
"Ibu apakah Iyan sudah pulang?". Tanya seorang perempuan kepada Sumarni, ibu dari Cahyana yang sedang duduk di bale dekat dapur tungku.
" Belum, sepertinya masih dalam perjalanan".
"Ibu, apakah ibu pernah melihat Iyan membawa wanita lain ke sini". Tanya nya lagi
"Kenapa kamu menghianati anak Ibu?". Sumarni melirik wanita itu dengan ekor mata nya.
"Maksud ibu?". Wanita itu tampak gusar.
Sebelum Dini tiba di rumah Cahyana, beberapa tetangga menuju rumah Cahyana melihatnya dan saling berbisik.
"Masih punya nyali dia datang kemari".
"Sebentar lagi proses cerai, tahu rasa kau".
"Kalau aku mending pergi dan menghilang, dasar muka tebal".
" Cantikan wanita yang sekarang mana masih muda".
Dan masih banyak lagi kata-kata yang Dini dengar. Namun kalimat terakhir yang Dini dengar membuat dia bertanya-tanya
'Siapa wanita yang di bawa Iyan kemari?'
'Apakah Oriza?'
'Atau ada wanita lain'
Berbagai macam pertanyaan melayang di pikiran Dini.
"Dimana ke dua cucu ku?". Tidak menjawab pertanyaan Dini, Sumarni heran karena tidak melihat ke dua cucu nya bersama Dini.
" Di rumah bersama ibuku".
"Bu, apakah ibu tau nama wanita itu". Lagi Dini bertanya.
Sumarni ibu dari Cahyana hanya menggelengkan kepala tanpa beucap lagi. Memang Sumarni ini tipe wanita yang jarang ngobrol atau Sumarni tidak suka obrolan basa-basi.
Geram Dini tidak mendapatkan jawaban apapun dari ibu mertuanya,
"Maaf bu, bukan aku yang menghianati anak ibu. Tapi Iyan". Dini membela diri.
"Bukankah kamu yang memulai?". Wajah Dini terlihat kaget, lalu menunduk.
'Hah? Apa ibu tahu semuanya? Apa Iyan sudah mengetahuinya sebelum Iyan dekat dengan Oriza?'
'Tapi sejak kapan? Bahkan Cahyana tidak pernah sedikitpun membahas perihal ini'.
'Selama ini bahkan Cahyana selalu bersikap baik kepada ku'
__ADS_1
Pelan-pelan timbulah penyesalan di dalam hati Dini. Dini menyesal telah menghianati Cahyana, kini Dini sadar rumah tangganya di ambang kehancuran. Bahkan sepertinya ibu mertuanya pun tidak akan membelanya.
Beberapa saat kemudian, datanglah Solihin yang biasa di panggil ihin oleh kakak-kakaknya. Datang bersama Use yang tangannya ada dalam genggaman.
"Mamah..... ". Use berteriak memanggil Dini.
Dini langsung berdiri dari duduk nya menghampiri Use dan memeluk nya dalam dekapan.
"Use ayo mandi dulu". Solihin merebut Use dalam gendongan Dini.
Nanar mata Dini melihat Solihin, adik dari Cahyana yang bahkan tidak sedikit pun melihat ke arahnya atau bahkan sekedar menyapa pun tidak.
Dini menunggu Use mandi dengan sabar. Hingga akhirnya seorang laki-laki datang.
Cahyana menghentikan langkahnya saat tahu ada Dini yang sedang duduk di bale tidak jauh dari ibunya yang sedang duduk.
Cahyana masuk ke rumah berusaha tanpa mengeluarkan suara, tapi Dini segera menyadari bahwa Cahyana telah pulang dari tempatnya bekerja.
Dini segera menghampiri Cahyana sebelum Cahyana menutup pintu rumahnya.
"Kenapa kau bersikap seperti itu padaku".
Cahyana geram, emosi mendengar pertanyaan Dini. Bukannya meminta maaf dan menyadari kesalahannya.
" Mengapa kau menghianatiku? Bahkan dengan beberapa laki-laki". Emosi Cahyana setengah berteriak, dia sudah tidak bisa menahan sesaknya di dada.
"Kamu bicara apa?". Sok tidak tahu dia malah bertanya.
Dini gemetar hebat, merasa ciut dan takut setelah dia membuka ada tiga video yang membuktikan penghianatan nya.
'Aku kalah, sekeras apapun aku mempertahankan rumah tangga. Iyan pasti tidak akan mau menerima ku kembali'.
