MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 16. Rencana (Part 2)


__ADS_3

Di suatu hari ketika sedang jam istirahat, Cahyana melihat Oriza dan teman-temannya sedang berkumpul di depan kelas. Mereka sedang asik mengobrol sambil duduk di bangku panjang yang telah di sediakan oleh pihak sekolah.


[Lagi apa? Seperti nya seru]. Ketika sesaat pesan itu telah di kirim kepada Oriza, Cahyana melihat Oriza yang berada di lantai dua membuka ponsel nya.


Terlihat Oriza hanya melihat sekilas pada layar ponsel nya, tanpa membalas pesan dari Cahyana.


[Sini ngobrolnya di bawah sama Aa]. Terlihat Oriza membuka lagi ponselnya namun tidak ada balasan pesan kepada Cahyana.


Tidak berapa lama terlihat dari arah tangga Oriza dan Syifa teman nya berjalan menuju ruang guru sambil membawa beberapa buku di tangan. Mereka mencari ibu Lia, seorang guru akuntansi dan menyimpan buku yang mereka bawa di atas meja bu Lia.


Entah karena kebetulan atau tidak, Syifa temannya Oriza itu malah ngobrol dengan Cahyana. Oriza tampak diam saja tidak bersuara, dia hanya menyimak obrolan kami.


"Pulang sekolah ada acara tidak". Cahyana mencoba memulai pembicaraan.


"Kenapa memangnya?".


"Si Teteh ingin ketemu katanya".


Teteh adalah panggilan Oriza kepada Dini, Dini bilang agar lebih akrab panggil saja teteh.


"Tadinya mau ke rumah teman".


" Teman? Yang rumah nya di belakang lapang dekat padepokan itu?". Tanya Cahyana penasaran dan Oriza hanya mengangguk.


Seperti ada daging yang terbakar di dalam dadanya 'apakah ini perasaan cemburu'. Guman Cahyana


"Kasian Teteh dan Nazwa menunggu". Cahyana mencoba beralasan agar Oriza tidak jadi ke rumah temannya itu, dan tidak bertemu dengan laki-laki yang d jumpai nya tempo hari.


"Hhheeeemmmm baiklah". Cahyana sedikit tersenyum, lebih tepat nya senyum kemenangan.


Teng... Teng... Teng...


Bel masuk pun berbunyi tanda jam istirahat telah usai, Oriza dan Syifa pun pamit dan meninggalkan Cahyana . Berlalu menuju tangga yang ada di samping ruang guru.


Cahyana dan Oriza pun tidak ada saling menghubungi karena sibuk dengan kegiatannya masing-masing.


***


Setelah kejadian tempo hari saat Cahyana membawa Oriza dan mengenalkan nya kepada Dini, dan Dini menangis sejadinya ketika Cahyana mengantar Oriza pulang.


Akhirnya Dini mengatur strategi baru untuk memisahkan Cahyana dan Dini.


Suatu malam saat Cahyana sedang bersantai di bale, Tiba-tiba Dini menghampiri Cahyana dan memeluk lengan Cahyana.


"Ayah".


"Hhheeemmm". Cahyana sedikit melirik pada Dini.


"Aku ingin". Dahi Cahyana mengernyit. Aneh, jarang sekali Dini meminta. Pasalnya jika Cahyana yang meminta karena dia ingin pun, terkadang Dini menolak nya dengan cara menendang Cahyana.

__ADS_1


Itu sebabnya Cahyana jadi jarang sekali memintanya karena takut di tolak dan sakit hati. Bukan, bukan karena Cahyana tidak berselera hanya saja dia menjaga hati agar tidak mengumpat.


"Anak-anak sudah tidur?". Berharap jawabannya adalah belum.


"Sudah. Mereka sudah tidur dengan lelap". Tidak ada lagi alasan untuk Cahyana menolak.


Dini menarik tangan Cahyana untuk masuk ke dalam kamar Solihin yang berada di dekat dapur tungku.


Kamar Solihin tidak pernah di kunci, dan Solihin pun memang jarang berada di rumah. Paling dia sedang nongkrong bersama teman-teman nya dan pulang larut malam.


Jadilah Cahyana dan Dini melakukan ritual suami istri di kamar Solihin dengan menggebu, karena tidak akan mengganggu anak-anak nya yang sedang tidur.


Cahyana merasa ada yang aneh, Dini sepertinya bersemangat sekali. Dini yang merangsang bahkan mencumbu Cahyana dengan caranya, hingga Dini membuat tanda merah di leher Cahyana.


Cahyana hanya meladeni sekedarnya saja, tadinya dia ingin menolak namun karena Cahyana masih menjaga perasaan Dini jadi nya Cahyana menuruti saja apa maunya.


