
Malam harinya, Qairen menemui Ayesa di asrama. Mereka sengaja berbicara penting dalam ruangan, agar tidak ada yang mendengar. Duckin berjaga di depan pintu, agar siapa pun tidak mendekat.
"Ayesa, bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Qairen.
"Syukurlah, aku sudah membaik. Sepertinya, luka di perutku akan mengering." jawab Ayesa.
"Terima kasih, karena kamu telah menolongku." ucap Qairen tulus.
"Sudahlah, kamu yang paling tahu alasan aku melakukannya. Aku tidak ingin, ada hutang Budi lagi." jawab Ayesa tegas.
Duu Arven melihat ayahnya mengamuk, sampai membanting pintu berulang kali. Tidak lupa pula, menghancurkan barang-barang lainnya. Kehadiran Duu Arven, berhasil menghentikan aksi gilanya.
"Kamu lihat, komandan Qairen itu diam-diam menipu pengawasan pasukanmu. Dia mengecoh kalian yang mengikuti, lalu membakar uang palsu di hutan. Dia memang ingin menghilangkan jejak, Ayah harap kamu jangan tertipu olehnya."
"Maafkan aku Ayah, ini semua karena kelalaian diri sendiri dalam bertugas."
"Sudahlah, Ayah tidak butuh melihat penyesalan darimu. Ayah hanya ingin kamu berhati-hati, dengan komandan Qairen." ujar Duu Goval.
"Baiklah Ayah." jawab Duu Arven.
"Satu lagi, kapan kamu siap menikahi Childith?" Duu Goval sudah tidak sabar.
"Ayah, aku tidak menyukai Childith. Saat itu aku bersedia tunangan, untuk menjaga nama baik keluarga Duu. Selain itu, menjaga reputasi kediaman istana presiden."
"Apa pentingnya sebuah perasaan? Setelah menikah, banyak orang bisa jatuh cinta dengan sendirinya." ujar Duu Goval.
"Ayah, sifat Childith adalah alasanku selalu ingin menjauh. Aku tidak nyaman dengannya, yang ceroboh dan kasar." jelas Duu Arven.
__ADS_1
Dompet Nhanas terjatuh di tangga, lalu Duckin yang ada di belakang mengambilnya. Duckin memberikan dompet pada ajudan Nhanas.
"Ini milikmu."
"Terima kasih."
"Iya sama-sama."
"Ayo ikut makan malam di luar." ajaknya.
"Tidak perlu, aku masih ada urusan."
"Bagaimana pun, sekarang kita satu rekan kerja. Ajaklah sekalian komandan Qairen, biar aku yang traktir."
Ajudan Duckin menganggukkan kepala, akhirnya menerima saja tawaran dari Nhanas. Dia berjalan ke ruangan Qairen, lalu memberitahu apa yang terjadi.
"Baik komandan Qairen, jangan lupa ajak asisten Ayesa." jawab Duckin.
"Mengapa kamu ingin aku mengajaknya?"
"Dunia tidak ramai, bila tidak ada perempuan seperti asisten Ay." Duckin nyengir.
"Jangan bilang, kamu mau bersaing denganku." Qairen meletakkan telapak tangan di meja dengan erat, lalu menatap kedua bola mata Duckin curiga.
"Hahah... aku hanya menganggap asisten Ay teman. Komandan tenang saja, aku dukung kalian seratus persen." Duckin masih lucu saja, ingat kejadian tadi siang.
Ayesa jalan dengan posisi di samping Qairen, lalu kedua bola mata menoleh ke arahnya. Ayesa memperhatikan rambut Qairen yang tegak tapi.
__ADS_1
”Mengapa komandan Qairen bisa lucu seperti itu si. Lihat lah, ekspresinya sama seperti bayangan dalam kamar ku.”
Qairen menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke orang di sebelahnya. "Mengapa asisten Ay dari tadi tidak berhenti melihatku." Tersenyum menyebalkan.
"Aku hanya melihat nyamuk, yang sibuk berkumpul di wajah komandan." jawab Ayesa.
"Aku tidak mendengar dengungannya." ujar Qairen.
"Itu karena telingamu sudah kepenuhan kapasitas." jawab Ayesa.
Ayesa berjalan duluan, hingga bertemu ajudan Nhanas. Dia sedang menunggu, sambil merokok di anak tangga.
"Di mana jenderal muda?" tanya Ayesa.
"Asisten Ayesa, dia sudah kembali ke rumah." jawab Nhanas.
Cukup beberapa menit berjalan, mereka sudah menemukan kedai yang menjual nasi uduk. Duckin menggosok telapak tangannya berulang kali, sambil menoleh ke arah Qairen.
"Ini bukan tugas militer, jadi tidak perlu menunggu persetujuan dariku. Kalau mau makan, silakan duluan saja." ujar Qairen.
"Saudaraku memang paling pengertian." Duckin menatap sambal yang menggugah selera.
"Di sini memang enak nasi uduknya, kalian pasti akan ketagihan." ujar Nhanas.
"Aku harus berterima kasih pada ajudan Nhanas." jawab Duckin.
"Aku beritahu kalian berdua, sewaktu-waktu kita akan perang. Di perbatasan utara Glowing, sedang diserang habis-habisan." Nhanas memberitahu apa yang dilihatnya, saat pergi bertugas.
__ADS_1
"Kasian sekali, nasib rakyat tertindas bila perang terjadi." Duckin merasa iba.