
Setelah kejadian talak cerainya kepada Dini, Cahyana jadi lebih sering membawa Oriza berkumpul dengan keluarganya. Syukur nya, keluarga Cahyana pun menerima Oriza dengan tangan terbuka.
"Maukah menjadi kekasih Aa". Cahyana menatap Oriza dengan penuh harap.
Pernyataan Cahyana tersebut di saksikan langsung oleh kedua orang tua Cahyana, Solihin, serta kakak Cahyana di dalam rumah orang tuanya.
Oriza menggeleng sambil menunduk.
"Kenapa?". Tanya Cahyana kecewa.
"Aa kan punya istri". Cahyana tersenyum, ini pertama kalinya Oriza menyebut nya dengan panggilan Aa. Cahyana menghela nafas nya pelan mendengar jawaban Oriza.
"Aa sudah men-talaknya, kita sudah cerai". Pandangan Oriza beralih kepada Orang tua Cahyana, dan orang tua Cahyana pun mengangguk seolah mengatakan bahwa yang di katakan Cahyana benar adanya.
Oriza hanya terdiam.
"Aa dan Dini tinggal menunggu sidang". Cahyana mencoba terus meyakinkan Oriza.
"Selesaikanlah dulu". Cahyana tersenyum sambil mengangguk.
Setelah pembicaraan itu, semua yang ada di rumah Cahyana hanya mengobrol basa-basi. Membicarakan tentang waku panen sawah yang orang tua Cahyana urus, gor yang biasa di pakai olah raga oleh para warga sedang dalam perbaikan dan lain-lain.
Setelah cukup berbasa-basi, Cahyana dan Oriza pamit. Mereka berjalan keluar menuju sebuah bale dekat dapur tungku.
"Apakah dengan jawaban Oriza tadi, itu artinya adalah Iya". Cahyana memastikan dan Oriza hanya tersenyum.
Beberapa bulan berlalu, dan akta cerai pun sudah ada di tangan Cahyana.
Dengan senang hati Cahyana menunjukan nya kepada Oriza.
"Lihat apa yang akan Aa tunjukkan kepada Oriza". Dengan antusias Cahyana masuk kedalam rumah nya untuk mengambil sesuatu.
Oriza menerima akta cerai tersebut lalu membacanya.
"Apakah ini artinya?" Oriza tidak menyelesaikan kalimatnya.
Namun seakan Cahyana tahu apa yang akan di katakan oleh Oriza, Cahyana hanya tersenyum dan mengangguk.
"Iya Aa dan Dini telah selesai, secara agama maupun negara". Cahyana meyakinkan Oriza.
Oriza tersenyum.
"Tapi Aa izin untuk tetap memperjuangkan anak-anak Aa" Cahyana menunduk.
"Iya". Cahyana mendongak melihat ke arah Oriza dan mengucapkan terimakasih.
***
Semakin hari hubungan Cahyana dengan Oriza semakin dekat.
Cahyana pun tidak pernah menyimpan uang lagi di kantin untuk uang jajan Oriza, karena Cahyana sudah memberikannya secara langsung uang itu kepada Oriza.
[Pulang sekolah aku mau ke rumah teman]. Tiba-tiba pesan masuk dari Oriza, ini pertama kalinya Oriza menghubungi Cahyana.
[Mau Aa antar?]. Sebenarnya ada rasa cemburu di hati Cahyana yang bersaha dia redam.
[Tidak usah, aku tidak akan lama].
__ADS_1
[Baiklah]. Akhirnya hanya itu yang bisa Cahyana ucapakan.
Sebenarnya Cahyana begitu khawatir Oriza dekat dengan laki-laki lain, dia begitu takut untuk kehilangan lagi.
[Sudah pulang]. Sore setelah Cahyana selesai mengarajar dia mengirim pesan kepada Oriza.
[Sudah].
[Jam berapa sampai di rumah].
[Sekita sebelum waktu Ashar].
Cahyana menarik nafas lega, sesuai dengan dengan apa yang di katakan Oriza, dia tidak lama.
[Baiklah Aa bersiap untuk pulang].
[Iya].
Cahyana langsung membereskan kantor nya setelah mendapat jawaban dari Oriza. Sampai Cahyana tiba di rumah pun tidak ada lagi obrolan antara Cahyana dan Oriza.
[Sudah tidur?]. Cahyana mencoba kembali mengirim pesan namun tidak ada balasan.
[Oriza].-
Akhirnya Cahyana pun menelpon Orisa namun tidak di angkat.
***
Cuaca cerah matahari bersinar.
"Sudah berangkat?".
"Sudah".
"Sudah sampai mana?".
