MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 8. Membeli Sesuatu


__ADS_3

Pukul tiga sore telah tiba, Cahyana pun telah selesai mengajar. Setelah selesai mengajar, Cahyana membereskan buku-buku dan merapihkan sedikit kantornya agar tidak terlalu terlihat berantakkan.


Dengan cepat Cahyana menuju kamar mandi setelah beres di kantornya. Cahyana mandi dan ganti baju lalu bersiap untuk menjemput sang belahan jiwa.


[Sudah siap?]. Cahyana mengirim pesan dengan hati yang berbunga-bunga.


[Sudah]. Sebuah balasan singkat dari Oriza.


[Aa berangkat]. Dengan semangat Cahyana berjalan keluar gerbang sekolah.


[Aa jemput pakai angkot]. Pesannya lagi, namun tidak ada balasan dari Oriza.


Setelah di luar gerbang, Cahyana pun menyebrang jalan lalu menunggu angkot karena arah rumah Oriza ke sebelah kanan dari sekolah. Tidak lama angkot berwarna hijau polet merah pun tiba. Cahyana pun naik, kebetulan kursi penumpang yang bersisian dengan supir kosong, jadi Cahyana duduk di depan.


[Aa sudah naik angkot]. Tulis pesan Cahyana agar Oriza bersiap.


[Iya, nanti kalau sudah dekat kabari lagi]. Balasnya.


Cahyana hanya senyum-senyum membayangkan dia akan pergi bersama Oriza, sungguh sangat membahagiakan bagi Cahyana.


***


Ting...


[Ayah pulang telat, ada urusan sebentar]. Sebuah pesan masuk ke nomor ponsel Dini, namun Dini tidak membalasnya.


Dini nampak kecewa, pasalnya dia telah menyiapkan makan malam yang romantis. Dini sengaja menyiapkan ini semua hanya untuk menarik perhatian Cahyana, agar Cahyana mau kembali bersama Dini sebelum semuanya terlambat.


Namun semuanya sia-sia ketika Dini membaca pesan dari Cahyana. Hati Dini berusaha percaya bahwa tidak ada kebohongan dari Cahyana, meskipun di hatinya tidak tenang dan menaruh curiga kepada suami yang dia kasihi itu.


***


[Sebentar lagi Aa sampai]. Tak lupa Cahyana mengabari Oriza seperti pesan yang dia minta.


[Kalau bisa tunggu di gapura yaa biar Aa tidak perlu turun dulu]. Lagi, Cahyana mengirim pesan.

__ADS_1


[Iya, ini sudah di gapura]. Pesan balasan dari Oriza.


"Kiri depan mang". Cahyana memberhentikan angkotnya.


Oriza pun naik angkot yang sama, dia duduk di depan bersama Cahyana.


Duduk berdekatan seperti itu untuk yang pertama kali dengan Oriza, hati Cahyana berdesir. Jantung nya berdetak tidak karuan seperti memompa darah seratus kali lebih cepat.


" Sudah makan?". Cahyana mulai perbincangan, tapi hanya di tanggapi dengan anggukkan dari Oriza.


Selama perjalanan di dalam angkot, Oriza dan Cahyana tidak terlibat obrolan lagi. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing, sampai akhirnya angkot pun tiba di terminal.


Berjalan bersisian menuju pusat belanja di kota Bandung, menjelajahj setiap toko. Cahyana berfikir akan membelikan sesuatu.


"Ekhem... ".Cahyana berdehem. Sedangkan Oriza hanya meliriknya saja.


" Apakah Oriza mau membeli sesuatu?". Cahyana mencoba bertanya.


"Iya". Jawab Oriza dengan singkat.


"Aku ingin membeli tas, tapi uang nya pasti tidak akan cukup". Jawab Oriza sambil menunduk.


Cahyana sedikit berpikir, dia baru ingat kalau tas Oriza memang sebaiknya di ganti. Kalau di ingat-ingat, sudah ada robekan dibagian depan tasnya, juga tali tas tersebut memakai peniti karena sudah tidak bisa di jahit lagi, seperti nya kain tas nya sudah rapuh.


Sambil tersenyum "Aku akan menambahkan uang untuk membeli tas jika kamu membutuhkannya". Selain Cahyana ingin memberi sesuatu kepada Oriza, mungkin dengan cara ini pula Cahyana bisa membantu Oriza.


"Benarkah?". Tanya Oriza dengan mata berbinar menatap Cahyana. Cahyana hanya menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Oriza.


