MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 7. Pertama Jalan-jalan


__ADS_3

Seseorang mengintip di balik tirai, tirai yang menghubungkan antara kamar dan ruang tamu sekaligus ruang keluarga karena bangunan rumah yang begitu sederhana.


Tanpa di sadari oleh pria yang sedang duduk sambil tersenyum menatap ponselnya, mata yang bersembunyi di balik tirai terus saja mengamati ekspresi pria tersebut.


Tanah dan rumah yang cukup sederhana itu adalah milik orang tua Cahyana. Cahyana belum mampu membangun rumah karena memang gaji sebagai guru honorer tidaklah besar, apalagi mengingat kalau Cahyana hanya mengajar di satu sekolah saja.


Ya. Dia adalah Dini istri dari pria yang bernama Cahyana. Awalnya Dini akan keluar dari kamar setelah dia menidurkan anak bungsunya, Nazwa. Tapi ketika Dini melihat Cahyana di balik tirai, hatinya berdenyut nyeri. Cahyana seperti seseorang yang sedang jatuh cinta, kalaupun seandainya Cahyana berbalas pesan dengan teman pria, siapapun akan curiga melihat ekspresi nya yang senyum-senyum begitu.


Dini akhirnya memutuskan untuk tidak keluar kamar, dia menghabiskan malam sambil menangis. Menangisi sikap suami nya yang dingin, Dini merasa tak di inginkan lagi oleh suaminya


Wanita menangis bukan berarti dia lemah, tapi wanita menangis sebenarnya dia sedang mengumpulkan kekuatan baru.


***


[Sudah berangkat?]. Cahyana mencoba mengirim pesan kepada Oriza, seperti biasa Iyan menunggu Oriza di pintu gerbang utama.


[Sudah, sebentar lagi sampai]. Tersenyum Cahyana membayangkan sebentar lagi sang pujaan hati akan segera tiba.


[Tapi Macet]. Kembali pesan dari Oriza.


[Macet dimana?]. Cahyana sedikit heran.


[Di pertigaan yang ada pangkalan ojeg]. Cahyana manggut-manggut setelah membaca pesan balasan dari Oriza.


[Angkotnya maju tidak?]. Cahyana membalas pesan dengan perasaan sedikit khawatir.


[Tidak. Macet parah].


[Turun, masuk gang yang ada di pinggir pangkalan ojeg. Aa jemput]. Cahyana mengetik dengan cepat.


[Iya]. Setelah mendapat balasan dari Oriza, dengan tergesa Cahyana pun berjalan menuju tujuan. Cahyana tidak menggunakan motor, karena selain Cahyana tidak punya motor, gang yang akan di lewati oleh Oriza pun terbilang sempit dan susah untuk motor putar arah.


Beberapa saat kemudian, Oriza dan Cahyana bertemu di gang setelah Oriza setengah jalan. Cahyana melempar senyum kepada Oriza, namun Oriza hanya membalas anggukkan dengan wajah datar.


Cahyana sedikit mengkerutkan kedua alisnya tanda dia heran, namun tidak terlihat oleh Oriza karena dia menunduk.

__ADS_1


Ada hati yang sedang berbunga-bunga pagi ini, Oriza dan Cahyana berjalan bersisian namun tidak ada satu orangpun dari mereka yang memulai pembicaraan.


Saat Oriza dan Cahyana berjalan menuju sekolah, setiap mata memandang kepada mereka. Tak jarang para siswi dan siswi pun saling berbisik..


"Cie.. ciee...". Sorak beberapan anak laki-laki yang sedang duduk di bangku sebuah konter isi ulang pulsa.


" Itu pak Iyan kenapa bisa-bisanya datang bareng Oriza?"


"Iya, padahal meraka kan beda arah". Bisik-bisik para siswi sedikit terdengar di telinga Oriza dan Cahyana.


Oriza dan Cahyana pun hanya saling pandang, lalu pandangan Cahyana pun beralih pada sebuah gerobak penjual gerengan yang biasa Oriza beli.


Cahyana pun sudah hafal gorengan apa saja yang di sukai Oriza. Menatap Oriza sambil mengarahkan dagunya ke penjual gorengan, seolah bertanya kepada Oriza. Oriza hanya menganggukkan kepala untuk menjawabnya, tidak lama Cahyana pun memesan gorengan untuk Oriza.


***


"Ciee... Si bro punya kecengan baru". Goda Ghani kepada Cahyanaa di kantor nya.


