Military Sweet Love

Military Sweet Love
Rencana Duu Goval


__ADS_3

Duu Goval melihat Monic dan Childith menghampiri Zicko. Mereka membawakan kopi, dan juga makanan ringan.


"Paman, mengapa jenderal muda tidak ke sini menemui aku?" tanya Childith.


"Dia sangat sibuk bekerja." jawab Duu Goval.


"Setahuku, di kantor militer tidak sampai seharian penuh. Bekerja juga hanya paruh waktu, apa begitu sulit menemui tunangannya?"


"Tidak Childith, dia juga merindukan kamu. Namun dia malu, untuk mengutarakannya." jawab Duu Goval.


"Dia bahkan menolak mentah-mentah, apanya yang malu?" Childith mendengus kesal.


"Sudahlah Childith, jangan terlalu membesarkan masalah di depan wakil presiden Duu Goval. Kelihatannya dia sedang berbicara penting, mengenai laporan militer." Monic menasehati.


Qairen membeli makanan disebuah kedai, heran dengan ibu komplek yang membicarakannya. Mereka semua tidak segan menghina, dan mengatakannya tidak becus menjadi pemimpin. Qairen membawa plastik lontong sayur, di dalam genggaman tangannya. Qairen membeli koran, dari anak kecil yang membawa setumpuk kertas.


Qairen membaca berita viral pagi itu. "Komandan Qairen dari kantor militer Chenida, telah membiarkan pasukan prajuritnya membakar uang di hutan belantara. Hal tersebut dilakukan tanpa izin dari presiden Zicko. Akibat pelanggaran disiplin militer, maka pasukan prajuritnya akan dididik oleh wakil presiden Duu Goval."


Qairen meremas koran dengan kesal. "Pejabat satu ini benar-benar tamak, dia sangat ingin menggulingkan posisiku yang sekarang." Berlari secepatnya.


Qairen menemui Duckin dengan buru-buru, lalu memperlihatkan koran terbitan terbaru. Duckin merasa ada yang mengganjal, karena pengumuman pelanggaran terjadi di lapangan militer.


"Ini seperti berita baru rilis semalam." ujar Duckin.

__ADS_1


"Benar, dan aku tahu ini perbuatan wakil presiden Duu Goval." jawab Qairen.


"Kurang ajar dia, berani-beraninya melakukan hal ini pada komandan."


"Sudah biasa melihatnya kurang ajar." jawab Qairen.


Qairen pergi ke ruangan asisten Ayesa, lalu menghampirinya yang sedang duduk. "Aku membelikan sarapan pagi untukmu."


"Tidak perlu repot-repot, biar aku ganti uang yang telah dikeluarkan."


"Kamu bicara apa, aku ikhlas."


"Orang yang ikhlas, tidak selalu mengungkit pertolongannya."


Tiba-tiba muncul Duckin, yang datang dengan terburu-buru. "Ada perintah untuk membawa pasukan prajurit ke istana."


"Siapa yang mengirim telegram?" tanya Qairen.


"Ini dari ajudan Nhanas, sepertinya wakil presiden mengabari putranya lewat ponsel."


"Sepertinya, berita yang gempar ini segera direalisasikan. Aku harus melakukan sesuatu." Qairen tampak bingung.


"Komandan Qairen tenang saja, aku bantu agar pasukanmu tetap berada di kantor Chenida." sahut Ayesa.

__ADS_1


"Terima kasih asisten Ay." jawab Qairen.


"Ini untuk mengganti hutang budi, tidak perlu bilang terima kasih setiap aku melakukan hal besar."


"Nona sungguh manis, sangat tahu diri." Memuji, dengan senyum mengembang.


Mobil Qairen sudah sampai di parkiran rumah istana presiden. Prajurit mengepung kedatangan Qairen, takut bila dia melakukan serangan. Qairen turun bersamaan dengan Ayesa. Mereka segera duduk di kursi ruang tamu, setelah dipersilakan oleh Zicko.


"Komandan Qairen, aku memintamu datang secara khusus, agar mengerti tentang demo para rakyat. Mereka ingin, kamu menyerahkan pasukan prajurit pada Duu Goval." ujar Zicko.


"Kalau komandan Qairen tidak bersedia, silakan turun dari jabatan sekarang." Duu Goval menimpali, dengan senyum seringai.


"Baiklah, bukankah bersama siapapun sama saja." jawab Qairen dengan ekspresi santai, namun tidak dalam hatinya.


"Ini baru keputusan cerdas komandan Qairen." Duu Goval tersenyum lebar.


"Opini publik ini dibuat-buat oleh orang tidak bertanggungjawab. Tentu saja, aku kasian pada yang tidak bersalah. Terutama presiden Zicko, jika harus terkena imbas." Tersenyum masam ke arah Duu Goval.


"Tenang saja, pasukan prajurit ku akan menjaga kediaman asrama komandan." Duu Goval ingin tertawa lantang, karena Qairen tidak berkutik di depan Zicko.


Qairen tersenyum santai. "Ah, sungguh baik hati wakil presiden ini. Aku jadi tersanjung dan sangat berterima kasih. Pasukan prajurit yang senior pasti hebat, mengalahkan pasukan prajurit yang selama ini aku latih."


"Komandan Qairen ini sungguh rendah hati. Wajar saja, bila disenangi oleh para prajurit." Duu Goval manggut-manggut, sambil tersenyum masam.

__ADS_1


"Wakil presiden juga sangat adil, wajar saja banyak dapat kepercayaan." Qairen senyum seperti biasanya.


__ADS_2