Dengan langkah yang sedikit ringan, Oriza berjalan ke toko dimana dia menandai satu tas yang dia sukai. Tas tersebut berwarna abu muda motif polos, dengan warna polet dan resleting yang sama yaitu hijau muda biasa di sebut juga hijau pucuk. Ada beberapa resleting di bagian depan tas itu, dan beberapa saku-saku serta tempat laptop di bagian dalam tas yang besar, tidak lupa di bagian bawah tas tersebut ada resleting lagi tempat menyimpan jas hujan.


Tas itu terlihat simpel namun terlihat tegas juga untuk di pakai oleh seorang perempuan. Tidak di sangka dengan spesifikasi tersebut, Cahyana hanya menambahkan uang tiga puluh ribu rupiah. karena harga tas tersebut adalah delapan puluh ribu rupiah. Harga yang tidak terlalu mahal untuk Cahyana yang hanya menambahkan uang tiga puluh ribu rupiah.


"Terimakasih". Sambil tersenyum Oriza memandang Cahyana.


"Sama-sama". Cahyana membalas senyuman itu.

__ADS_1


Sepersekian detik Cahyana dan Oriza saling pandang. 'Aku menyayangimu'. Ucap Cahyana membatin.


"Mau makan baso?" Tawar Cahyana untuk mencairkan suasana yang mulai terasa canggung.


Oriza hanya mengangguk saja, karena memang dia juga sudah lapar.


Berjalan menuju gerobak penjual baso, Cahyana memesan baso "Mas mie ayam basonya dua yaa". Lalu mengambil tempat duduk yang berhadapan.


Tak lama pesanan baso pun datang, Cahyana dan Oriza makan dalam diam. Di sela-sela sedang makan mie ayam baso itu, tiba-tiba ponsel Cahyana bergetar. Ya sengaja tidak di beri nada dering agar tidak menimbulkan kecurigaan dari Oriza saat ponsel berbunyi.


"Untuk bekal liburan nanti sudah ada?". Sebenarnya pertanyaan dari Cahyana ini hanya basa basi saja, hanya untuk mengalihkan fokusnya pada ponsel yang terus saja bergetar.


"Alhamdulillah, ada". Sambil menyuapkan nasi ke mulut, Oriza menjawab pertanyaan Cahyana dengan singkat.


"Syukurlah". Cahyana manggut-manggut.


***


Di rumah, Nazwa anak bungsu Cahyana menangis pelan namun tidak berhenti-berhenti. Terus saja memanggil ayahnya, Dini pikir Nazwa sedang merindukan ayahnya, karena memang seharian ini Nazwa belum bertemu dengan Cahyana.


Akhirnya Dini mencoba untuk menghubungi Cahyana, namun tidak ada satupun panggilan yang di jawab oleh Cahyana. Dini tidak berfikir macam-macam, dia hanya menduga Cahyana sedang arah pulang jadi panggilannya tidak terdengar.


Dini memutuskan untuk berusaha menenangkan Nazwa sambil menunggu Cahyana pulang, hingga akhir nya Nazwa pun tertidur dengan lelap setelah lelah menangis menunggu sang ayah.


Nazwa tertidur di atas lengan Dini, begitu nyamannya begitu lelap nya. Dini hanya bisa menatap dengan perasaan sayang, sesekali Dini pun teringat pesan-pesan antara Cahyana dengan seorang wanita yang tidak dia ketahui siapa orangnya.


Namun segera dia tepis perasaan itu, perasaan cemburu dan kecewa yang memang tidak bisa di sembunyikan oleh seorang wanita. Dini masih mempercayai sang suami, seorang suami yang dulu sangat menyayanginya.


Ketika berdekatan dengan Cahyana, hati Dini tidak lagi bergetar. Memang Dini tidak pernah menolak permintaan suaminya, tapi itu hanya tugas seorang istri untuk melayani suami. Ya. Dini tidak menikmatinya lagi, dia merasa telah di khianati.


Wanita... Saat dia masih banyak bicara, maka rasa sayangnya masih ada.


Tapi saat bungkam...


Bisa jadi dia lelah.

__ADS_1


Bukan, bukan Dini tidak mau membahas perkara ini lagi bersama Cahyana. Namun Dini tidak mau obrolan nya sia-sia, Cahyana pun pasti mengelak menyebut Dini menuduhnya, atau berbicara yang mengada-ngada karena Dini tidak mempunyai bukti.


__ADS_2