Military Sweet Love

Military Sweet Love
Terbawa Perasaan


__ADS_3

Semua stasiun televisi membahas pesta istimewa, yang akan diadakan oleh presiden Zicko. Hari ini di depan publik, akan mengumumkan hal penting. Duu Goval selaku wakil presiden, sudah tidak sabar lagi berkuasa.


”Setelah Duu Arven masuk dalam kehidupanmu, aku akan menelan hartamu diam-diam. Aset melimpah dari tua bangka sepertimu, sangat aku butuhkan untuk bertahan hidup. Aku akan menikmati kekuasaan bersama Monic, karena anakku Duu Arven berstatus ponakan menantu. Tinggal tersisa Ayesa, dia tidak boleh menikah. Kalau sampai dia memiliki anak, maka harta presiden Zicko tidak akan jatuh ke tanganku.” batin Duu Goval, bekerjasama dengan akalnya memikirkan menyeluruh.


Lagi dan lagi sengaja mengulur waktu, Qairen memilih jalan kaki. Dengan seperti itu, waktunya bersama Ayesa lebih lama. Tiba-tiba saja, datang sekelompok orang jahat. Qairen melakukan perlawanan, saat mereka menyodorokan pisau. Ayesa ingin meminta tolong, namun sekelilingnya sepi.


"Jangan bergerak dan letakkan senjata, atau aku bunuh gadis ini." Pria bertubuh kekar itu mengalungkan tangan, yang sedang menggenggam pisau didekat leher Ayesa.


"Komandan Qairen, jangan mendengarkannya." Ayesa melihat Qairen, yang menuruti perkataan mereka.


Beberapa orang mendekati Qairen, dan memberikan serangan tinju. Tidak segan melayangkan gagang besi, hingga kepalanya mengeluarkan darah. Ayesa berteriak histeris, saat hal itu terjadi di depan mata. Tidak segan-segan, memberikan tusukan pada perutnya. Qairen akhirnya terkapar juga, terpaksa tidak melakukan perlawanan.


Qairen berbicara dalam batin. ”Ayesa, aku tidak sekadar ingin meminta balas budi. Aku benar-benar menyukaimu, sejak awal kita bertemu.”


Ayesa tersulut emosi. "Kalian kejam, jangan sakiti komandan Qairen. Hentikan menganiaya dia, bunuh saja aku." Menangis penuh kekhawatiran.

__ADS_1


Tiba-tiba pisau yang dipegang pria bertubuh kekar terjatuh, dan kesempatan Ayesa menyikut perutnya. Dia berhasil membebaskan diri, dan melihat seorang remaja SMA memegang pisau. Ternyata dia yang menusuk punggung pria tadi.


Dia maju dengan berani, dan menyerang sekelompok orang yang menganiaya Qairen. Tangannya terluka tetap tidak peduli, dan Qairen berusaha membantunya. Tangannya yang lemas bergerak mengambil pistol, lalu menembak kepala mereka dari belakang. Setelah mereka tewas, pistol Qairen terjatuh. Qairen meringis menahan sakit, yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.


"Dik, kenapa kamu menolongku sampai rela mengorbankan tanganmu?" Qairen melihat tangan remaja laki-laki itu mengeluarkan darah.


"Kakak tentara lupa siapa aku? Dulu aku dikeroyok dan ditinju teman sekelas, lalu kepanasan dilemparkan plastik api, Kakak datang membelaku. Kakak mungkin lupa, kejadian ini sudah tujuh tahun berlalu." Remaja laki-laki itu sedih sekaligus terharu, bahwa ada orang sebaik Qairen di negara Glowing.


”Mengapa disaat aku membencinya, aku menemukan kebaikannya satu demi satu. Bukankah, yang ditampilkan sifat tidak murni di hadapanku.” Ayesa berbicara dalam batin, tidak bergeming dari posisinya.


"Iya Kak, sama-sama."


Amanah Episode: (Perbuatan baik, pasti akan mendapatkan balasan baik pula).


Sampai di kantor militer, Ayesa dan Qairen masuk ke ruangan asisten. Dari tadi mencari Duckin tidak ditemukan, ntah menghilang kemana dia.

__ADS_1


Ayesa membuka kancing baju Qairen pelan-pelan, karena darah mengalir dari lukanya. "Kenapa komandan Qairen harus menyelamatkan aku?" Berbicara ketus, tapi hati peduli.


"Mana mungkin membiarkan nona, wajah asisten Ay terlalu memprihatinkan. Kalau tidak ditolong, takutnya menangis guling-guling." Masih sempat senyum menyebalkan.


"Jangan bercanda lagi, aku akan segera mengobati lukanya." Kedua bola mata Ayesa melotot, saat mendapati bekas luka di pundak, dada, perut. "Apa saja yang sudah komandan lakukan selama hidup, mengapa separah ini lukanya?"


"Biasa, hanya terkena tusuk besi panas. Lalu terkena peluru, ada juga pedang, pisau, dan lain sebagainya."


Ayesa merasa ngeri sendiri, padahal tidak mengalami. Hanya mendengarkannya saja, membuat tubuh merinding. "Seperti ini masih komandan bilang biasa, pasti sakit sekali." Menuangkan cairan berwarna putih pada luka Qairen.


Sesaat meringis menahan sakit, sampai gigi atas dan gigi bawah beradu. Ayesa pelan-pelan memperban lukanya, baru mengerti menjadi tentara berat sekali. Jika terjadi apa-apa pada negara, mereka yang lebih dulu berdiri pada garda terdepan.


"Aku keluar dulu iya, mau ke dapur belakang." ujar Ayesa.


"Baiklah, aku tunggu asisten Ay kembali."

__ADS_1


__ADS_2