Dini meminta sambil berbisik di telinga Cahyana, dia ingin Cahyana pun membuat tanda merah di leher Dini. Sebelum akhirnya Cahyana mencapai puncak dan menyelesaikan tugasnya.


Cahyana pun segera menarik diri dan pergi ke kamar mandi sesaat setelah dia selesai memenuhi kewajibannya. Dini pun tersenyum dengan penuh kemenangan, senyum yang tidak dapat di artikan.


Dini memakai kembali pakaiannya dan pergi ke kamar mandi lalu menyusul Cahyana yang sudah berada di rumah.


Ketika Dini masuk ke rumah, Cahyana sedang berbaring di ruang tv. Dini mendekat dan ikut berbaring di samoing Cahyana serta meletakan kepala Dini pada Dada bidang Cahyana.


"Ayah".


"Hhheeemmmm".


"Dia kan sekolah".


"Aku bisa menunggu nya saat Neng pulang sekolah".


"Baiklah aku akan coba bicara dengan Oriza".


"Iya".


"Tapi aku tidak janji". Dini hanya mengangguk. Tidak berapa lama mereka terlelap, tenggelam dalam mimpi masing-masing.


***


[Aku di rumah mamah]. Dini pengirim pesan kepada Cahyana.


[Kenapa].


[Agar Neng tidak jauh menemuiku di sini].


[Heeemm baiklah].


Rumah ibunya Dini berada di seberang jalan persis di depan gerbang sekolah SMK Bandung Raya, tepatnya di sebuah rumah kontrakan petak yang berada di belakang toko bahan bangunan.

__ADS_1


Anak-anak sudah bubaran, ada yang menuju tempat parkir untuk mengambil motornya masing-masing, atau yang berjalan menuju gerbang karena jam pulang telah tiba.


Seperti biasa, Cahyana menunggu Oriza di depan pintu kantor nya. Dari kejauhan Cahyana melihat Oriza, dengan cepat Cahyana menutup pintu kantor dan berjalan menuju gerbang utama.


Oriza sampai di hadapan Cahyana, Cahyana langsung mengajak Oriza untuk menyeberang.


"Kenapa tidak naik angkot?". Cahyana tersenyum. 'Tumben Oriza mau Bertanya lebih dulu'.


" Teteh ada di rumah ibunya". Oriza manggut. Cahyana dan Oriza lalu menyeberang.


Masuk melalui pintu gerbang toko bahan bangunan, berjalan melalui jalan kecil di samping toko hingga akhir nya sampai pada kontrakan yang di maksud oleh Cahyana.


Kontrakan yang di diami oleh ibunya Dini terletak paling ujung.


tok... tok.. tok...


"Assalamu'alaikum". Cahyana mengetuk pintu.


" Wa Alaikumsalam". Tidak berapa lama Dini membuka pintu dan keluar dengan Nazwa yang berapa dalam gendongan.


Seperti biasa Oriza mencium tangan Dini jika bertemu,


"Masuk neng". Senyum kepalsuan Dini.


"Di sini aja teh".


"Masa di luar".


"Tidak apa-apa teh, gerah". Dini hanya tersenyum.


"Sebentar yaa teteh ambilkan minum dulu".


"Iya teh terimakasih". Jawab Oriza sungkan, Cahyana hanya tersenyum menyimak.


Dini masuk ke dalam rumah untuk mengambil minum, Tidak lupa Dini pun mengikat rambut nya tinggi sebelum tadi rambut nya tergerai.


'Semoga kamu melihat tanda kepemilikan ini, yang ada di leher ku dan di leher Cahyana'.


'Dan segera meninggalkan Cahyana'.


'Semoga tanda ini menjadi bukti, bahwa hubunganku dengan Cahyana begitu hangat bahkan dalam urusan ranjang'. Walaupun sebenarnya rumah tangga nya mulai terasa hambar.


Beberapa gumaman Dini lontarkan, bahkan dia tersenyum getir saat mengucapkan kalimat terakhir.


Dini keluar rumah, kembali menghampiri Cahyana dan Oriza yang sedang berbincang. Seperti ada yang mencubit hati nya, sakit. Namun Dini tetap mencoba tersenyum.


Dari ekor mata, Dini melihat Oriza yang sedikit kaget. Namun sesaat kemudian Oriza minum dengan tenang.


Di selingi obrolan yang menurut Cahyana basa-basi.

__ADS_1


"Oriza mau pulang? sepertinya kamu lelah".Oriza hanya mengangguk, dan pamit kepada Dini.


Dini menatap kepergian Cahyana dan Oriza sampai mereka masuk ke jalan kecil. Dini menyeringai, lalu masuk ke dalam rumah.


__ADS_2