
"Aa sudah sampai di rumah". Tidak lupa Cahyana mengabari Oriza.
" Istirahat lah".
"Nanti malam aa telpon yaa".
"Iya".
Nazwa sudah tidur mungkin dia sangat lelah karena memang perjalanan yang cukup jauh memakan waktu hingga tiga jam.
Cahyana segera membersihkan diri di kamar mandi, melepas semua lelah dan keringat setelah seharian di luar rumah.
Hati nya sungguh bahagia bisa membawa Nazwa pulang, dan perjalanan yang jauh nya tidak berakhir dengan sia-sia.
Perasaannya kepada Dini sudah habis tidak tersisa. Sekarang Cahyana mencurahkan cinta kasih kepada ke tiga anaknya juga Oriza.
Saat Cahyana keluar dari kamar mandi, Nazwa rupanya sudah bangun dan sedang duduk di pangkuan abah nya, ayah dari Cahyana.
"Nazwa makan yaa? Ayah siapkan?".
Nazwa mengangguk sambil bergumam "Mamam mamam... ".
Segera Cahyana masuk kedalam rumah dan sedikit menyisir rambutnya. Cahyana lalu menyiapkan nasi dan menyiramnya dengan kuah sayur.
Prok.. Prok..
Nazwa bertepuk tangan, sepertinya dia juga sudah sangat lapar. Nazwa makan dengan lahap, Cahyana menyuapi Nazwa hingga tidak terasa nasi beserta sayur yang ada di mangkok tandas tidak tersisa.
Malam pun tiba, Nazwa ingin tidur bersama neneknya. Cahyana pun tidak bisa memaksa, mungkin kedua orang itu sedang saling merindukan.
Panggilan terhubung.
"Sudah tidur?". Ucap Cahyana kepada Oriza.
" Belum".
"Apa sedang ada yang di kerjakan". Takutnya mengganggu begitu pikirnya.
"Hanya sedang menyiapkan baju untuk praktek renang besok".
"Oohhh. Di kolam renang mana?".
"Di kolam renang XX".
"Kebetulan itu kolam renang dekat dengan rumah Aa".
" Ohya?"
"Besok sebelum berangkat ke kantor Aa dulu ya".
"Ada apa?".
"Ada sesuatu yang ingin Aa sampaikan".
"Iya"
"Ya sudah selamat tidur dan beristirahat".
Ke duanya sepakat mengakhiri telpon.
" Hhhaaaahhhh...". Cahyana pun mulai berbaring di kasur nya yang nyaman.
Meluruskan pinggang dan punggung nya yang sangat pegal setelah perjalanan jauhnya tadi pagi hingga sore hari.
Diam hening Cahyana menatap langit-langit kamarnya, Perlahan matanya mulai berat dan berair karena sangat lelah dan mengantuk, hingga tidak terasa matanya mulai terpejam dan tenggelam dalam tidur nya. Bersiap menyambut hari esok.
__ADS_1
Pagi hari Cahyana telah bersiap dan tubuh nya sudah segar seperti menemukan semangat baru.
***
Beberapa siswa-siswi sudah ramai berdatangan menuju gerbang sekolah. Di halaman sekolah pun terlihat di beberapa sudut ada siswa-siswi yang sedang ngobrol, jajan di kantin, ngemil sambil ngobrol kesana kemari, ada juga beberapa siswa yang main bola ringan.
Cahyana pun sudah sampai di kantor nya.
"Sudah berangkat?". Seperti biasa Cahyana pasti mengirim pesan kepada Oriza.
"Sudah, ini di kelas lagi sarapan". Tumben Oriza sepagi ini sudah ada di kelasnya, begitu pikir Cahyana.
"Ya sudah nanti bisakan jam istirahat ke kantor Aa?".
"Iya".
Cahyana segera berganti baju mengenakan pakaian olah raga, karena sebentar lagi bel masuk berbunyi dan Cahyana ada jadwal mengajar di jam pertama.
Teng... Teng... Teng...
Jam istirahat pun tiba.
Dari kejauhan, Cahyana melihat Oriza menuruni tangga dia berjalan menuju kantin sebelum akhirnya Oriza menghampiri Cahyana yang sedang berada di depan pintu kantor nya.
"Masuk yuk".
"Makanannya?"
"Tidak apa-apa, bawa masuk saja".
"Baiklah". Oriza mengikuti langkah Cahyana dari belakang. Dan duduk di kursi yang di tunjuk oleh Cahyana.
