Military Sweet Love

Military Sweet Love
Makan Bakso Diam-Diam


__ADS_3

Tengah malam, Qairen mengadakan rapat diam-diam. Kebetulan sekali, ajudan Nhanas sedang keluar dari area militer. Dia sedang mendapat tugas bersama pasukannya, untuk membantu wilayah perbatasan utara negara Glowing. Di sana terjadi pemberontakan, oleh para penjahat bertopeng.


"Uang Palsu ini dibakar saja, karena melakukan pemeriksaan tidak ada gunanya. Duu Goval pasti berusaha menghalangi kita, karena dia yang berkuasa sementara di seluruh wilayah negara." Qairen sudah memikirkan hal ini, dan hanya satu cara jitu.


"Baiklah, cara ini bagus juga dalam menghilangkan jejak. Daripada ditimbun, kemungkinan untuk ketahuan masih ada." jawab Duckin.


"Namun tetap berhati-hati, jenderal muda mengawasi kita." ujar Qairen.


"Aman, seperti biasanya aku akan mengecoh mereka." jawab Duckin.


Steffy sudah pulang ke penginapannya sendiri, yang tidak jauh dari kampus Chenida. Adrim tiba-tiba muncul, sambil memberikan bunga padanya.


"Steffy, aku punya bunga untukmu." ucap Adrim.


"Aku ini masih hidup, mengapa diberi bunga terus menerus." jawab Steffy.


"Kalau gitu, aku beri kamu cokelat mau?" Pakai acara nanya lagi.


"Terserah, namun aku ingin istirahat sekarang. Kamu dimohon segera pergi, oleh Dokter Steffy secara hormat." Steffy berjalan gontai, lalu menutup pintu kosannya.


Keesokan paginya, Duu Arven sudah ada di kantor militer Chenida. Dia harus mengawasi gerak-gerik Qairen, karena belum bisa dipercaya. Dia terlalu misterius, setiap melakukan sesuatu.


"Paman Samin meminta komandan membantunya, untuk mengirim senjata ke negara barat. Dia butuh untuk menyerang musuh-musuhnya." Duckin memberikan laporan dengan berbisik.


"Setahuku, senjata negara tidak boleh dikirim ke negara barat. Bahkan para perusahaan persenjataan, sudah membuat janji dengan presiden Zicko." jawab Qairen.


"Aku mempunyai ide, bagaimana bila pergi ke sebuah toko khusus yang menjualnya. Aku yakin, toko yang tidak terlalu besar, tidak mendapat pengawasan terlalu ketat." jelas Duckin.


"Baiklah, kamu atur saja mana baiknya." jawab Qairen.

__ADS_1


Makan siang kali ini, Qairen mengajak Ayesa ke sebuah kedai. Tidak terlalu mewah, namun tidak duduk lesehan juga. Qairen memesan makanan, lalu Ayesa serta Duckin duduk manis. Mereka bermain tebak-tebakan, untuk menghilangkan jenuh.


"Tenda biru sama dengan terpal." Duckin mulai duluan.


"Alamat palsu sama dengan kesasar." Ayesa lucu, dengan kalimatnya sendiri.


"Merebut suami orang, sama dengan pelakor." Duckin menyebutkan perumpamaan, tepat sasaran.


"Pencuri sama dengan sembunyi." jawab Ayesa.


"Tidak bisa asisten Ay, kata itu lumayan berbeda makna. Intinya nona harus dihukum, karena kalah debat." Duckin bertepuk-tepuk tangan kegirangan.


"Merebut istri orang sama dengan pebinor." Qairen tiba-tiba muncul, sambil senyum-senyum. "Aku mewakilinya, kasian kalau kalah pasti menangis."


Ayesa cemberut, lalu mencubit lengan Qairen. "Komandan Qairen tidak bosan menggangguku, setiap hari ada di mana-mana."


Qairen mendekatkan wajahnya ke arah Ayesa, sambil tersenyum tulus. "Asisten Ay, semenjak ada kamu suasana kantor militer semakin ramai."


Bakso sudah datang, mereka dipersilakan makan oleh pelayan. Ayesa makan dengan perlahan-lahan, dan biasa saja. Saat mata Qairen sengaja menoleh ke arahnya terus menerus, itu membuat tangan Ayesa bergemetar. Sendok jatuh ke roknya, sampai kuahnya tertumpah.


”Ini semua karena komandan Qairen, mengesalkan sekali tatapan menyebalkannya itu.” batin Ayesa.


Ayesa beranjak dari duduknya dengan gugup. "Aku mau ke toilet dulu."


Qairen melambaikan tangan dengan santai. "Selamat tinggal, jangan lupa kembali." Masih senyum-senyum sendiri.


Duckin termenung, menikmati peran obat nyamuk. "Kalian berdua memang serasi iya."


"Dih, baru sadar kamu." Qairen mengeluarkan cermin di sakunya. "Keren sekali aku, rambut juga rapi. Ah, memang pantas bersama asisten Ay."

__ADS_1


"Melihat komandan Qairen mulai kumat, aku tarik deh ucapanku tadi."


Qairen menyendok bakso di mangkuk Ayesa. "Mana bisa begitu, ucapan adalah doa."


"Baiklah, doaku menyertaimu." Duckin mengalah.


Ayesa sudah kembali dari toilet, dan melihat mereka berdua. Ayesa duduk di kursi, yang ditempati sebelumnya.


"Ajudan Duckin, siapa yang mengambil baksoku?" Ayesa melihat bakso dalam mangkuknya berkurang.


"Cuma perasaan asisten Ay saja kali, dari tadi juga segitu." jawab Duckin.


Ayesa makan satu sendok kuah mie, lalu berhenti sejenak karena mendengar ponsel berbunyi. Ternyata pesan dari Duu Arven, yang mengajaknya ingin bertemu. Ayesa membalas pesan, dan Qairen mengambil bakso diam-diam.


"Asisten Ayesa, kalau makan jangan main-main." Duckin sengaja memancing Ayesa agar cepat menoleh, sambil tersenyum menyebalkan pada Qairen.


Ayesa menoleh ke arah mereka berdua secara bergantian. Ayesa lebih heran dengan Qairen, karena pipinya mengembung. "Kenapa pipimu, seperti orang ditonjok badut."


Qairen hanya menggeleng tidak seperti biasanya, membuat Duckin tidak bisa menahan tawa.


"Hahah... Hahah..."


"Kamu kebiasaan mengikuti komandan Qairen, wajar ketularan tingkah sintingnya." Ayesa merasa sebal, melihat mereka tidak jelas.


Ayesa melihat ponselnya lagi membalas pesan, lalu Qairen mengunyah makanan dengan cepat. Saat Ayesa menoleh dia berhenti, dan mulutnya diam.


"Komandan sekarang mulai bisu iya?" tanya Ayesa.


Duckin menjawab sambil menahan cekikikan. "Dia sakit hati, sampai tidak bisa bicara."

__ADS_1


Duckin senyum-senyum sendiri, sepanjang menghabiskan makanannya. Dia tidak menghiraukan, yang terjadi pada Qairen.


__ADS_2