
"Baiklah kata sambutan dan visi misi dari masing-masing kandidat calon ketua OSIS sudah di utarakan.
Upacara telah selesai, bubar barisan jalan". Ucap Cahyana dengan tegas.
Semua siswa-siswi membubarkan diri menuju kelas masing-masing.
***
Beberapa anggota OSIS membentuk sebuah kelompok yang terdiri dari dua orang.
Mereka menyiapkan sebuah kertas yang di potong menjadi bagian kecil-kecil.
Satu persatu mereka memasuki kelas, termasuk Ilham, Mila, dan Oriza. Ketiga kandidat itu mengikuti dua orang anggota OSIS untuk memasuki kelas dan melakukan vout.
"Assalamu'alaikum, langsung saja yaa agar tidak terlalu banyak memakan waktu
kami akan membagikan selembar kertas kecil ini untuk selanjutnya teman-teman tolong tulis nama yang kalian pilih dari salah satu kandidat yang ada di depan.
Mohon kerja sama nya yaa temen-temen". Dua orang anggota OSIS langsung membagikan kertas kecil kepada temen-temen di kelas tersebut.
"Waktu nya dua menit saja ya temen-temen.
kalau namanya kandidat yang di pilih sudah di tulis di kertas itu, tolong kertasnya di gulung saja ya temen-temen, setelah itu di kumpulkan kembali". Sambil menunggu yang lain menulis, salah satu anggota OSIS memberi pengarahan selanjutnya.
Begitu seterusnya, hingga dua belas kelas dari kelas X-XII SMK memberi suara nya melalui kertas kecil yang telah di berikan.
Setelah selesai pengambilan suara dari setiap kelas, selanjutnya kertas tersebut di kumpul kan di ketua OSIS.
Kegiatan belajar mengajar pun berlanjut dengan lancar.
***
Bel tanda jam belajar mengajar telah usai, semua siswa-siswi membubarkan diri, kecuali anggota OSIS kelas XII mereka berkumpul di kantor Cahyana.
Kantor pembimbing OSIS, karena kertas-kertas hasil vout dari setiap kelas tadi akan di buka dan di hitung.
Dan menjadi penentu, siapa yang akan menjadi ketua OSIS selanjutnya.
"Mila".
"Ilham"
"Mila lagi"
"Oriza"
"Ilham"
"Oriza"
Begitu seterusnya hingga kertas kecil habis di hitung dan di bacakan.
"Hasil voting ini jangan sambar bocor sebelum minggu depan, karena akan di umumkan kembali saat upacara bendera nanti". Cahyana memberikan putusan.
"Baik pak". Semua anggota OSIS menjawab serempak lalu membubarkan diri.
[Sudah sampai di rumah?]. Cahyana mengirim pesan kepada Oriza setelah semua anggota keluar dari kantor nyaa.
__ADS_1
[Sudah dari tadi]. Oriza.
[Sedang apa?]. Cahyana
[Sedang mengerjakan kerajinan tangan]. Oriza
[Oohhh, sudah makan?]. Cahyana.
[Sudah tadi]. Oriza
[Kenapa? Apa ada yang Oriza pikirkan?]. Cahyana
[Aku hanya takut terpilih menjadi ketua OSIS]. Cahyana tersenyum membaca balasan pesan dari Oriza.
[Jangan terlalu percaya diri... Bisa jadi orang lain yang terpilih]. Cahyana
[Syukurlah]. Oriza
Cahyana tidak membalas lagi pesan dari Oriza, pasalnya bel masuk telah berbunyi. Itu saat nya Cahyana mengajar jam sore, mengajar siswa-siswi SMP Bandung Raya.
Selesai mengajar, rasanya Cahyana sangat rindu kepada Nazwa padahal setiap hari bersamanya. Tapi kali ini rasanya berbeda, Cahyana pulang cepat dan ingin sekali bertemu dengan Nazwa.
***
Sementara itu di rumah Cahyana.
Dini datang seorang diri. Dari kejauhan Solihin melihat Dini, karena memang posisi Ihin sedang ada di lapang bola dan sedang nongkrong bersama teman-temannya di sana.
Solihin lalu berlari mencari ibunya, lalu mengatakan bahwa Dini datang.
"Mah ada Dini datang". Solihin
"Dimana Nazwa? Bawa dia ke dalam rumah! Jangan sampai Nazwa tahu kalau Dini datang!". Interupsi kepada Ihin.
Untung saja Nazwa sedang main di lamar bersama Imas, keponakan Cahyana.