"Dini binti Suganda, aku talak dirimu, dan ku kembalikan kamu kepada orang tuamu. Mulai hari ini kamu bukan istriku lagi". Ddduuuaarr
Dini menangis dalam diam, air matanya bercucuran tanpa cuara. Dia hanya menepuk-nepuk dadanya yang sesak.
" Mengapa tidak memberiku kesempatan?". Dini mulai terisak.
"Untuk apa? Kamu pun melakukan itu dengan senang, tanpa beban, dan tanpa penyesalan. Aku tidak mau menanggung dosamu". Cahyana memalingkan wajahnya, dia tidak mau melihat ke arah Dini.
"Setidaknya, bertahanlah untuk anak-anak ". Dini menunduk
"Haha, biar anak-anak aku yang bawa. Biar anak-anak aku yang urus dengan segenap cinta dan kasih".
"Dimana kedua anakku?".
"Ayaaaahhh... ". Use memanggil Cahyana sebelum dia mendapat jawaban dari Dini.
Tiba-tiba Dini menyeringai, seperti mendapatkan sebuah lampu secara tiba-tiba di atas kepalanya, Dini memikirkan sebuah rencana.
__ADS_1
"Baik aku terima talakmu". Tiba-tiba Dini bersuara.
"Jangan hadir di acara mediasi dan sidang, agar proses tidak bertele-tele dan cepat selesai". Cahyana mendelik.
Dini tidak menjawab dia langsung memanggil Use "Use mau ice cream?". Use melihat ke arah Dini dan langsung mengangguk.
"Jangan bawa anakku!". Cahyana berujar.
"Aku akan membawa Use ke warung di depan sana untuk membeli ice cream". Sebernarnya itu hanya alasan saja.
"Baiklah, jangan lama!".
Dini berlalu dan keluar dari rumah Cahyana bersama Use yang berada dalam gendongan. Sebenarnya ini hanya alasan Dini saja agar bisa membawa Use keluar dari rumah, dan berhasil. Cahyana tidak curiga sedikitpun kepada Dini.
Dini sangat terluka dengan talak cerai yang telah di ucapkan oleh Cahyana, jadi dia bertekad untuk membawa Annisa, Use dan Nazwa bersama dirinya, keluar dari rumah tanpa membawa sehelai pun baju ganti.
Sambil menahan tangisnya, Dini pergi dengan segenap dendam dan kecewa. Dia merasa Di buang, dan di cari kesalahannya agar Cahyana bisa bersama Oriza.
Melihat pandangan yang menjijikkan dari para tetangga sepanjang jalan membuat Dini malu.
'Apakah video tersebut telah tersebar?'
'karena tidak mungkin jika Cahyana yang bercerita kepada para tetangga'.
Tiba di warung depan di samping gapura, sesuai janjinya Dini membelikan Use ice cream dan camilan untuk bekal di perjalanan.
Selesai membayar Dini langsung menaiki angkot hijau polet merah menuju tol untuk selanjutnya naik bus mini menuju kota Tasik.
Use yang belum pandai berbicara hanya bertanya lewat sorot matanya. Seakan bertanya 'kita mau kemana?' karena Use seperti merasa gelisah tidak mau duduk anteng.
"Use kita mau ke Tasik, ke rumah nenek. Disana juga ada kak Annisa sama dek Najwa". Seperti nya Dini paham apa yang ingin Use katakan.
"Use maukan bertemu sama kakak dan adek?". Use hanya bertepuk tangan menanggapi pembicaraan ibunya.
***
Di rumah Cahyana.
Setelah Cahyana keluar dari kamar mandi dan membersihkan diri, dia celinguka, seperti nya dia mencari sesuatu.
"Apa Use telah kembali?". Cahyana bertanya kepada Ihin.
"Aku tidak melihatnya sejak tadi dia di bawa oleh wanita itu". Sepertinya Ihin lebih kesal terhadap Dini, pasalnya dia menyebut Dini dengan panggilan wanita itu.
Geram Cahyana memukul tembok yang ada di dekatnya. Sudah Dia di hianati sekarang dia merasan tertipu oleh Dini yang katanya sekedar membawa Use untuk membeli Ice Cream.
Lunglai Cahyana kehilangan segalanya, karena Annisa, Use dan Nazwa adalah harta yang paling berharga bagi Cahyana.
'kemana ayah harus mencari kaliaaannn... '. Cahyana berteriak tanpa suara di dalam rumah nya. Apalagi tadi Dini tidak mengatakan dimana anak-anaknya.
__ADS_1
"Aaaaa sial!". Cahyana frustasi.
...****************...