
Tidak terasa waktu nya akan segera tiba.
Saat ini Oriza sedang mengikuti kunjungan industri, tapi hati Cahyana bahkan tidak tenang. Ada beberapa kemungkinan yang dia takutkan, apa lagi Cahyana tidak bisa melihat Oriza di sekolah.
Beberapa hari yang lalu bahkan Cahyana sendiri melihat Oriza di jemput oleh laki-laki di depan gerbang sekolah.
Mau marah takut salah langkah, mau menghampiri pun Cahyana kalah telak. Lelaki yang bersama Oriza itu pasti lelaki yang belum pernah menikah, sedangkan Cahyana sendiri adalah seorang duda bahkan anak tiga.
Namun Cahyana memilih percaya dengan Oriza, bahwa laki-laki itu hanyalah teman yang kebetulan lewat dan sekalian menjemput Oriza.
Ya, Cahyana sangat percaya dengan Oriza.
Cahyana juga sangat menyayangi Oriza, terlebih Oriza juga sudah sangat dekat dengan anaknya, bahkan Oriza terlihat sangat menyayangi anak-anak Cahyana.
Siang hari, saat jam belajar mengajar tingkat SMK telah selesai tiba-tiba ada sebuah pesan yang masuk ke posel Cahyana.
[Kang kamu masih ada hubungan sama Oriza?]. Sebuah pesan dari seorang pegawai isi ulang air mineral.
[Memangnya kenapa?]. Cahyana
[Kemarin jam pulang sekolah, aku lihat Oriza di jemput laki-laki pakai motor besar warna merah. Di dekat konter pulsa yang ada di dermaga].
'Heeemmm, ciri-ciri motor yang sama dengan yang aku lihat tempo hari' begitu pikir Cahyana.
Cahyana pun tidak membalas lagi pesan tersebut.
'Berarti kalau lebih dari satu kali mungkin saja ini bukan kebetulan, tapi ini perkara yang di sengaja.
Ya, laki-laki itu sengaja menjemput Oriza.
'Memanglah tidak ada kerjaan'. Cahyana memukul meja geram.
***
[Sudah di rumah?]. Cahyana mengirim pesan kepada Oriza
[Sudah]. Oriza
[Besok jadi kita pergi?]. Cahyana.
[Iya]. Oriza
Cahyana sangat tidak sabar untuk menanyakan perihal ini kepada Oriza.
Namun urung dia lakukan. Cahyana memutuskan untuk besok saja dia bicarakan secara langsung dengan Oriza.
Pulang setelah mengajar sore, Cahyana menyempatkan diri membeli camilan untuk Nazwa. Anak itu memang senang sekali jika banyak jajanan.
Tiba di rumah Cahyana hanya bermain dengan Nazwa hingga di tertidur lelap.
Semenjak perpisahan nya dengan Dini, dan hanya Nazwa yang menemani tidur nya. Cahyana tidak pernah lagi datang bahkan main ke kolam pemancingan ikan.
Untuk saat ini yang Cahyana lakukan hanya meracik essen untuk kemudian nanti di jual kepada teman-teman nya yang dulu pernah mancing bersama.
Sengaja Cahyana menjual essen. Karena selain untuk mendapat penghasilan tambahan, meracik essen juga Cahyana lakukan sebagai sarana mengisi waktu luang.
__ADS_1
***
Esok hari seperti yang telah di janjikan.
Seperti biasa, Cahyana menjemput Oriza pakai angkot dan Oriza pun menunggu Cahyana di depan gapura.
Cahyana menghentikan angkotnya berwarna hijau polet merah itu tanpa dia turun, dan Oriza pun langsung naik kedalam angkot serta duduk di sebelah Cahyana.
Sesaat ketika Oriza duduk, Cahyana memberikan Oriza minuman kesukaannya yakni minuman susu kemasan botol. Dengan senang hati Oriza pun menerimanya.
Di dalam angkot terjadilah sebuah pembicaraan.
"Aa boleh tanya?". Oriza pun hanya mengangguk.
"Kalau boleh tahu, siapa laki-laki yang menjemput Oriza?". Sekilas Oriza menatap Cahyana lalu mengalihkan lagi pandangannya.
"Dia temanku". Oriza
"Siapa namanya?". Cahyana semakin penasaran dan sedikit tidak bisa menahan emosi dari nada bicaranya.
