
Ayesa dan Duu Arven berbicara empat mata dalam ruangan, supaya tidak ada yang mendengar pembicaraan mereka. Hari sudah menjadi pagi yang cerah, rasa canggung menyelimuti hati Duu Arven. Kejadian di balkon semalam, membuatnya tidak dapat jawaban dari Ayesa.
"Sudah mencurigai dia berkali-kali, namun saat diperiksa selalu tak sesuai harapan. Apa laporan ajudan Dipang ada yang salah?" Ayesa berbicara serius, dengan Duu Arven.
"Ayesa, sebenarnya aku hanya mengalah saja. Kita mengotot juga, tidak ada gunanya. Meskipun hatiku yakin, komandan Qairen menyembunyikan sesuatu." jawab Duu Arven.
"Jenderal muda, aku lebih mempercayai kamu. Kita berteman sudah lama, sejak kecil selalu bersama. Sedangkan komandan Qairen pun baru mengenal sekarang. Namun, kalau benar-benar ada niat jahat, kita harus menangkapnya bersama-sama." Ayesa sengaja berbicara hal ini, agar Duu Arven memergoki dengan sendirinya.
"Aku tidak tahu, ada niat apa dalam hatinya. Sampai saat ini, yang membuat tidak masuk akal hasil pemeriksaan. Kalau dia mau memberi hadiah pada teman kencannya, dia tidak perlu menyewa gudang dermaga. Bukankah itu merepotkan diri sendiri, kecuali barang- barang itu terlarang?" Duu Arven masih bertanya-tanya.
"Nah, itu juga yang aku pikirkan. Semakin dibuat-buat masuk akal, pasti ada terselip perbuatan curang di belakang." Ayesa menyipitkan mata menunjukkan curiga yang besar, padahal dia sudah tahu.
"Kalau soal ini, serahkan saja padaku. Aku akan lebih mengawasi pergerakan Qairen."
”Maafkan aku jenderal muda, aku mengkhianatimu kali ini. Berani-beraninya aku bermain api, dan bekerjasama diam-diam dalam hal kejahatan. Setelah jenderal muda tahu, tidak ada lagi detik pertemanan untuk kita. Tapi setidaknya, aku sekarang memberitahumu tidak langsung.” batinnya.
"Coba jenderal muda selidiki dia, selama dua puluh empat jam." Ayesa bermaksud menjebak Qairen.
"Benar, seharusnya sedetik pun aku tidak boleh lengah." Duu Arven menerima saran baik Ayesa. "Oh iya, bagaimana dengan jawaban semalam?" Mengingat saat mengungkapkan perasaan.
"Aku tidak menyangka, kalau jenderal muda memiliki perasaan lebih dari teman. Selama ini aku tidak memikirkannya, lagipula jenderal muda sudah bertunangan dengan Childith." jawab Ayesa.
__ADS_1
"Ayesa, itu semua permintaan ayahku. Namun jika kamu bersedia, aku akan membatalkannya kemudian." ujar Duu Arven.
"Maaf jenderal muda, aku hanya menganggap kamu sahabat ku. Selamanya kita hanya di batas ini, tidak bisa lebih dari itu. Kamu di hatiku, seperti seorang Paman." jawab Ayesa.
Qairen mendengar percakapan mereka, tidak disangka Ayesa akan berbuat demikian. "Dia mempengaruhi pikiran jenderal muda, supaya mengawasi aku. Aku harus berhati-hati dengan asisten Ay." Bergumam-gumam.
Qairen bersembunyi, saat Ayesa sudah keluar dari ruangan. Lalu setelahnya berjalan ke ruangan sendiri, dan Ayesa sudah berada didekat tempat kerjanya.
"Ada apa mencari ku?" tanya Qairen.
"Aku ingin memberikan surat resmi pengangkatan pejabat militer, untuk para pasukan prajuritmu." Ayesa meletakkan kertas, di meja Qairen.
"Asisten Ay tiba-tiba baik, tidak ada maksud lain?" Qairen berjalan mendekatinya, melihat Ayesa dari dekat.
"Tersisa tiga hutang budi lagi." Qairen mengingatkannya.
"Aku mencatatnya baik-baik dalam pikiranku." Ayesa segera keluar, dari ruangan Qairen.
Duckin memberikan surat resmi militer, yang sudah terdapat tandatangan dari Zicko. Para pegawai pemerintahan memberikan nomor militer, dan Duckin senang bisa ikut berperang. Sekarang mereka tidak terlalu was-was lagi, jika ingin membasmi kejahatan di negaranya.
Duu Arven hari ini pergi melatih kampus Chenida, sekalian ingin bertemu sahabat karibnya. Adrim dan Aziz lebih bersemangat, karena ada jenderal muda Duu Arven. Mereka berdua mengangkat kayu balok, sambil senyum-senyum sendiri. Berikutnya, mereka berlatih memanah tepat sasaran. Duu Arven dan semua mahasiswa istirahat, untuk makan siang setelahnya.
__ADS_1
"Apa jenderal muda terlalu senggang, hingga datang ke kampus?" tanya Adrim.
"Aku hanya ingin melatih kalian." jawab Duu Arven.
"Raut wajah jenderal muda tidak begitu baik, apa ada yang mengganggu pikiran?" tanya Aziz.
"Ayesa menolak pernyataan cintaku." jawab Duu Arven.
Instruktur Pango tiba-tiba datang, sambil membawakan semangkuk sup sayur. "Jenderal muda datang sendiri, di mana ajudan Nhanas?" Memberikan makanan tersebut pada Duu Arven.
Tangan Duu Arven mengambilnya. "Terima kasih. Dia sedang di kantor militer Chenida, mengawasi komandan Qairen." jawab Duu Arven jujur.
"Memangnya dia kenapa?" tanya Adrim.
"Dia menjabat sebagai tentara, karena diangkat oleh presiden Zicko. Ayahku menyuruh menyelidiki hal ini, daripada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." jawabnya.
"Benar juga, terkadang hal mendadak sudah direncanakan jauh-jauh hari." Aziz menduga saja.
"Namun, semua tentara sudah melewati sumpah suci." Instruktur Pango mengutarakan isi pikirannya.
"Siapa yang tahu hati orang, bahwa dia tetap berniat mengkhianati negara sendiri." ujar Duu Arven.
__ADS_1
"Mengkhianati negara, sama saja mencari mati." jawab instruktur Pango.
Steffy mendengar percakapan mereka, tidak sengaja dia lewat. Steffy mengambil sebuah daun, untuk direbus di dapur. Brotowali adalah tumbuhan pahit, yang berguna untuk memperkuat daya tahan tubuh.