Dini pun tiba di rumah Cahyana saat ibunya sedang membereskan karung padi di halaman rumahnya.
"Nazwa... Nazwa... ". Dini mencoba berteriak memanggil anak nya, tanpa mengindahkan mantan ibu mertuanya.
Datang tanpa salam, tanpa permisi malah tiba-tiba Dini berteriak-teriak memanggil anaknya.
Di dalam kamar Imas sengaja menyalakan lagu anak-anak agar Nazwa tidak mendengar kegaduhan di luar rumah.
Sepertinya berhasil, karena Nazwa hanya asik bernyanyi dan berjoget dengan riangnya.
"Nazwa... Nazwa... ". Dini mulai naik ke atas teras rumah mantan mertuanya tanpa melepaskan sandal yang dia pakai.
Dini mengintip jendela bagian depan rumah mantan ibu mertuanya, Berharap dia menemukan Nazwa.
"Ada apa?". Ibu mertua berteriak sambil menarik pundak Dini.
"Dimana Nazwa? Mengapa kalian mengambil nya dariku?". Dini melotot ke arah mantan ibu mertuanya.
"Dia juga cucuku". Ibu mertua tidak kalah emosi.
"Tapi aku ibu nya". Dini berteriak sambil menghentakkan kaki.
__ADS_1
"Tidak usah khawatir kan Nazwa, di sini kami mengurusnya dengan baik.
Bukankah di sini juga Nazwa tinggal bersama ayahnya?". Ucapan Ihin malah membuat Dini kesal.
"Dimana Nazwa.... ". Kembali Dini berteriak.
Tidak berapa lama Cahyana datang.
Melihat ibunya sedang menangis di teras rumah nya, emosi Cahyana langsung naik ke ubun-ubun.
"Ada apa kamu kemari". Cahyana mendorong Dini
"Aku akan menjemput Nazwa". Dini melotot sambil berkaca pinggang.
"Kamu boleh menjemputnya.. ". Dini tersenyum
"Tapi antarkan Annisa dan Use kemari". Kembali Dini kesal dengan ucapan yang di lontarkan Cahyana.
"Kembalikan Nazwa, dia anakku". Dini berteriak.
"Bagaimana kau akan mengurus Nazwa, sedang Annisa dan Use saja kau kirim ke panti asuhan?". Cahyana tak kalah berteriak karena Dini terus saja mengoceh.
Dini terdiam 'Bagaimana Cahyana tahu kalau Annisa dan Use aku kirim ke panti asuhan' begitu pikirnya.
"Sekarang katakan! Ke panti asuhan mana kamu mengirim Annisa dan Use?". Emosi Cahyana mulai mereda.
Dini hanya diam, dia telah terpojok.
"Jawab". Cahyana kembali berteriak kesal karena Dini hanya diam tidak menjawab pertanyaan Cahyana.
"Aku tidak akan pernah memberi tahu mu". Dini tersenyum Menyeringai.
"Dimana anak-anakku". Cahyana melotot ke arah Dini sambil mencengkram tangan nya dengan kuat
Dini meringis "Lepaskaaannn". Dia menghentakkan genggaman Cahyana.
"Aku tidak akan memberikan anakku kepada mu". Dini menatap Cahyana dengan berurai air mata
Tiba-tiba sekelebat bayangan Cahyana bersama Oriza menari-nari dalam ingatannya.
Bayangan Cahyana mengatakan bahwa dia mencintai Oriza, bayangan Cahyana tengah berbelanja bersama Oriza, serta perhatian-perhatian kecil Cahyana terhadap Oriza.
Seakan menegaskan bahwa Cahyana telah memiliki pengganti, Cahyana tidak lagi menginginkan Dini.
Dini terluka dan kembali hati nya kecewa. Namun Dini tidak pernah menyadari, bahwa dialah yang menyebabkan Cahyana berpaling.
"Cuuiiihhh, ibu macam apa kau yang membiarkan anaknya membawa wanita lain kedalam rumah tangganya". Dini meludah ke arah wajah mantan ibu mertuanya yang sedang tergugu di teras.
Plaakkk..!
"Kurang ajar". Cahyana kalah cepat dengan Ihin, Solihin telah lebih dulu menampar Dini.
Dengan dada kembang kempis Solihin menahan segala emosi, dia tidak terima ibunya di lecehkan seperti itu.
"Pergi kau dari sini. Pergi...!". Cahyana mengusir Dini sambil mendorong nya.
Dini pun pergi dengan derai air mata, dia tidak berhasil membawa Nazwa pulang kembali bersamanya.
__ADS_1
...****************...