
Di suatu hari yang cerah, matahari tampak berseri-seri. Namun tidak dengan sebuah hati yang berusaha selalu dia jaga.
Setelah beberapa bulan berlalu, setelah kejadian wisata Ciwidey tempo hari, hubungan Cahyana dengan Oriza malah semakin dekat meski mungkin kini Oriza mengetahui kalau Cahyana telah mempunyai anak dan juga istri.
Waktu itu hari libur, Cahyana bahkan dengan sengaja membawa seorang gadis untuk bertemu dengan Dini. Tidak butuh lama, Dini pun berkenalan dan mengetahui bahwa wanita itu bernama Oriza.
'Jadi ini gadis yang membuat Cahyana tergila-gila'. Gumam Dini sambil memperhatikan Oriza yang sedang bermain bersama Use.
Oriza sangat dekat dengan ketiga anaknya. Annisa, Use bahkan juga Nazwa, ketiga anak nya itu memanggil Oriza dengan sebutan kakak. Bermain bersama dan tertawa bersama, menurut Dini, Oriza telah berhasil mendekati ke tiga anaknya,
Lelaki mana yang akan mundur jika cintanya terbalas, bahkan wanita itu dengan senang hati menerima ketiga anak nya sekaligus.
Tidak lama Oriza pun pamit pulang kepada Dini. Oriza adalah seorang wanita yang ramah dan baik hati, begitu kira-kira penilaian singkat Dini terhadap Oriza.
"Aku antar dulu Oriza pulang". Pamit Cahyana kepada Dini.
Dini hanya mengangguk tak mampu berkata-kata, dia berusah menyembunyikan air mata yang sebentar lagi akan menganak sungai. Sakit hatinya tiada terkira.
Cahyana pergi setelah mendapatkan izin dari Dini, tanpa dia sadari ada hati yang begitu terluka, dan ada air mata yang mengalir melepas kepergian Cahyana untuk mengantar Oriza pulang.
'Apakah kau sudah tidak mencintai aku lagi'.
'Apakah kau lebih mencintai wanita itu'.
'Apa aku sudah tidak menarik lagi hingga kau tega berpaling'.
Beberapa pertanyaan memenuhi isi pikiran Dini yang tengah menangis. Pilu, kecewa, dan terluka. Di sela-sela tadi Oriza yang sedang bermain dengan ketiga anaknya, Dini mencoba memberanikan diri untuk bertanya kepada Cahyana.
"Apa kau mencintai gadis itu?".
" Iya aku mencintainya". Bagaikan petir di siang bolong, Dini terkejut dan sangat sakit hati dengan pengakuan Cahyana yang begitu jelas.
"Siapa yang lebih kau cinta? Dia atau aku?". kembali Dini melempar tanya.
__ADS_1
" Kamu adalah ibu dari anak-anakku". Cahyana menatap Dini.
"Jadi?". 'siapa yang lebih kau cinta' jerit Dini di dalam hati.
Cahyana tidak bergeming, dia hanya diam saja.
'Apa salah dan kurangkuuuuuu, setiap hari aku mengurus dirimuu, mengurus anak-anakmuuuu, mengurus rumah tangga dan melayanimuuuu'
'Aaaaaaaaaaa kau malah berbuat gila, semakin gilaaaaaaaa'. jerit Dini dengan suara tertahan takut ada orang lain yang mendengar.
Tangis Dini di dalam kamar kian menjadi seiring dadanya yang semakin sesak. Untung anak-anaknya di ajak main oleh Solihin, adik dari Cahyana. Jadi Dini leluasa untuk mengeluarkan sesak di dalam dada.
***
Berjalan menuju gapura untuk menunggu angkot, Cahyana dan Oriza saling diam, larut dalam pikirannya masing-masing.
Tiba di gapura pinggir jalan raya, tidak berselang lama angkot berwarna hijau polet merah menghampiri. Oriza dan Cahyana duduk bersisian masih dalam keadaan saling diam.
Di tengah perjalanan, hujan turun dengan sangat lebat, angin dan gundur yang lumayan kencang menambah suasana dingin dan takut-takut di dalam angkot.