"Kemarin Aa sudah berhasil membawa Nazwa pulang". Sengaja Cahyana menggantungkan kalimatnya.
" Syukurlah".
"Ada apa? Apa semua baik-baik saja?". Tanya Oriza.
"Annisa dan Use tidak pulang bersama ku". Suara Cahyana agak berat.
"Kenapa?".
"Dini mengirim mereka ke panti asuhan, dan aku tidak tau di panti asuhan mana serta di kota mana mereka tinggal". Terlihat gurat kesedihan pada wajah Cahyana.
Oriza hanya diam saja menanggapi cerita Cahyana. Tapi bagi Cahyana itu saja cukup membuatnya lega, setidaknya Cahyana ada teman untuk berbagi lukanya.
"Jadi renang setelah pulang sekolah?". Cahyana mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak terlalu sedih.
"Iya".
"ini". Cahyana memberi sesuatu kepada Oriza.
"Apa ini?".
"Ini adalah kartu akses masuk ke kolam renang itu. Tunjukkan saja kartu ini kepada petugas tiket, dia akan langsung tau pemilik kartu ini.
kamu tinggal masuk saja, tidak usah bayar".
Oriza manggut "Terimakasih". Cahyana hanya tersenyum
Oriza pun pamit untuk kembali menuju kelasnya.
Tidak terasa jam belajar mengajar telah selesai untuk hari ini, siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya.
Oriza pun terlihat berjalan sendiri menuju gerbang setelah sebelum nya Oriza pamit kepada Cahyana yang selalu setia menunggu di depan pintu kantornya ketika jam pulang tiba.
__ADS_1
Cahyana pun dengan semangat nya langsung pulang setelah selesai jam mengajar sore karena ingin segera bertemu dengan Nazwa, anak bungsunya.
Setelah sampai di rumah, Tiba-tiba ponsel Cahyana berbunyi tanda ada pesan masuk.
Namun raut wajah Cahyana berubah masam setelah membaca pesan dari seseorang itu.
***
Sore hari, malam hari bahkan esok pagi pun Cahyana tidak ada mengirim pesan kepada Oriza.
Dia hanya ingin berbicara langsung dengan Oriza, akhirnya Cahyana berangkat lebih pagi agar bisa bertemu lebih dulu dengan Oriza.
Sengaja Cahyana menunggu Oriza di depan pintu kantornya, berbicara dengan ketua dan wakil ketua OSIS. Namun baru saja berbasa-basi, tiba-tiba Oriza muncul dan menghentikan pembicaraan Cahyana dan anggota OSIS.
Oriza berhenti di hadapan Cahyana karena Cahyana yang memanggilnya.
"Jam istirahat kalian ke kantor bapak yaa". Cahyana berujar di sambut dengan anggukkan ketua dan wakil ketua OSIS tersebut.
"Masuk yu". Cahyana tidak mau ada yang mendengar pembicaraan nya dengan Oriza. Oriza pun mengikuti langkah Cahyana dari belakang.
"Kemarin berangkat renang dengan siapa apa?". Cahyana sedikit menahan emosi.
"Dengan teman".
"Naik motor? Laki-laki?". Cahyana langsung menodong Oriza dengan pertanyaan.
"I-iya. kenapa tahu?".
"Pak Tatang yang memberi tahuku". Oriza hanya merunduk
"Kenapa pergi bersama dia?".
"Kebetulan satu arah, dan... ".
"Dan?". Cahyana mentapa Oriza.
"Aku tidak punya ongkos, hanya cukup untuk ongkos pulang". Oriza merunduk.
"Kenapa tidak bilang?".
"Aku tidak mau merepotkan".
"Aa kan bisa antar, atau paling tidak Aa akan kasih untuk ongkos". Cahyana mulai luluh.
"Maaf".
"Lain kali bilang yaa jika perlu atau butuh sesuatu.
Kalau Aa mampu, Aa akan usahakan semaksimal mungkin".
Oriza mengangguk "Terimakasih".
Oriza lalu pamit untuk pergi ke kelasnya.
Cahyana menarik napas pelan, semakin dia sayang semakin pula dia cemburu.
***
Jam istirahat pun tiba.
Seperti yang telah di janjikan, ketua dan wakil ketua OSIS datang menuju kantor Cahyana.
Tok... Tok... Tok...
"Masuk". Kedua orang itu mengangguk setelah di persilahkan masuk oleh Cahyana.
__ADS_1
"Maaf tadi pembicaraan sempat terputus".
...****************...