
Melihat perubahan sikap sang suami yang kurang perhatian, membuat gejolak lain dalam diri Dea. Dia tak ingin kehilangan seseorang yang selalu mengungkapkan cinta kepadanya.
Pagi-pagi sekali Dea sudah berkutat di dapur. Gadis itu berusaha untuk membuat sarapan untuk suaminya.
Jika sebelumnya Richie yang sering menyiapkan untuk sang istri, kali ini Dea juga akan membuatkannya untuk sang suami.
Kini semuanya sudah tersaji di meja makan. Dea mulai duduk dan menunggu Richie yang mungkin masih terlelap di kamar tamu.
Ya, sejak tiga hari lalu, Richie mengatakan ingin tidur di ruang tamu. Dan itu membuat Dea begitu terkejut. Ia berpikir mungkinkah Richie sudah berhenti mencintai dirinya. Bahkan sikap Richie juga berbanding terbalik dari biasanya.
Ada perasaan aneh yang menjalari dirinya ketika melihat perubahan Richie. Ada rasa tak rela jika sang suami tidak lagi memperhatikan dirinya.
Masih dengan setia menunggu, akhirnya Richie mulai keluar dari kamarnya. Semburat senyum mulai terlihat di sudut bibir Dea.
Gadis itu berdiri tersenyum manis kearah suaminya. Sementara Richie mengerutkan keningnya melihat sang istri yang terlihat begitu aneh menurutnya.
"Selamat pagi," sapa Dea.
"Pagi," jawab Richie memicingkan matanya. Dia mulai duduk di tempatnya makan.
"Kau mau makan yang mana?" tanya Dea menawari Richie. Ia akan mengambilkannya untuk suaminya.
"Dari datangnya semua makanan ini? Apa Kau membelinya?" tanya Richie yang heran dengan banyaknya makanan di meja makan.
"Tentu saja Aku yang memasaknya, mana mungkin Aku membeli makanan sebanyak ini. Kau mau yang mana?"
Rasa-rasanya Richie tak percaya dengan ucapan sang istri. Benarkah Dea yang memasaknya? Mimpi apa dirinya semalam sehingga sang istri memasakkan sarapan untuknya. Mungkinkah perubahan yang terjadi pada istrinya karena dirinya yang sedikit membebaskannya? Bagaimana mungkin bisa berdampak secepat ini?
Walaupun Richie begitu terkejut, tapi ia begitu senang. Mendapatkan perhatian dari Dea adalah hal yang luar biasa menurutnya. Tapi ia tidak ingin mengakhiri dirinya yang berpura-pura acuh pada istrinya.
Sejujurnya Richie juga begitu tersiksa harus mendiami istrinya. Tapi jika hasilnya akan seperti sekarang ini, Richie menjadi menyesal. Kenapa tidak ia lakukan sejak hari pertama Dea menjadi Nyonya Richie? Dengan begitu, Richie akan mendapatkan perhatian Dea sejak awal.
Richie tersenyum penuh arti, ia ingin sedikit mengerjai istrinya.
Richie mulai berdiri dan membuat Dea mengerutkan keningnya. "Sepertinya Aku tidak bisa sarapan di rumah. Ada meeting penting pagi ini. Jadi Aku harus berangkat sekarang," ucap Richie. Ia mulai berdiri.
Dea tercenung. Ia merasa kecewa. Sudah sejak pagi sekali ia berkutat di dapur. Dan itu semua untuk Richie. Tapi sepertinya apa yang ia lakukan pagi ini akan sia-sia. Dea menghela nafas panjang.
__ADS_1
Sementara Richie tersenyum dalam hati melihat istrinya yang nampak kecewa.
"Bisakah Kau membawakanku bekal makan siang ini. Hangatkan saja apa yang Kau masak pagi ini," ucap Richie.
Sontak saja Dea menatap Richie. "Baiklah." Dea langsung menjawabnya. Raut wajahnya berubah ceria.
Richie langsung melangkah pergi menuju mobilnya. Sepanjang langkah, ia tak hentinya tersenyum. Usahanya untuk membuat Dea mencintainya perlahan mulai membuahkan hasil.
***
Hari ini Dea memilih untuk libur bekerja. Ia tengah menyiapkan makan siang untuk Richie. Ia terus saja bernyanyi kecil sejak tadi. Entah mengapa saat ini ia begitu girang sekali hanya karena akan ke kantor Richie dan membawakan suaminya bekal makan siang.
Bahkan saat ini ia bersolek begitu cantik. Dea mengikuti arahan dari ponselnya.
Perjalanan menuju kantor Richie tak membutuhkan waktu lama. Dua puluh menit saja, Dea sudah sampai di sana.
Semua mata tertuju kearah Dea saat ini. Mereka begitu kagum melihat betapa cantiknya istri bos mereka.
"Selemat siang, Nona. Saya ingin mengantar makan siang untuk suami Saya. Bisa Kau tunjukkan di mana ruangannya?" Dea bertanya kepada resepsionis di sana.