Cahyana langsung pulang putar arah ketika melihat Oriza sudah masuk ke rumahnya. Cahyana tidak ikut masuk karena takut akan ada pertanyaan dari orang tua Oriza.
Cahyana pun bukan tidak mau hanya saja dirinya belum siap, karena mungkin akan sangat memalukan jika lelaki yang masih beristri nekad mendekati seorang gadis. Tapi Cahyana bertekad suatu saat nanti dirinya akan menghadap dan meminta izin kepada orang tua Oriza untuk mempersunting nya.
Cahyana hanya menunggu waktu, dia tidak berniat untuk poligami.
Tidak terasa Cahyana pun sudah tiba lagi di gapura dan menunggu angkot menuju arah pulang, setelah sebelumnya dia menyeberang jalan. Karena arah pulang berada ke sebelah kanan dari gapura.
***
Di angkot Cahyana tenggelam dalam lamunan. Sebelum kejadian hari ini dia membawa Oriza ke rumahnya untuk bertemu dengan Dini, beberapa bulan yang lalu sering terdengar kabar bahwa Dini pergi bersama seorang pria tengah menyewa kamar.
Ada juga salah satu teman Cahyana yang bekerja sebagai admin di sebuah hotel penginapan XX, dia mengirimkan foto kepada Cahyana.
__ADS_1
"Bro apa ini bini lho?". Teman Cahyana itu mengirim pesan beserta foto.
Cahyana sangat terkejut melihat foto yang di kirim temannya, karena jelas-jelas wanita yang ada di foto itu adalah Dini, istrinya. Cahyana pun sangat mengenali pakaian dan sandal yang biasa Dini pakai.
"Mungkin mirip bro". Cahyana masih menutupi kebenaran.
"Iya juga sih. Bisa semirip itu yaa". Balas temannya yang di abaikan oleh Cahyana.
'Logikanya, jika seorang perempuan dan laki-laki pergi dan menyewa kamar di penginapan. Tidak mungkin kalau mereka hanya sebatas teman curhat, pasti ada maksud lain'. kira-kira begitu yang ada dalam pikiran cahyana.
Cahyana menyimpan dan menyembunyikan foto yang di kirim oleh temannya itu untuk jaga-jaga jika suatu saat foto itu di perlukan sebagai bukti penyelewengan istrinya terhadap Cahyana.
"Bro gue lihat istri lho sedang makan baso bersama seorang pria".
"Iyan istrimu di bonceng lelaki mesra sekali sampai peluk begitu".
Dan masih banyak lagi laporan yang masuk tentang istrinya itu, serta kesemua laporan tersebut di barengi oleh foto.
Mustahil jika Cahyana tidak percaya bahwa semua info yang di dapat itu benar adanya. Dari semua foto yang telah terkumpul, laki-laki yang berada dalam setiap foto wajah nya berbeda-beda.
'apa itu artinya Dini..... '.
Terakhir bulan lalu, Cahyana mendapat kabar bahwa Dini istrinya itu sering membawa dan memasukkan laki-laki yang berbeda ke dalam rumah ibunya.
Ibunya Dini adalah seorang janda. Biasanya Ibunya Dini langsung membawa anak-anak Cahyana pergi setelah Dini dan laki-laki yang di bawanya masuk ke dalam rumah.
'Berarti ibunya Dini juga tahu bahwa Dini sering gonta-ganti pria'. Cahyana mencoba mengurai benang kusut yang ada di dalam pikirannya.
***
Tidak terasa angkot yang di tumpangi Cahyana telah sampai di gapura, Cahyana berjalan dengan sedikit tergesa di sebabkan hujan dia kedinginan dan basah kuyup.
Tok... Tok... Tok...
__ADS_1
Cahyana sudah sampai rumah, cepat Dini menyeka sisa air mata yang ada di pipinya lalu sedikit berlari menuju pintu dan membuka kunci.
Sebelum nya Dini terus menarik nafas berat yang di sebabkan oleh dada nya yang sesak, setelah tenang tiba-tiba Dini menyeringai seperti mendapatkan ide baru.