MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1

MISWANA KU KEHILANGAN VOL. 1
Bab 19. Naik Bus


__ADS_3

Teng... Teng... Teng


Bel pulang berbunyi tanda jam belajar mengajar telah usai. Cahyana membereskan dan merapihkan kantornya karena telah izin tidak mengajar sore.


Dari kejauhan, terlihat Oriza yang berjalan menuju gerbang utama. Cahyana menunggunya di depan pintu kantor.


Cahyana tersenyum "langsung pulang?".


"Iya, aku akan bersiap".


"Aa juga akan bersiap di sini saja, kebetulan bawa baju ganti".


Oriza hanya mengangguk.


"Tidak apa kan jika kita makan di luar?".


"Oke". Oriza berlalu.


***


"Kemana pak Iyan jam segini sudah mandi aja". Tanya pak Tatang heran. Biasa nya di sela istirahat sebelum waktu mengajar jam sore tiba, Cahyana hanya duduk di kantor dan makan siang.


"Aku ada urusan pak Tang". Sedikit berbisik dan menyebut nama panggilan Pak Tatang, Cahyana juga menyimpan telunjuk di depan bibir nya.


"Mau menguruskan istrimu". Pak Tatang mengangkat kedua alisnya sambil tetap berbisik.


"Tidak". Jawaban singkat penuh tanda tanya


"Kenapa? Apa lagi dia membawa anak pak Iyan".


"Biarlah dulu pak Tang, aku takut salah mengambil keputusan jika aku sedang marah". Ada nada getir dalam bicaranya. Sisanya mereka ngobrol basa-basi saja.


Jam telah menunjukkan pukul dua siang, Cahyana pamit kepada pak Tatang yang di balas dengan anggukkan.


[Apakah sudah siap?]. Sebelum berangkat Cahyana memastikan apakah Oriza sudah siap atau belum.


[Sudah]. Singkat seperti biasa.


[Baiklah Aa berangkat]. Melangkah menyeberang jalan untuk menaiki angkot.


Beberapa saat kemudian, dari jauh Cahyana melihat Oriza sedang menunggunya di gapura. Iyan menghentikan angkot nya tanpa turun, angkot kembali berjalan setelah Oriza naik dan duduk dengan tenang


***


Angkutan kota (angkot) warnah hijau polet merah ini terus melaju.

__ADS_1


Di dalam angkot 11 penumpang duduk berhimpitan. Cipratan air sesekali menerobos ke dalam. Sebagian penumpang kian merapatkan tubuh. Ada manfaat lain yakni mengusir sedikit rasa dingin.


Beberapa orang silih berganti naik dan turun. Oriza terlihat mengutak-ngatik poselnya, berselancar di dunia maya. Lumayan mengusir kejenuhan di tengah kemacetan lalu lintas jalan yang cukup padat siang itu.


Di bagian paling belakang ada dua wanita muda yang asyik berbincang. Di perkirakan usianya dua puluh tahunan. Cara itu cukup mujarab untuk membunuh waktu, menunggu hingga angkot tiba di tujuan.


“Wah hujannya makin deras,” sergah wanita yang lebih besar tubuhnya.


Lontaran itu direspons wanita yang lebih kecil. “Jendelanya tutup supaya gak kecipratan.”


“Nanti aku kalau ada uang beli mobil sendiri deh,” ujar yang besar.


“Supaya enak bisa bawa keluarga aku milih Xenia aja. Harganya seratusan juta,” timpal yang kecil.


“Kalau aku pilih Avanza,” ujar yang besar.


Obrolan tersebut menyiratkan keinginan para pengguna angkutan umum untuk memiliki kendaraan pribadi.


Sesaknya angkutan umum, kurang nyamannya angkutan, dan minimnya privasi, mendorong impian orang untuk mempunyai kendaraan pribadi. Entah sepeda motor atau mobil


Tidak terasa angkot pun sampai di terminal dan hujan pun sedikit reda.


"Mau makan apa". Cahyana mendengar bunyi dari perut Oriza walau samar.


Cahyana pun mengangguk dan mengajak Oriza untuk mengikutinya. Masuklah mereka ke kedai Pecel Lele kaki lima.


