MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 9. Cinta dan Benci


__ADS_3

Pukul delapan malam Cahyana tiba di rumah dengan perasaan bahagia walau pun tidak banyak ngobrol dengan Oriza. Namun di sisi lain di dalam hatinya, Cahyana merasa bersalah kepada Dini. Pasalnya Cahyana telah berbohong pulang telat karena ada urusan, padahal Cahyana pergi bersama Oriza.


Untuk sedikit mengurangi rasa tidak enak kepada Dini, Cahyana akhir nya membeli sesuatu kesukaan Dini dan anaknya. Sebelum tiba di rumah, beberapa meter sebelum nya Cahyana membeli satu porsi martabak telor, atau biasa di sebut juga martabak Bandung, atau martabak bangka.


Setelah selesai memesan dan mendapatkan martabak telor tersebut, Cahyana langsung menuju arah pulang, tentunya setelah membayar apa yang dia pesan.


Berjalan sedikit tergesa, Cahyana berharap Dini terutama anak-anak belum tidur. karena rasanya Cahyana rindu sekali kepada ke tiga anaknya.


"Assalamu'alaikum, ayah pulang.... ". Sambil membuka pintu Cahyana mencari anak-anaknya.


"Wa alaikumsalam ". Dini keluar dari kamar dengan sedikit membenarkan ikat rambutnya.


"Apakah anak-anak sudah tidur?". Cahyana tidak melihat apa lagi mendengar suara ketiga anaknya, biasa nya ketiga anaknya yang paling heboh menyambut di saat Cahyana tiba di rumah.


Bagi Cahyana, ketiga anaknya itu adalah obat rindu dan obat rasa lelah. Seketika rasa rindu dan lelahnya Cahyana hilang ketika bersama ketiga anaknya.


"Iya. Mereka menunggu dari tadi, mungkin ayah terlalu malam pulangnya". Jawab Dini seadanya.


Cahyana manggut-manggut mendengar penuturan Dini, "apakah kamu sudah makan? ini aku bawakan martabak telor kesukaanmu". Cahyana mencoba bersikap biasa.


"Kita makan bersama?". Bagi Dini ini adalah kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Cahyana.


"Baiklah". Cahyana mengiyakan saja ajakan Dini walau tadi dia sudah makan bersama Oriza, tidak enak jika harus menolak.


"Aku dengar lusa akan ada acara di sekolah". Dini memberanikan diri untuk membuka obrolan.


Cahyana tampak berfikir "Iya anak-anak satu sekolah berlibur ke tempat wisata yang ada di Ciwidey".


"Apakah aku boleh ikut?". Dini melontarkan tanya sambil mencoba menatap Cahyana, dia ingin tahu bagaimana ekspresi Cahyana dengan pertanyaan seperti itu.


"Ini hanya acara di sekolah, tidak untuk orang luar". Cahyana mencoba menolak secara halus.

__ADS_1


" Nanti kalau ada waktu, kita berlima akan pergi rekreasi yaa". Cahyana kembali berujar agar Dini tidak terlalu kecewa.


Dini hanya menanggapinya dengan sedikit senyuman, baginya yang di janjikan Cahyana hanya angin lalu. Buktinya, Cahyana pun malah asik bersama teman-teman mancing nya, atau sibuk dengan urusan di sekolah.


Biasanya, lelaki itu yang bisa di percaya adalah dari ucapannya. Tapi tidak bagi Cahyana, dia selalu ingkar janji. seolah dia lupa dengan apa yang telah dia ucapkan


Perasaan Cinta dan benci menjadi satu, lebih tepatnya mungkin bukan cinta tapi sayang. Nyatanya rasa cinta itu sedikit demi sedikit mulai memudar, dan rasa sayang yang Dini milih hanya sebatas bertahan demi ke tiga anaknya, dan demi masa depan anaknya.


Dinipun mengangguk tidak mau bertanya lagi, "Ayo tidur istirahat, sudah larut malam". Cahyana hanya menjawab dengan senyuman.


Cahyana dan Dini pun beranjak menuju kasur yang terpisah dengan ketiga anaknya. Mereka berdua tidur di kasur yang sama, Di ruang tv juga ruang keluarga menjadi satu.


Sebenarnya Dini sedang tidak ingin berdekatan dengan Cahyana, namun Dini kalah cepat, Cahyana keburu memegang tangannya dan menariknya kedalam pelukan.