Resepsionis itu tersenyum membungkukkan badannya. "Mari Saya antar, Nyonya. Saat ini Tuan Richie tengah melangsungkan meeting. Dia sudah berpesan kepada Saya untuk menyuruh Anda langsung ke ruangannya," ucap resepsionis itu ramah.
Setelah melewati lift, akhirnya Dea sampai di depan ruangan suaminya.
"Terimakasih, Nona. Kau bisa kembali bekerja," ucap Dea. Resepsionis itu tersenyum dan segera pergi dari sana.
Dea mulai melangkah memasuki ruangan Richie. Ekor matanya menyusuri setiap sudut ruangan tersebut. Hingga pandangannya tertuju pada sebuah foto yang ada di meja kerja Richie.
Dahinya mengernyit menatap siapa yang ada dalam pigura kecil itu. Sosok anak kecil yang seperti tak asing baginya. Dea menyipitkan matanya menatap lebih dekat pada foto tersebut. Foto itu nampak lusuh.
Namun perhatiannya tersita ketika mendengar suara tawa yang mendekati ruangan tersebut.
Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok Richie yang tengah bercanda tawa dengan sekertarisnya. Dan sialnya sekertaris itu begitu cantik dan begitu menggoda. Dan itu membuat Dea mematung di tempatnya. Berbagai macam pikiran menggelayut dalam benaknya.
Sementara Richie tersenyum menatap sang istri yang berada dalam ruangannya. Tadi resepsionis sudah mengirimkan pesan kepadanya bahwa sang istri sudah berada di ruangannya.
"Kau boleh kembali ke ruangan mu Tracey," ucap Richie kepada sekertarisnya.
__ADS_1
"Baiklah, Bos." Sekertaris itu patuh dan segera ke ruangannya seraya menahan senyumnya.
Dea masih mematung. Hingga ia tak menyadari bahwa Richie sudah ada di depannya.
"Kau sudah datang?" tanya Richie. Sontak membuat Dea tersadar.
"Eh, iya. Kau mau makan sekarang? Biar ku siapkan," ucap Dea. Ia mengalihkan pandangannya dari Richie. Entah mengapa dadanya bergemuruh melihat Richie yang begitu akrab dengan sekertarisnya.
"Baiklah." Richie langsung duduk di kursinya. Ia memperhatikan istrinya yang saat ini menyiapkan bekal makan siangnya dengan perhatian.
Richie memperhatikan keseluruhan istrinya yang nampak begitu cantik hari ini. Mungkinkah Dea sengaja berdandan untuk dirinya? Semua itu membuat Richie begitu berbunga.
"Apakah rasanya aneh?" tanya Dea ketika Richie menyuapkan sesuap makan siangnya.
"Richie terdiam sejenak. Rasanya memang sedikit asin. Tapi ini adalah masakan perdana yang Dea buatkan untuknya, jadi di lidahnya terasa enak saja.
"Tidak terlalu buruk. Terimakasih sudah membuatkan untuk ku," ucap Richie dan di balas dengan senyuman oleh Dea.
Tak berapa lama kemudian, makanan itu pun tandas. Richie tidak ingin menyisakan barang sekalipun.
"Aku sudah kenyang, terimakasih untuk makan siang hari ini."
"Iya. Yasudah, Aku akan kembali pulang," ucap Dea seraya membereskan kotak bekal tersebut. Tiba-tiba saja Dea merasa begitu gugup. Saat ini Richie tengah menatapinya.
"Aku akan mengantar mu sampai ke mobil."
"Ti-tidak usah." tolak Dea.
Tapi Richie merasa begitu khawatir. Bukan apa-apa. Tapi saat ini Dea terlihat begitu cantik. Richie tak ingin orang lain menatap istri cantiknya.
Richie berjalan dan berdiri tepat di samping Dea. "Aku tetap akan mengantar mu sampai ke depan."
"Tidak usah, kenapa tidak Kau temani saja sekertaris cantikmu itu?" Dea kembali memanas teringat Richie yang beberapa saat tadi tertawa bersama sekertarisnya. Ia pun menjadi kesal.
"Karena dia tidak butuh ku temani. Kau istri Ku jadi Kau yang akan ku temani." Richie mencondongkan tubuhnya tepat di depan Dea. Membuat gadis itu begitu gelagapan. Antara gugup dan berdebar kencang.
"Dengarkan Aku, Dea. Aku tidak suka Kau berdandan seperti ini. Lain kali jangan berdandan seperti ini jika bukan berada di depan ku. Kau hanya milikku, dan Aku tidak ingin pria lain menatapmu." Nafas hangat Richie menyapu seluruh wajah Dea.
__ADS_1
Kata-kata Richie membuat jantung Dea serasa meloncat keluar dari tempatnya. Apalagi wajahnya begitu dekat dengan suaminya. Membuat Dea perlahan memejamkan matanya. Entah kenapa dia melakukan itu. Hingga bibir hangat Richie menyentuh bibirnya.
***