"Pertigaan". Cahyana tersenyum, itu artinya sebentar lagi Oriza sampai.
"Ohiya, semalam apakah sudah tidur? Aa telpon tapi tidak di angkat". Sebenarnya hanya basa-basi saja bertanya agar Oriza tidak jenuh di dalam angkot.
"Belum. Semalam aku mengerjakan tugas kerajinan tangan. Tidak tahu ada telpon karena ponsel nya silent dan sedang di charge".
Cahyana tersenyum di balik telpon nya, dia sendang Oriza sudah mulai banyak bicara kepada nya, dan mulai terbuka.
"Sebentar lagu aku sampai".
"Baiklah Aa tunggu".
Seperti biasa Cahyana selalu menunggu kedatangan Oriza di depan pintu kantor nya, sambil sesekali berbincang dengan siswa-siswi yang lain agar tidak ada yang curiga kalau sebenarnya Cahyana sedang menunggu Oriza.
Dari pintu kantor, Cahyana melihat Oriza turun dari angkot lalu memasuki gerbang. Cahyana dan Oriza hanya tersenyum ketika mereka berpapasan dan Oriza berlalu menuju kelasnya.
Teng... Teng... Teng...
Setelah bel masuk berbunyi, Cahyana meminta tolong kepada salah satu siswa untuk memanggil seorang siswi ke kantor nya.
Tidak berselang lama siswi itu pun datang untuk memenuhi panggilan Cahyana. Siswi itu masuk dan duduk setelah Cahyana mempersilahkan nya.
__ADS_1
"Apa kau tahu, dimana kakakmu berada?". Cahyana melihat siswi di depannya dengan tatapan megintimidasi.
"Dia ada di kota Tasik bersama ibu". Cahyana menarik nafas lega.
"Tapi tidak dengan anak-anak".
"Ma-maksudnya?". Cahyana belum bisa mencerna apa yang di katakan siswi tersebut.
Desi, adik dari Dini.
Saat ini hanya dia yang bisa di mintai informasi tentang Dini dan keberadaan ke tiga anaknya.
"Annisa dan Use di kirim ke panti asuhan, sedangkan Nazwa ada bersama ibu". Seakan ada yang mencekik Cahyana, nafasnya tiba-tiba sesak.
"Apa ada nomor yang bisa aku hubungi?". Desi hanya menggeleng.
"Baiklah. Terimakasih atas informasinya".
Cahyana segera mengakhiri percakapan nya dengan Desi, Cahyana tidak mau emosinya terlihat oleh Desi.
Seakan terkena petir di siang bolong, Cahyana begitu marah ingin sekali melempar apapun yang ada di hadapannya.
Hati nya sakit batinnya menangis, mendengar anak-anak yang begitu di cintai nya malah Dini kirim ke panti asuhan.
'kalau kau tidak mampu mengurus anakku mengapa tidak kau pulangkan saja kepada ku.. '
'mengapa malah kau kirim anakku ke panti'
'Aaaaaaa'. Cahyana menjerit tanpa suara, mengeluarkan semua sesak yang ada.
Namun di sela-sela kepedihannya Cahyana tetap harus profesional, dia tetap mengajar seperti biasa haha-hihi dengan anak didik nya. Padahal di dalam dirinya sedang kacau, pikirannya sedang tidak fokus.
[Pulang sekolah, bisakah ke kantor Aa?]. Di jam istirahat Cahyana mengirim pesan kepada Oriza.
[Ada apa?].
[Aa tunggu]. Cahyana tidak menjawab pertanyaan Oriza. Karena pikirnya nanti saja Cahyana jelaskan secara langsung.
Teng... Teng... Teng...
Bel pulang telah berbunyi, Cahyana menunggu Oriza dengan hati yang bimbang.
Beberapa saat menunggu, akhir nya Oriza mengetuk pintu dan masuk ke dalam kantor setelah Cahyana mengizinkan nya masuk.
Duduk di kursi panjang, Cahyana ingin bercerita kepada Oriza tentang apa yang dia rasakan. Namun Cahyana tampak ragu, terlebih Oriza baru saja selesai belajar pasti dia lelah, begitu kira-kira apa yang di pikirkannya saat ini.
"Besok Aa akan pergi ke Tasik untuk menemui Nazwa dan membawanya pulang". Akhirnya Cahyana berbicara hanya poin intinya saja.
Oriza menangguk "Hati-hati dijalan".
"Do'akan Aa, semoga Aa bisa membawa Nazwa untuk pulang".
"Iya".
Setelah pembicaraan singkat itu, Oriza pun pamit pulang dan Cahyana hanya mengantar Oriza sampai di depan pintu kantor ruangannya.
...****************...
__ADS_1