Military Sweet Love

Military Sweet Love
Kompres Air Hangat


__ADS_3

Ayesa tidur setelah pulang dari makan malam, matanya sudah sangat mengantuk. Dia tidak menyadari saat seseorang mengetuk pintu. Qairen akhirnya masuk saja, membawakan kompres air hangat.


"Oalah, ternyata sudah tidur dia." monolog Qairen.


Saat Qairen hendak pergi, malah Ayesa memanggil namanya. Saat Qairen menoleh ke belakang, Ayesa masih memejamkan mata. Qairen sudah berniat melangkah keluar, namanya malah dipanggil berulang kali.


"Ini anak bermimpi atau mengigau? Jangan-jangan, nona Ayesa sering memikirkan aku." Qairen menduga saja.


Ayesa menarik punggung Qairen tiba-tiba, hingga tubuhnya jatuh menindih Ayesa. Beruntung Qairen menahan diri, jadi tidak sampai memeluknya. Ayesa tiba-tiba menarik kepala Qairen, hingga bibir menyentuh dahinya.


"Nona, jangan memancing aku seperti ini." Qairen merasakan dadanya berdebar-debar, bahkan sekarang menggila tidak karuan.


Ayesa tiba-tiba terbangun, lalu terkejut. "Dasar mesum! Mendorong Qairen hingga terjerembab ke lantai.


"Nona Ayesa, kamu sangat jahat. Jelas-jelas, tadi kamu yang menarikku." ujarnya kesal.


"Loh, komandan Qairen yang main nyelonong saja masuk kamar. Masih berani bilang ini salahku." jawab Ayesa.


"Aku sudah mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban. Aku hanya ingin mengompres luka dengan air hangat."


"Tetap saja, komandan Qairen salah. Aku tahu yang aku pinjam kamarmu, namun sementara asrama ini milikku."


Qairen mengambil air kompres di atas meja. "Kamu bisa melakukannya sendiri 'kan?"


"Tentu saja, cepat jangan menoleh." Ayesa menyuruh Qairen membelakanginya.

__ADS_1


Qairen sudah melakukan yang Ayesa pintu, baru dia membuka kancing bajunya. Setelah membuka perlahan-lahan, perban malah sulit dibuka.


"Aduh, sakit sekali!" Ayesa meringis.


"Apa perlu aku panggilkan Dokter Steffy ke sini. Di asrama ini tidak ada satu perempuan pun, yang dapat menolong nona." Qairen masih tidak menoleh ke arah Ayesa.


"Tidak perlu, aku bisa sendiri." jawabnya.


Ayesa berusaha untuk menariknya lepas dari kulit, namun terasa sangat nyeri. "Komandan Qairen, tolong bantu aku." Suaranya seperti menahan sakit.


Qairen menoleh ke arah Ayesa, lalu mengompres perutnya dengan perlahan-lahan. "Air sudah dingin, sebaiknya harus diganti."


"Maaf telah merepotkan." ucap Ayesa.


"Siapa yang merasa direpotkan, biar aku siapkan air hangat lagi." Qairen beranjak dari duduknya.


"Komandan Qairen, mengapa kamu bisa tahan saat diobati?" tanya Ayesa.


"Sebenarnya aku sama seperti nona, hanya saja berusaha memaksakan diri. Jika tidak diobati, mungkin aku tidak bisa diselamatkan." jelas Qairen.


"Pasti menjadi tentara bukan hal mudah." Ayesa bergidik ngeri.


"Meski tidak mudah, namun menjadi tentara adalah pilihan. Sama seperti niat ingin menjadi suami dalam rumahtangga, setelah pernikahan dilakukan." Qairen tersenyum.


"Hmmmm... dari ucapannya seperti ingin menikah saja." Ayesa teringat semua perempuan, yang ada didekat Qairen.

__ADS_1


"Benar, namun belum saatnya. Pikirkan negara yang sedang sakit dulu." jawab Qairen.


Tiba-tiba, surat kabar sudah mencetak tentang kelalaian Qairen. Isi berita tersebut menjelekkan kepemimpinannya, dalam bertugas di kantor militer Chenida.


Qairen akhirnya berhasil mengganti perban baru, setelah tadi menuangkan obat berbentuk gel yang diresepkan dokter Steffy. Qairen dan Ayesa tersenyum, setelah proses pergantian perban berhasil.


"Nona Ayesa, aku tidak ingin hal seperti ini terjadi lagi padamu. Jika ingin kembali ke rumah, izinkan aku ikut serta." Qairen melihat Ayesa, sungguh merasa kasian.


"Baiklah komandan Qairen, namun aku tidak mau dicatat sebagai hutang budi." jawab Ayesa.


"Hahah... nona tenang saja, kali ini inisiatif diri sendiri." Qairen jadi lucu.


"Biasanya meminta imbalan." Ayesa sudah paham sifat sebelumnya.


Mentari memetik senar dunia, hingga alunan kokok ayam terdengar. Negara Glowing merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna. Wajar saja, bila negara luar selalu mengincarnya. Mempertahankan negara, memerlukan kerjasama seluruh warga. Setiap penjuru dunia, tempat semua orang bertahan hidup. Mencari nafkah juga, diperlukan kedamaian.


"Presiden Zicko, aku berterus-terang saja. Sebaiknya, komandan Qairen berhenti bekerja di kantor militer Chenida." Duu Goval mengutarakan maksud hati.


"Sejauh ini kerjanya bagus, tidak bisa memecat orang lain tanpa sebab." jawab Zicko.


"Presiden Zicko terlalu berbaik hati. Apa tidak cukup, ada aku yang mewakili tugasmu." Duu Goval berusaha mendapatkan yang diinginkan.


"Aku berhutang budi padanya." jawab Zicko.


"Maka, lihatlah berita viral di surat kabar. Bagaimana pandangan rakyat, jika presiden Zicko kukuh ingin mempertahankannya. Semua orang menanggap komandan Qairen pengkhianat negara, karena mencetak uang palsu diam-diam." jelas Duu Goval.

__ADS_1


"Aku akan mengkonfirmasi hal ini dengan Ayesa, biar kita lihat bagaimana komandan Qairen mengklarifikasi berita tersebut." jawab Zicko.


__ADS_2