MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 22. Pertemuan


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Cahyana telah bersiap, agar tiba di kota tujuan tidak terlalu siang. Cahyana juga membawa beberapa baju ganti untuk jaga-jaga kalau saja Cahyana tidak pulang dan menginap.


Berangkat menggunakan angkutan umum untuk mengunjungi kota tersebut, berharap semua berjalan sesuai dengan apa yang dia rencanakan.


"Bismillah". Cahyana mulai melangkahkan kaki keluar dari rumah, setelah sebelumnya dia pamit kepada kedua orang tua nya.


Keluar dari gapura naik angkot hijau polet merah menuju Tol Moch. Toha, di sana sudah menunggu beberapa mobil elf atau bus mini dengan tujuan keberbagai kota.


Di perjalanan.


Hati dan perasaan Cahyana tidak tenang, takut rencananya ini ter endus oleh Dini dan dia semakin menjauhkan Nazwa dengan Cahyana.


Tidak ada yang tahu kemana kepergian Cahyana, bahkan pihak sekolah sekalipun. Karena Cahyana hanya bilang ada keperluan saat dia izin tidak masuk.


Takut rencana nya bocor jika Cahyana mengatakan yang sesungguhnya. Karena di sekolah ada Desi adik dari Dini dan juga Mega anak Dini yang masih duduk di bangku SMP.


[Aa sudah berangkat, ini sudah di angkot]. Cahyana hanya mengabari Oriza.


[Hati-hati di jalan].


Setelahnya Cahyana pun tidak mengirim pesan lagi kepada Oriza, dia tenggelam dalam pikirannya.


"Kiri". Begitulah salah satu cara untuk menghentikan laju angkot setelah kita sampai di tujuan.


Cahyana pun turun dan membayar ongkos kepada pak sopir.


Berjalan menuju sebuah elf yang telah berjajar menunggu penumpang, setelah dekat terdengar suara-suara kernet elf yang berteriak saling bersahutan menyebutkan kota tujuan elf mereka.


Tasik... Tasik... Tasik...


Garut... Garut... Garut...


Sebelum menaiki elf, Cahyana membeli beberapa gorengan dan uras juga sebotol air mineral untuk sarapan. Untuk dia makan di dalam elf saja saat perjalanan nanti.


Usai membayar makanan yang dia beli, Cahyana segera naik ke dalam elf jurusan Tasik karena sebentar lagi perjalan akan segera di mulai.


Duduk di sisi kanan pojok dekat jendela, Cahyana mulai meng-eksekusi makanan yang tadi dia beli.


Tidak berapa lama, mata Cahyana mulai terasa berat. Seperti nya mulai mengantuk lagi karena perut sudah terasa kenyang.


Akhir nya Cahyana pun terlelap dalam tidur nya sambil menikmati perjalanan panjangnya di dalam elf.

__ADS_1


***


Hari ini adalah hari pertama Dini mulai bekerja di salah satu konter pulsa yang letak nya memang agak jauh dari rumahnya.


Gaji nya mungkin tidak seberapa, tapi gajinya ini cukup untuk menghidupi dirinya, ibunya dan juga Nazwa, anak bungsunya.


Karena dendamnya kepada Cahyana, dengan berat hati Dini mengirimkan Annisa dan Use kepanti asuhan yang jauh di sana.


Dini ibu yang tega, iya. Tlapi percayalah dia pun terluka jauh dengan kedua anaknya. Bukan, bukan karena Dini tidak sayang. Bahkan hati nya takut dan tidak rela jika anak-anaknya di bawa oleh Cahyana.


"Aku harus semangat demi anak-anakku". Begitulah cara Dini untuk menyemangati dirinya.


Dini sangat bekerja keras, terlebih dia tahu. Dia akan menjadi seorang janda untuk yang kedua kalinya, ya. Janda anak empat.


***


Tidak terasa perjalanan panjang yang Cahyana nikmati dengan tidur lelapnya, sebentar lagi tiba di tempat tujuan.


Cahyana hanya perlu menaiki lagi angkot satu kali dan ojek motor untuk tiba di tempat tujuan, yaitu rumah ibunya Dini.


Tiba di rumah ibunya Dini, dari kejauhan Cahyana melihat Nazwa yang sedang main tanah di depan rumah.