Ya. Kantor Cahyana terletak di sebelak ruang guru. Cahyana mempunyai kantor sendiri karena memang Cahyana adalah salah satu staff di sekolah SMK Bandung Raya tersebut.


"Sok Tahu". Cahyan menjawab sambil mengerlingkan matanya.


" Pasti Norma yang cerita, iyakan?". Cahyana coba menebak siapa kiranya yang menyebarkan gosip ini.


"Ahahahha". Ghani malah tertawa menanggapi pertanyaan dari Cahyana.


Melihat Ghani berlalu, Cahyana hanya menggelengkan kepala. Di dalam relung hatinya, Cahyana pun tidak tahu mengapa perasaannya kepada Oriza sebesar ini.


***


Di sela-sela kesibukan Dini mengurus ketiga anaknya, tiba-tiba ponsel nya berdering tanda ada sebuah panggilan telpon masuk.


Dini berbincang dengan seseorang di telpon, memberikan sedikit informasi. Dini mengkerutkan kening lalu mematikan telpon, seketika air mata itu mengalir begitu saja tanpa di beri aba-aba.


***

__ADS_1


[Oriza, nanti pulang sekolah jadikan kita jalan-jalan]. Cahyana mengirim pesan kepada Oriza, mencoba memastikan tentang obrolannya kemarin dengan Oriza bahwa sepulang sekolah akan jalan-jalan ke bandung kota.


[Iya, tapi aku pulang dulu]. Tersenyum membaca pesan Dari Oriza.


[Baiklah, nanti Aa jemput setelah selesai mengajar sore]. Cahyana membalas pesan dengan begitu semangat.


Tak ada lagi balasan dari Oriza. Jam sore Cahyana mengajar pula anak SMP Bandung Raya dengan mata pelajaran yang sama yaitu mata pelajaran olah raga. Biasanya Cahyana selesai mengajar pukul tiga sore, selebihnya tidak ada lagi kegiatan. Jadi Cahyana bisa pulang lebih awal hari ini.


Tidak lama bel pulang pun berbunyi pertanda kegiatan belajar mengajar telah selesai. Cahyana memperhatikan satu persatu siswa siswi yang melewati kantor nya menuju gerbang.


Dari dalam kantornya, melalui jendela Cahyana melihat Oriza menuju gerbang. Dengan cepat Cahyana menuju pintu. Sambil bersandar pada pintu, Cahyana menunggu Oriza bermaksud untuk menyapanya.


Namun tak di sangka, ketika Oriza melewati kantornya, dia hanya menunduk sambil sibuk memainkan ponselnya tanpa melihat kehadiran Cahyana yang sedari tadi menunggunya.


Cahyana tampak lemas dan kecewa, kehadirannya yang sedari tadi menunggu Oriza sama sekali tak di hiraukan oleh orang yang di tunggu.


[Nunduk meluku]. Cahyana mencoba mengirim pesan kepada Oriza untuk sedikit menghilangkan sesak di dada nyaa.


[Memangnya melihatku]. Menepuk kening Cahyana sambil menggelengkan kepala, bisa-bisa Oriza bertanya seperti itu.


[Aa tunggu di depan pintu kantor tadi]. Gemas sekali Oriza ini.


[Oh maaf aku tidak lihat]. Membalas dengan emot senyum, Pantas saja Oriza berjalan dengan lurusnya.


[Sudah sampai rumah?]. Lagi Cahyana bertanya.


[Sebentar lagi sampai].


[Nanti Aa jemput Dimana?]. Cahyana hampir saja lupa, bagaimana dia menjemput Oriza Kalau rumah nya saja Cahyana tidak tahu.


[Jemput di gapura saja dekat pengisian air minum isi ulang, gapura itu menuju ke rumahku]. Jawab Oriza menjelaskan.


[Kenapa tidak di jemput ke rumah saja?]. Lagi Cahyana merasa heran mengapa tidak di jemput di rumah saja, ini malah di jemput di gapura pinggir jalan.


[Biar langsung berangkat]. Jawaban singkat Oriza membuat Cahyana menggelengkan kepala.

__ADS_1


[Oke baiklah, mungkin aa jemput setengah empat yaa]. Sengaja Cahyana menjemput tiga puluh menit setelah dia selesai mengajar.


Karena Cahyana pikir dia juga harus bersiap-siap mandi dan ganti baju. Tentunya semua itu di lakukan di sekolah saja karena Cahyana sudah membawa baju ganti tadi pagi, tidak mungkin jika Cahyana harus pulang dulu, sungguh sangat membuang waktu.


__ADS_2