali, katakan saja." Masih santai.


Duu Arven memberanikan diri menyatakan perasaan. "Ayesa, sebenarnya yang aku sukai adalah kamu. Sudah lama aku memendam perasaan, aku rasa sekarang waktu yang tepat memberitahumu."


Childith tiba-tiba muncul, dan mendengar hal tersebut. Dia marah besar pada Ayesa, lalu mendorongnya dengan kasar. Kucingnya sampai melompat, dan Ayesa terjatuh dari balkon.


"Aaa!"


"Ayesa!" Duu Arven berteriak panik, sambil melihat ke bawah.


Childith tersenyum melihat insiden tidak disengaja tersebut. ”Mati sekalian kamu Ayesa, mampus! Selalu gagal ingin membunuhmu, membuatku semakin membencimu.”


Qairen baru saja keluar dari mobil bersama Duckin, dan segera berlari dengan cepat ketika melihat Ayesa melayang. Akhirnya berhasil menangkap Ayesa, meski itu mendadak sekali. Tanpa sengaja, kepalanya membentur tumpukan ranting.


"Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Qairen.


"Aku tidak apa-apa. Tapi kepalamu sedang terluka, mengapa masih melindungi ku." jawab Ayesa.


"Tidak mungkin membiarkan perempuan cantik sepertimu mati sia-sia." ujar Qairen.

__ADS_1


"Dih, sempatnya tebar rayuan disaat seperti ini." Ayesa membantu Qairen berdiri.


Duu Arven berlari ke bawah, untuk melihat keadaan Ayesa. Childith mengambil sapu ijuk, yang ada di ruangan keluarga. Childith hendak memukul Ayesa dengan sapu ijuk yang dibawanya, lalu tangan Qairen dan Duu Arven menangkis bersamaan. Childith semakin marah menggebu-gebu, melihat mereka berdua seolah memperebutkan Ayesa.


"Kalian demi perempuan seperti dia, beraninya berebut di depanku. Kalian terlihat sangat rendahan, bukan laki-laki sejati." Childith berusaha menarik sapu.


"Membelanya tidak membuatku malu. Namun membelamu, membuatku ingin mengubur sekujur jasad." jawab Qairen.


"Hei komandan Qairen, atas dasar apa kamu bicara seperti itu?" Melepaskan gagang sapu, yang dipegang erat.


Qairen tersenyum mengejek. "Karena kamu tidak sadar diri."


"Childith, kamu kekanak-kanakan sekali. Jelas-jelas kamu yang menindasnya, malah mengelak dan membela diri." sahut Duu Arven.


"Jenderal muda, kamu jangan berpaling dari penilaian sebelumnya. Saudara sepupuku ini semena-mena, karena ini rumahnya." Childith melempar kesalahan, untuk cari perhatian.


"Benar kamu mengenalnya, tapi semua kebaikannya palsu." Childith berusaha menyudutkan.


Zicko segera menghampirinya, saat mendapatkan informasi dari pengurus rumah. "Childith, bagaimana mungkin kamu mencelakai saudara sepupu kamu sendiri. Selama ini Paman kira, kamu tidak akan ceroboh seperti ini."


"Paman, aku benar-benar tidak sengaja mendorong Ayesa. Aku cemburu karena jenderal muda mengungkapkan perasaan padanya. Aku benar-benar khilaf, maafkan aku." Pura-pura merasa bersalah.


"Masih bisa bilang tidak sengaja, ini nyawa bukan boneka nona." Qairen ikut bicara.


"Komandan Qairen orang asing, tidak diberi hak mengungkapkan pendapat." Childith tidak mau mengakui kesalahannya.


Duu Goval ikut menyahut. "Childith, kamu tenang saja. Hari ini, lamaranmu dan jenderal muda akan digelar." Mencekal tangan putranya.

__ADS_1


"Terima kasih tuan besar Duu." jawab Childith.


"Ayah, aku tidak mau." Duu Arven berbisik.


"Kamu tidak diberi pilihan untuk menolak." jawab Duu Arven.


Presiden Zicko berdiri di atas panggung mimbar, mengumumkan acara lamaran tetap diselenggarakan. Ini semua permintaan Duu Goval, agar tidak menjadi berita gempar depan masyakarat. Tidak jadi melakukan sesuatu hal besar, pasti mempermalukan wajah presiden yang terhormat.


"Silakan tukar pasang cincin, untuk pasangan tunangan." ujar Duu Goval.


"Ayo, ayo, kami menantikannya." para prajurit dan penonton ikut bahagia.


Plok! Plok!


Suara tepuk tangan riuh dari penonton, saat Duu Arven membuka kotak berwarna merah. Childith tersenyum puas, saat cincin melingkar pada jari manisnya. Duu Arven memasang raut wajah datar, karena Childith bukan perempuan yang diinginkannya.


"Jenderal muda, untuk kedepannya aku tidak ingin kamu bersama Ayesa." Childith mengutarakan keinginannya.


"Childith, kamu jangan mengaturku. Aku dan Ayesa sudah berteman sejak kecil." jawab Duu Arven.


"Tapi, kita sudah bertunangan." Childith mengungkit status sekarang.


"Jika presiden Zicko dan Ayah tidak memintaku dengan raut wajah memohon, apa kamu pikir aku akan bersedia melakukan ini? Tentu saja tidak, karena hatiku hanya untuk Ayesa." jawab Duu Arven.


Sesampainya di rumah, tidak bicara apapun. Duu Arven segera masuk kamar, lalu meraih bingkai foto ibunya. Tanpa terasa dia menangis diam-diam, menyimpan rindu mendalam pada almarhum.


"Ibu, jika Ibu masih ada, aku mungkin tidak melewati rasa sedih sendirian. Aku sungguh merindukan Ibu, sebelum pada akhirnya Ibu pergi selamanya." Duu Arven mengusap cairan, yang sempat menetes pada foto.

__ADS_1


__ADS_2