Selain harganya yang ramah di kantong, Pecel Lele terminal ini juga enak sekali dan terkenal dengan sambal nya yang pedas gurih tapi rasa nya beda dari yang lain.


pesanan datang, dua lele berukuran sedang di siram sambal gurih bertengger di piring siap untuk di santap, tidak lupa nasi dan lalapan serta air teh hangat sebagai minumnya, menambha nikmat nya apalagi setelah hujan begini.


***


Di belahan dunia lain.


Dini ternyata ikut pulang ke kampung halaman ibunya, yakni di kota Tasik.


Dini berpikir keras bagaimana agar dia bisa kembali dengan Cahyana. Tapi dini sendiri pun tidak yakin, karena selain Dini telah berhianat, Cahyana pun sedang dekat dengan Oriza. Ibarat kata, belum berpisah pun sudah ada pengganti.


Besok Dini memutuskan bahwa dia akan datang menemui Cahyana. Tapi tidak dengan anak-anak, karena Dini tidak mau anak-anak melihat jika kemungkinan nanti akan ada pertengkaran.


[Ayah aku ikut ibu]. Dini sudah mengaktifkan ponsel nya.


[Dimana]. Di tengah-tengah Cahyana sedang makan, dia menunjukkan ekspresi wajah kesal. Oriza menangkap ekspresi itu namun tidak bertanya.


[Besok aku pulang]. Sengaja Dini tidak memberitahu dia sedang berada dimana.

__ADS_1


[Baiklah]. Mencoba menahan segala emosi karena takut Oriza curiga.


***


Setelah selesai makan, Cahyana dan Oriza berjalan menuju pusat kota dan mencari pedagang buku kaki lima karena memang itulah tujuan mereka kemari.


Setelah sampai, terlihat mata Oriza berbinar senang saat menemukan pedagang buku tersebut. Cahyana hanya tersenyum, lalu dia pun pura-pura ikut memilih buku.


Oriza membeli dua buku yang total nya tiga puluh dua ribu rupih dan itu Cahyana yang membayarnya. Cahyana menemukan sisi lain dari Oriza, dia senang membaca novel atau buku ke ilmuan.


"Pulangnya mau naik angkot?". Cahyana coba bertanya


"Memangnya mau naik apa". Oriza terlihat bingung.


"Kita bisa pulang naik bus". Cahyan coba menawarkan.


"Benarkah". Wajah Oriza berbinar.


Cahyana mengangguk.


"Tapi kita harus berjalan dulu ke arah sana, karena bus nya menunggu di halte".


"Oke baik, Ayo". Semangat Oriza


Berjalan menuju tempat bus menunggu Oriza tampak bersemangat. Sebelum sampai di halte Cahyana membeli minuman jeruk peras dan cemilan untuk nanti di dalam bus.


Cahyana dan Oriza naik bus jurusan Majalaya. duduk di kursi double, menunggu semua kursi bus penuh lalu bus melaju.


Sepanjang perjalanan, Cahyana hanya mengamati Oriza yang sedang asik melihat keluar jendela.


Lalu....


ponsel Cahyana berdering, Oriza menoleh seakan bertanya tanpa suara siapa yang menelpon. Cahyana hanya menggeleng dan mengubah ponsel tersebut ke mode getar.


beberapa saat kemudian hp Cahyana bergetar lagi, ragu Cahyana untuk mengangkat panggilan yang beberapa kali masuk ke ponsel nya. Akhirnya Cahyana me-nonaktifkan poselnya, dia tidak ingin waktu nya bersama Oriza terganggu.


tidak berapa lama ada kernet bus yang yang berkeliling untuk narik ongkos dari para penumpang. Ongkos nya pun cukup murah, yakni jauh dekat lima ribu rupiah per orang. Termasuk Cahyana, dia juga memberikan uang ongkos kepada kernet tersebut.


Tidak terasa karena perjalanan yang cukup menyenangkan, bus sudah sampai depan sebuah komplek karena jalur bus dan angkot berbeda. Cahyana dan Oriza turun dengan gembira dan tertawa, entah apa yang mereka tertawakan.


Berjalan membelah komplek menuju gapura tempat biasa Oriza menunggu Cahyana. Ya, Cahyana hanya mengantar Oriza sampai gapura karena hari sudah sore dan matahari pun mulai turun dari ketinggiannya.


Cahyana naik angkot hijau polet merah, ke arah kiri komplek setelah Oriza masuk Gapura.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2