"Namanya Ramdani". Oriza
"Apakah temanmu itu sengaja menjemputmu ke sekolah?" Cahyana
"Memangnya kenapa?". Oriza
Cahyana menggeleng.
"Oriza, kamu yang aku banggakan kepada orang tuaku. Termasuk kepada teman-temanku". Cahyana
"Jangan membuat mereka kecewa!". Cahyana
Oriza hanya diam tidak menunjukkan respon apapun.
Tidak berapa lama, angkot tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang jarak nya tidak terlalu jauh dari rumah Oriza.
Memasuki sebuah bangunan yang terdapat beberapa macam toko.
Di sana terdapat toko pakaian, toko sandal dan sepatu, toko mas sudah pasti ada, toko pakaian seragam, toko baju batik dan masih banyak yang lainnya.
Cahyana dan Oriza berjalan menuju salah satu toko, yaitu toko pakaian seragam.
Oriza memilah dan memilih seragam yang cocok.
"Pak ada seragam atasan berwarna putih polos". Tanya Oriza kepada bapak penjaga toko
"Ada, mau size apa?". Tanya bapak penjual.
"Coba lihat size S pak". Oriza
Bapak penjual pakaian tersebut menyerahkan baju seragam yang di cari Oriza.
Oriza pun Mencocokkan baju tersebut dengan badannya.
"Seperti nya kekecilan". Cahyana berpendapat.
__ADS_1
Oriza mengangguk.
Dengan sabar Cahyana menunggui Oriza.
"Coba tolong yang size M pak, yang size S terlalu kecil". Oriza
Bapak penjual itu pun menyerahkan lagi baju yang di ingin kan oleh Oriza.
Oriza melirik Cahyana meminta pendapat dengan kode alis nya. Cahyana pun mengangguk menyetujui.
"Ambil yang ini saja pak". Oriza
"Baik. Ada lagi yang mau di beli neng?". Bapak penjual baju.
"Ada celana hitam panjang bahan katun pak?". Oriza
"Oh ada. Pakai nomor berapa?". Bapak penjual
" Nomor dua delapan saja pak". Oriza
Penjual baju itu pun langsung menyerahkan celana yang di maksud oleh Oriza.
"Berapa semuanya pak?". Oriza
Setelah melewati perdebatan harga yang cukup alot, kedua belah pihak menyetujui harga baju dan celana tersebut.
Cahyana pun langsung membayarnya tanpa persetujuan dari Oriza.
Selesai dengan urusan baju, Oriza dan Cahyana mencari toko sepatu yang cocok.
Tiba di salah satu toko sepatu, Oriza langsung mencari model dan sepatu yang dia inginkan.
pilihan Oriza jatuh pada sebuah sepatu pentofel, barwarna hitam polosf_
Warna dan size sepatu pun telah cocok saatnya Cahyana untuk membayar nya.
Persiapan keperluan untuk kegiatan beberapa hari lagi telah selesai.
Ya. Cahyana sengaja membelikan seragam serta sepatu untuk menunjang penampilan Oriza nanti saat dia menjalani masa PRAKERIN nya.
Untungnya tempat PRAKERIN Oriza tidak jauh dari rumah Oriza.
Cukup dekat jika di menempuh perjalanan menggunakan sepeda motor. Namun bila naik kendaraan umum pun hanya dua kali naik angkot.
Pertama angkot hijau polet merah, selanjutnya Oriza turun di depan sebuah rumah sakit daerah milik pemerintah, lalu naik angkot berwarna kuning polet coklat.
Ongkos yang di keluarkan pun tidak terlalu mahal apa bila naik kendaraan umum, hanya delapan ribu rupiah untuk biaya pulang pergi.
Cahyana pun tidak terlalu khawatir.karena Oriza Prakerin di sebuah mini market, jadi Cahyana masih bisa mengawasi dan mengunjungi Oriza kapan pun.
Cahyana jadi se-protektif itu karena akibat penghianatan yang dulu di lakukan oleh Dini.
Cahyana tidak mau kecolongan lagi. Apa lagi sampai kehilangan Oriza, seseorang yang kini begitu Cahyana sayangi.
Di Dalam Hati, Cahyana sudah bertekad. Setelah Oriza lulus sekolah nanti dia akan menikahi Oriza sang kekasih hati.
__ADS_1
...****************...