"Anankku". Sambil tersenyum, Cahyana manahan rasa sedihnya.


"Ayah..... ". Nazwa berlari kedalam pelukan Cahyana.


seperti nya Nazwa pun merasakan kesedihan jauh dengan orang tuanya, anak sekecil ini sudah harus menyaksikan perpisahan orang tuanya.


Cahyana memeluk Nazwa erat dan tidak berhenti menciumnya untuk meluapkan rasa sedih, rindu dan haru menjadi satu.


"Cahyana". Guman ibunya Cahyana kaget melihat Cahyana ada di depan mata, ibunya dini juga bingung entah dia harus bagaimana.


Cahyana hanya menoleh dan terseyum kepada ibunya Dini.


"Aku minta izin untuk membawa Nazwa oulang ikut bersama ku buu.. ", Ibunya Dini menggeleng


"Bagaimana?.


"Aku dan Dini sudah resmi bercerai bu". Ucap Cahyana menambahkan "aku datang kemari sebagai seorang ayah ynang merinduka anak nya". Wajah Cahyana memelas


"Baiklah kamu boleh membawa anakmu pulang. Tapi jangann terlihat oleh Dini, Ibu tidak mau pertemuam ini memicu lagi pertengkaran". Cahyana mengangguk.

__ADS_1


Cahyana tidak menyangka bahwa pertemuannya dengan Nazwa berjalan lancar tanpa ada kendala apa lagi drama.


"Ibu akan siapkan baju bekal untuk Nazwa selama bersama mu".


"Baik bu, terimakasih banyak".


"Bu apa aku boleh bertanya". Cahyana kembali bersura. Ibunya Dini masih sibuk mengemasi baju dan barang apa saja yang nanti akan di bawa oleh Cahyana.


"Apakah ibu tahu Annisa dan Use dimana sekarang". Ibunya Dini hanya menggeleng, dia menahan bulir air mata nya Cahyana tidak menyadari itu.


"Cepatlah pulang, sebelum Dini kembali"


"Baik bu terimakasih banyak, saya pamit". Ucap Cahyana kemudian berlalu


Betapa hati senang bisa membawa Nazwa kembali bersama nya. Namun di sisi lain, Cahyana pun sedih. Tidak ada sedikit pun informasi yang dia dapatkan mengenai Annisa dan Use.


Cahyana bertekad suatu saat nanti dia dan ke tiga anaknya akan kembali berkumpul. Cahyana akan tetap berjuang untuk bertemu dengan Annisa dan Use serta membawa mereka pulang.


Sebelumnya Cahyana memasaki sebuah warung terlebih dahulu untuk membeli susu kotak, camilan dan makanan lainnya untuk nanti bekal di perjalanan agar Nazwa tidak merasa lapar.


Perjalanan pulang yang panjang di tambah kondisi jalan yang padat, sehingga menyebabkan macet yang tidak berkesudahan.


Dari Tasik keluar Tol Moch Toha, sebentar lagi sampai. Cahyana tidak turun untuk berganti angkot, dia tetap berada di dalam elf bersama Nazwa, karena arah laju elf tersebut pasti melewati gapura yang menuju ke rumah Cahyana.


Hingga elf tiba di gapura, Nazwa tertidur dengan lelap nya berada dalam gendongan Cahyana.


Turun dan membawa tasnya yang ada di bagasi elf, Cahyana berjalan dengan semangat nya menuju rumah.


"Alhamdulillah". Tiba di rumah, Nazwa langsung di tidurkan di kamar rumah Cahyana.


Menatap Nazwa yang sedang terlelap, Tiba-tiba mata Cahyana berembun. Dia memikirkan bagaimana nasib Annisa dan Use di panti asuhan.


"Apa kamu pulang bersama cucuku?" Tanya ibu nya Cahyana, kehawatiran terlihat jelas pada garis wajahnya.


"Iya mah, sekarang Nazwa sedang tidur. Aku mau mandi dulu". Ibunya Cahyana hanya mengangguk.


Dia berlalu menuju rumah Cahyana ingin melihat Nazwa cucu nya yang sedang tidur, rasa nya rindu sekali.


Cahyana tidak menceritakan tentang dua anak nya yang lain, takut mempengaruhi kondisi kesehatan ibunya.


Cahyana hanya berbagi cerita kepada Ihin adik bungsunya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2