
Pulang ke kantor militer, usai pemeriksaan yang sia-sia. Duckin segera makan dengan lahap, dia sudah tidak kuat menahan rasa lapar lebih lama lagi. Dari tadi belum makan, ntah apa yang dipikirkan.
"Duckin, aku ingin cicip makanan itu." ujar Qairen, dengan menunjuknya.
"Jangan enggan, ayo sini komandan."
Qairen segera mendekat dan menggigit ayam bakar dengan lahap, bahkan sudah habis setengah. Duckin tercengang dengan tindakan Qairen, tapi hanya menggaruk kepala.
"Silakan dimakan, jangan lagi sisakan."
"Tenang ajudan Duckin, aku hanya mencicipi." Sudah habis lebih dari separuh, lalu tangannya mengelupas kulit ayam. "Nah, ini aku berikan padamu."
"Ah komandan, aku sudah kenyang. Lebih baik untuk komandan Qairen saja, jarang makan enak 'kan?" Duckin menepuk pundaknya.
"Bagaimana denganmu, aku cuma mencicipi saja. Serius loh ajudan Duckin." Memasang raut wajah serius, tapi terlihat menyebalkan.
"Aku terbiasa makan ini, komandan makan saja. Aku bisa memasak sup di asrama, nanti komandan Qairen bisa aku beri semangkuk. Jadi tidak perlu disebut mencicipi, namanya langsung makan sore." Duckin nyengir.
"Ah iya, aku setuju." jawab Qairen.
Keesokan harinya Ayesa mengikuti langkah kaki Qairen, dengan perjalanan yang jauh itu. Kakinya begitu pegal, menggunakan sepatu tinggi.
__ADS_1
"Komandan Qairen, kita mau bertugas di mana?" tanya Ayesa.
"Kita akan menemui Micko, dia menyuruhku datang. Kamu catat saja permintaannya, dia adalah sekretaris negara." jawab Qairen.
"Mengapa tidak menggunakan mobil, sengaja iya ingin menganiaya kakiku." ucap Ayesa spontan.
"Mobil di kantor militer sedang dipakai oleh ajudan Duckin." jawab Qairen.
"Mengapa harus ramai-ramai bawa mobil banyak. Mereka kalau mau pergi ke suatu tempat, bisa menggunakan mobil bersama." Ayesa jadi heran.
"Hari ini ada urusan penting, berkaitan tentang tugas khusus." jawab Qairen serius.
"Aku sudah bekerja lama, masih saja urusan militer rahasia." Ayesa tiba-tiba terpeleset dan jatuh. "Aduh sakitnya kaki dan pinggang, mengapa kamu jadi sepatu yang menyusahkan." Mengomel, sambil melihat ke arah telapak kaki.
Ayesa menghempaskan tangan Qairen. "Tidak perlu membantuku, nanti hutang budi bertambah lagi." Teringat perbuatannya yang serba minta imbalan.
"Oh baiklah, berdiri sendiri saja." Qairen menjawab cuek.
Ayesa berusaha berdiri tegak, namun hampir terjatuh karena tidak seimbang kakinya. Qairen segera menangkap tubuhnya, dan tangan Ayesa meraih bahu Qairen. Pandangan mereka bertemu beberapa detik, dan dada Ayesa semakin berdegup kencang. Qairen pun merasakan hal yang sama, namun menyembunyikan perasaannya dalam-dalam.
Mereka melanjutkan perjalanan dengan menggunakan taksi. Ayesa dan Qairen sudah sampai beberapa menit kemudian. Micko menyambut kedatangan mereka, terlebih lagi Ayesa yang tidak asing.
__ADS_1
"Kamu nona Ayesa putri presiden Zicko 'kan?" tanyanya.
"Iya tuan Micko." jawab Ayesa.
"Sudah lama tidak bertemu, semakin cantik saja."
Ayesa tersenyum malu-malu. "Iya, aku pergi belajar di luar kota. Hal wajar, bila banyak orang tidak mengetahui pertumbuhan ku." jawabnya.
Tersenyum ke arah Ayesa, lalu beralih ke orang di sebelahnya. "Komandan Qairen, sebenarnya aku ingin membahas tentang uang negara yang menghilang. Dalam pabrik percetakan sudah dijaga dengan aman, hanya sempat ditinggal makan malam oleh para pekerja. Aku sebagai sekretaris negara, tentu sudah menjadwalkan lembur dengan benar. Namun yang jadi masalah, karena kasus ini aku bisa saja terseret. Aku sekretaris negara, semua kegiatan dicatat olehku." ujar Micko.
"Sekretaris Micko tenang saja, akan ada jalan keluar asalkan mau berusaha." jawab Qairen.
"Di sini aku berusaha, makanya memanggil komandan Qairen." ucap Micko.
"Kalau seperti itu, serahkan berkas laporan bendahara." jawab Qairen.
"Memangnya apa yang mau komandan lakukan?" tanya Micko.
"Memeriksa pengeluaran dan pemasukan negara." jawab Qairen.
"Nah, ini yang jadi masalahnya. Bendahara kita tidak ingin diperiksa, kecuali wakil presiden Duu Goval. Memang selama presiden Zicko tidak ada, Duu Goval yang berkuasa di negara ini." ungkap Micko.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan berusaha membantumu menemukan uangnya." Qairen tulus dalam hal ini.