
"Aku nyebrang dulu yaaa". Seru Oriza.
Cahyana hanya mengangguk. Melihat pemandangan Oriza bersama laki-laki lain sungguh rasa nya sakit sekali, menunggu sampai punggung Oriza dan lelaki itu tidak terlihat lagi, lalu Cahyana pun beranjak pergi.
Berlalu dan kembali kesekolah, Cahyana pun memasuki kantornyaa. Sambil bersandar pada kursi yang dia duduki, Cahyana memijit kening yang terasa berdenyut.
Mengingat-ingat wajah lelaki yang bersama Oriza tadi, rupanya laki-laki tersebut bukan salah satu siswa atau alumni di SMK maupun SMP Bandung Raya.
[Siapa dia?]. Cahyana masih bertanya-tanya. Akhir nya dia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Oriza.
[Siapa lelaki itu?]. Namun tiada balasan.
Pikiran Cahyana sudah kalang kabut, hatinya tidak karuan. 'Sedang apa Oriza bersama laki-laki itu?'. Cahyana membatin.
[Pulang jam berapa?]. Lagi Cahyana mengirim pesan namun tiada balasan.
[Pulangnya jangan terlalu sore yaa]. Pesan terakhir yang Cahyana kirim kepada Oriza sebelum akhir nya Cahyana duduk gelisah tidak bisa diam, mimikirkan segala kemungkinan yang terjadi antara Oriza dan laki-laki itu.
Ingin rasanya tugas mengajar nya cepat selesai lalu pulang dan menghubungi Oriza.
***
[Apakah hari ini pulang telat lagi]. Sebuah pesan Dini kirimkan untuk Cahyana.
[Tidak... Hari ini langsung pulang]. Tidak sadar, pesan balasan dari Cahyana membuat Dini tersenyum.
Sebenarnya Dini sudah tidak ingin menghubungi Cahyana, tetapi dirinya tidak bisa jika harus bersikap tidak peduli. karena tidak bisa di pungkiri, jauh di dalam lubuk hati Dini masih ada rasa sayangnya untuk Cahyana.
Hari sudah beranjak sore menuju malam, Cahyana pun sudah selesai dengan aktifitasnya di sekolah. Sedikit mengemasi barang-barang yang akan di bawa pulang, Cahyana pun lalu berjalan keluar kantor menuju gerbang utama dan menunggu angkot arah pulang.
[Bersiaplah, aku sudah dalam perjalanan pulang]. Pesan Cahyana kepada Oriza.
__ADS_1
[Memangnya mau kemana?]. Dini menjawab pesan dari Cahyana dengan sedikit bingung.
[Ke pasar malam]. Kebetulan tidak jauh dari rumah Cahyana ada sebuah pasar malam yang bertempatkan di sebuah lapangan desa.
Sengaja Cahyana mengajak Dini, istri dan ketiga anaknya untuk bermain sebentar ke pasar malam. Sebenarnya Cahyana hanya ingin mengajak anak-anak nya saja, namun ketiga anaknya itu tidak bisa keluar rumah tanpa Mamanya.
[Sebentar lagi aku sampai]. Tidak lupa Cahyana pun mengabari kepada Dini.
[Iya, setelah sampai makanlah dulu sambil menunggu anak-anak bersiap]. Sebenarnya Dini telah selesai bersiap, hanya anak-anak yang belum. Terkadang Dini kewalahan mengurus ke tiga anaknya, yang masih kecil-kecil dan sedang aktif-aktifnya.
[Baiklah]. Cahyana hanya membalas singkat.
Tiba di rumah, Cahyana di sambut oleh sang istri. Setelah Dini mencium punggung tangan Cahyana dengan takzim, Cahyana pun memberikan tas nya kepada Dini dan mulai membuka sepatunya.
Setelah selesai, Cahyana pun masuk ke rumah di sambut dengan suka cita ketiga anaknya, Annisa, Use dan Nazwa. Mereka bertiga memeluk Cahyana dengan perasaan bahagia.
"Ayah, Mama bilang kita mau ke pasar malam yaa?". Use anak kedua Cahyana bertanya.
"Iya, tapi tunggu ayah bersiap dulu yaa". Jawab Cahyana berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Cahyana pun menangguk. Sambil meneguk segelas air bening untuk menyegarkan tenggorokkannya, dia pun mulai memakan nasi serta lauk pauk yang telah Dini siapkan.
"Ayo anak-anak, sambil menunggu ayah makan. Kita bersiap dulu". Dini mengajak ketiga anaknya bersiap dan berganti baju.
