Military Sweet Love

Military Sweet Love
Tes pemeriksaan paru-paru


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, dokter yang ada di laboratorium keluar ruangan. Ayesa diam-diam mengendap masuk, mencari hasil pemeriksaan. Ayesa dengan cepat menukar cairan asli, dengan cairan palsu. Sebelumnya Ayesa juga telah mengetik tulisan di laptop, saat berada dalam ruangan kerjanya. Tujuannya untuk memalsukan apa yang terjadi, dengan kertas laporan palsu.


Krek!


Tiba-tiba terdengar suara gagang pintu, karena ada seseorang yang hendak masuk ruangan. Ayesa segera bersembunyi di dalam lemari, agar tidak ketahuan. Dokter mengambil hasil pemeriksaan laboratorium, Duu Arven membaca hasil laporan yang diberikan.


"Jadi, para prajurit sehat semua?" tanya Duu Arven.


"Benar, tampaknya mereka salah duga!" jawabnya.


Dipang yang berada di ambang pintu, mendengar pembicaraan tersebut. "Aku ingin pemeriksaan dilakukan ulang!"


"Sudahlah, jangan mempermalukan diri sendiri. Bilang pada Ayah, bahwa semua ini sudah jelas." Duu Goval tidak ingin memperkeruh suasana lagi.


Dipang tetap ngotot dengan keinginannya. "Jenderal muda, sekali ini saja. Jika tidak terbukti, maka akan aku sudahi."


"Baiklah, hanya sekali ini." Duu Arven menyetujui permintaan Dipang.


Setengah jam kemudian, Ayesa keluar dari lemari. Ayesa kali ini harus berhati-hati, karena ada Dipang yang menjaga di depan pintu ruangan. Ayesa meletakkan kertas laporan yang palsu, untuk menukarnya dengan yang asli.

__ADS_1


Duu Arven memergoki Ayesa, yang keluar dari ruang laboratorium. Duu Arven memang diam, namun sangat teliti. Duu Arven paham, bahwa Ayesa bertindak membela Qairen di belakang.


"Ayesa dan komandan Qairen terlihat sangat dekat. Ayesa bahkan banyak terlibat, dalam hal yang Qairen lakukan!" monolog Duu Arven.


Pasukan prajurit Duu Goval kembali, dengan membawa kertas pemeriksaan. Qairen merasa puas hati,membaca dan tersenyum, saat membaca hasil tes pemeriksaan para prajuritnya.


"Benar-benar membuang waktu, sampai digigit dengan nyamuk!" Qairen menepuk kulit tangannya sendiri.


"Komandan Qairen, aku tidak ingin meminta maaf. Kali ini belum bisa menangkap hal besar, yang telah kamu lakukan. Tapi, aku yakin saat tersebut akan segera tiba." Dipang harus menahan diri lagi, untuk tidak menghajarnya.


Paman Samin merasa senang, melihat senjata tembak ada di tangannya. Sekarang bisa mempersiapkan tempur, dengan kekuatan yang lebih canggih.


"Qairen ini benar-benar anak berbakti, dia mau membantu aku sampai mempertaruhkan nyawanya. maka aku juga akan setia, untuk menjadi teman seperjuangan. Meneruskan kedua orangtuanya, yang sudah lama bersahabat denganku."


Qairen menyisir rambutnya, sambil menghadap cermin. Qairen mendengar suara ketukan pintu, lalu menyuruh orang di luar untuk masuk. Ayesa masuk dengan membawa persiapan untuk melaporkan hal penting yang telah dilakukannya.


"Komandan Qairen, ada hal yang ingin aku beritahukan padamu." Ayesa berada di belakangnya.


"Katakan saja!" jawab Qairen, dengan santai.

__ADS_1


"Sebenarnya, aku yang memalsukan hasil pemeriksaan. Para prajurit yang ikut bertugas, sedang mengalami sesak nafas. Sekarang, mereka mendapatkan resep pengobatan dari dokter." Ayesa berbicara panjang dan lebar.


"Aku akan memberimu hadiah makanan, yaitu masakan ikan tenggiri." Qairen melihat ke arah pintu, terdengar suara ketukan.


Duckin masuk dengan membawa jengkol muda dan sambal mentah. Ayesa tersenyum saat melihat Duckin, yang tersenyum duluan ke arahnya.


"Jika nona Ayesa ingin makan, boleh bergabung bersama kami!" ujar Duckin.


"Tidak, aku sudah kenyang!" jawab Ayesa.


"Nona Ayesa, cepatlah makan. Ini adalah perintah, dan harus dilaksanakan. Aku tahu kamu tidak suka lalapan, maka aku akan mengambilkan lauk untukmu." Qairen berjalan keluar ruangan.


Ayesa membuntuti dari belakang. "Tidak perlu repot-repot, aku benar-benar tidak perlu diberi hadiah. Semua yang aku lakukan, untuk membalas budi!"


Nasi putih dan Ikan tenggiri dimasukkan ke dalam piring, dan Ayesa mencium aroma sedap. Ayesa cepat menyuapkan makanan ke mulutnya, begitupula Qairen yang menemaninya makan.


"Nona Ayesa makan dengan lahap, pasti ketagihan dengan rasa tenggiri bakar." Qairen menebaknya.


"Ya, sungguh lezat menyentuh lidah!" Ayesa manggut-manggut.

__ADS_1


Ayesa melanjutkan makan, hanya dengan beberapa kali suapan. Perutnya sudah lumayan terisi, jadi tidak menambah porsi lagi.


Di tengah malam, seseorang bereaksi membakar sawah. Tidak segan pula mengincar kebun, yang memiliki hasil panen terbaik. Tumbuhan sawi, kangkung, bayam, sudah mulai terbakar dengan api.


__ADS_2