Tidak ada aktifitas yang biasa suami istri lakukan di malam hari. Dini tidur dengan posisi membelakangi Cahyana, dan Cahyana memeluk Dini dari belakang.


Tidak lama terdengar dengkuran halus dari Cahyana tanda dia sudah lelap dalam tidurnya. Namun berbeda dengan Dini yang setengah mati menahan isak tangisnya agar tidak terdengar.


***


Cahyana tampak kaget mendengar pertanyaan Dini yang ingin ikut berlibur ke tempat wisata daerah Ciwidey, namun Cahyana mencoba menyembunyikan rasa gugup nya, dia berusaha bersikap biasa saja untuk menutupi kebohongannya, dan agar Dini tidak curiga.


Cahyana pun menarik nafas untuk mengisi udara pada rongga parunya, kemudian dia tersenyum dan mengiyakan saja ajakan Dini untuk beristrhat. Karena hari sudah larut malam, dan Cahyana pun sudah lelah sekali untuk hari ini.


***


Pagi ini Cahyana di sibukkan dengan aktifitas menyusun nomor tempat duduk yang sebelum nya sudah di catat siapa yang akan duduk dengan siapa. Tentunya Cahyana pun telah mengatur bahwa dia akan duduk bersama Oriza.


Tidak lupa Cahyana pun sudah memesan beberapa kotak berisi snak sebanyak orang yang mengikuti acara ini untuk saparan sebelum keberangkatan. Tidak lupa guru, sopir dan panitia pun ikut di hitung agar mendapat snak yang sama.


"Untuk bekal besok, apakah sudah membeli makanan ringan untuk di perjalanan?". Cahyana mengirim pesan yang secara tidak langsung mengingatkan Oriza tentang perbekalan agar tidak lupa dia bawa.

__ADS_1


"Tidak, aku bekal nasi saja". Cahyana mengkerutkan kening. Di saat teman-teman yang lain sibuk berbelanja untuk perbekalan besok, Oriza malah akan membawa nasi saja tanpa makanan ringan.


Teng... Teng... Teng...


Saking sibuk nya, Tidak terasa bel pulangpun berbunyi. Cahyana segera membereskan pekerjaannya, lalu berjalan tergesa menuju gerbang utama. Ya seperti biasa Cahyana menunggu Oriza, mungkin sedikit senyuman Oriza bisa mengobati rasa rindunya pada gadis itu.


Tidak lama gadis yang di tunggu-tunggu pun datang menuju gerbang, dia berjalan sambil menunduk karena sedang memainkan ponselnya.


Berpapasan dengan Cahyana, Oriza hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Langsung pulang?". Cahyana mencoba untuk menyapa Oriza.


"Tidak". Jawab Oriza singkat masih terus memainkan ponsel nya, sepertinya Oriza sedang berbalas pesan.


"Memangnya mau kemana dulu?". Tanya Cahyana penasaran, karena biasanya kalau pulang sekolah Oriza langsung pulang, kalaupun ada kerja kelompok, dia pasti pulang dulu.


"Mau ke rumah teman dulu". Jawaban Oriza membuat Cahyana khawatir.


"Aa temani yaa". Karena penasaran Cahyana pun menawarkan diri untuk mengantar Oriza. Setahu Cahyana Teman yang dekat dengan Oriza hanya Lani, teman sebangku nya.


Oriza mengangguk dan mulai berjalan ke arah kiri dari gerbang sekolah. terus berjalan melewati SPBU atau pom bensin.


"Temannya laki-laki atau perempuan?".Cahyana mencoba menetralkan perasaannya, bersiap dengan jawaban dari Oriza.


" Laki-laki". Dduuaarrrtttt... Bagaikan ada petir di siang bolong, hati Cahyana serasa di cubit.


'Aku cemburu kepada mereka yang selalu dapat bersamamu, tertawa denganmu, dan ada saat kamu butuhkan'. Cahyana membatin.


Tak lami Oriza berhenti, Cahyana pikir Oriza menyadari ke gundahan yang di rasakan Cahyana. Namun ternyata Oriza akan menyebrang, ke sebrang jalan menuju lapang yang luas di samping Padepokan.


Tidak lama Oriza pun pamit, rupanya di sebrang sana sudah ada seorang laki-laki, Cahyana memicingkan mata, rupanya laki-laki itu.......

__ADS_1


__ADS_2