"Horee..... Ayo mah". Jawab Annisa, dan Use dengan serempak. Sedangkan Nazwa hanya bisa bertepuk tangan dengan semangat karena memang Nazwa belum bisa berbicara.
"Aku selesai. Sebentar, aku ganti baju dulu yaa". Cahyana berlalu menuju kamar untuk barsiap, karena tidak mau membuat anak-anak nya menunggu lebih lamaa.
Setelah beberapa saat, akhirnya Cahyana pun keluar dari kamar dengan menggunakan pakaian santai.
"Ayo anak-anak, sudah siap". Tanya Cahyana kepada ketiga anaknya sambil mengangkat tangan kanan ke atas dan telapak tangan terkepal.
__ADS_1
"Yeay..... Ayoooooooo". Annisa dan Use melompat dengan riang gembira, sementata Nazwa sudah berada dalam gendongan Cahyana.
Berjalan keluar rumah menyusuri sebuah gang karena memang lokasi pasar malam yang tidak terlalu jauh, berjalan kaki menjadi salah satu alternatif menuju pasar malam.
Siapapun yang melihat meraka pasti berfikir sama, bahwa mereka keluarga yang lengkap dan bahagia. Namun siapa sangka bahwa Cahyana mempunyai duri untuk rumah tangganya.
Ketika sampai di pasar malam, riuh terdengar suara dari orang-orang yang sedang menaiki beberapa wahana permainan.
Ada beberapa wahana permainan di pasar malam tersebut, diantaranya bianglala, kora-kora, ombak banyu dan masih banyak lagi.
Tidak hanya wahana permainan. Biasanya, pasar malam juga menyediakan berbagai macam barang dagangan, seperti produk-produk pakaian, kerajinan tangan, produk jasa, elektronik, dan sebagainya. Selain itu, ada juga berbagai macam jajanan atau kuliner, serta hiburan seperti pertunjukan musik, dan pagelaran seni.
Sebenarnya pasar malam tidak jauh berbeda dengan mal. Pasar malam juga menyediakan berbagai hiburan bagi masyarakat, khususnya pada malam hari.
Pasar malam merupakan tempat alternatif bagi masyarakat yang ingin memperoleh hiburan bersama keluarga, kerabat, atau teman-teman.Tak terkecuali Cahyana.
Tujuan Cahyana yang sebenarnya bukan hanya untuk memberi hiburan kepada istri dan ketiga anaknya, tapi juga supaya Cahyana sedikit melupakan kejadian tadi siang tentang Oriza.
Sungguh jika mengingat lagi tadi siang Cahyana pergi bersama laki-laki lain hatinya begitu sakit, padahal Cahyana pun punya anak dan istri yang begitu sayang dan bergantung pada Cahyana.
"Ayah aku mau naik itu". Annisa menunjuk biang lala, dia ingin menaikinya. Wahana berbentuk seperti kincir besar yang menyerupai sangkar burung untuk tempat duduknya itu membuat Annisa penasaran.
"Ayah.... ". Annisa dan Use sedikit berteriak sambil menarik ujung baju Cahyana. Karena tidak dan respon dari Cahyana, dan terlihat ayahnya itu seperti sedang melamun.
"Ah iya apa?". Cahyana sedikit tersentak merasa ada yang menarik ujung bajunya.
"Aku dan kakak ingin naik itu ayah". Kali ini Use yang bersuara sambil menunjuj wahana permainan biang lala.
"Boleh". Cahyana merogoh uang yang terdapat di dalam saku celana, dia memberikan tiga lembar uang lima ribu rupiah kepada Dini untuk membeli tiga tiket.
Ya, sengaja Cahyana memberi uang untuk tiga tiket. Karena Dini akan ikut bersama Annisa dan Use untuk menaiki biang lala, tidak tega rasanya jika hanya Annisa dan Use saja yang naik, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan. Jika Dini ikut naik setidaknya ada yang menjaga Annisa dan Use.
__ADS_1
Sambil menunggu Dini, Annisa dan Use menaiki wahana biang lala. Nazwa yang berada dalam gendongan Cahyana pun turut serta ingin menaiki wahana permainan.
Cahyana lalu membeli tiket untuk Nazwa menaiki wahana kereta api anak yang biasa di sebut juga odong-odong. Selain pasti menyenangkan untuk Nazwa, kereta api anakpun termasuk wahana permainan yang aman untuk anak seusia Nazwa.