My Arrogant Woman

My Arrogant Woman
Mendapatkan pujian Nenek


__ADS_3

Pagi hari di kediaman nenek Richie.


Saat ini Dea dan Rebecca sedang berkutat di dapur. Pagi ini Dea bersikeras membantu membuat sarapan untuk keluarga besar tersebut.


Keputusannya sudah bulat. Dea benar-benar ingin mengambil hati Nenek dari suaminya.


"Sudah selesai, Auntie," ucap Dea ketika dia berhasil menyelesaikan satu menu.


Rebecca menghampiri. Dia seolah menjadi juri dan pembimbing Dea.


Wanita berkepala empat itu mulai mencicipi sedikit dari masakan Dea. Ketika makan itu sampai ke mulutnya, Rebecca diam tanpa ekspresi.


Melihat hal tersebut membuat jantung Dea terpompa begitu cepat. Ia takut makanan yang dia buat tak layak untuk neneknya Richie. Ya, Dea memasak makanan kesukaan Nenek.


"Bagaimana Auntie," tanya Dea begitu antusias. Ia benar-benar cemas mengenai rasanya.


Beberapa detik Dea menunggu. Akhirnya sang juri mengacungkan kedua jempol nya sebagai bentuk dari jawabannya.


"Lezat. Auntie tidak tahu kalau Kau ternyata pandai memasak. Kalau begini Nenek pasti akan menyukai masakan mu. Dan itu pasti juga akan berimbas dengan dia menyukaimu," ujar Rebecca membuat Dea menarik sudut bibirnya ke atas.


"Sungguh? Apakah akan seperti itu, Auntie?"


Rebecca mendekati Dea dan mengusap pundak Dea pelan. "Aku selalu mendoakan agar Nenek bisa menerimamu sebagai cucu menantunya, Dea. Kau gadis baik."


"Semoga Nenek mau makan ini, Auntie." ucapnya. Dea terdiam sejenak. Ia ingin bertanya kepada Rebecca mengenai sesuatu yang mengganjal di hatinya.


"Auntie," panggil Dea ketika Rebecca mengarahkan para pelayan yang menyajikan berbagai menu makanan ke meja makan.


"Iya, Sayang."


"Kenapa Hye jin tiba-tiba berada di Korea, bukankah ini belum waktunya libur semester?"

__ADS_1


"Hye jin menyelesaikan tugas semesternya lebih awal, Sayang. Katanya dia merasa bosan, jadi dia pulang ke sini."


"Oh, jadi begitu." Namun perasaan Dea mengatakan jika Hye jin kembali ke Korea karena ada sangkut pautnya dengan suaminya. Namun Dea tidak ingin menerka-nerka dulu. Ia aka tetap hati-hati dengan Hye jin.


***


Nenek terlihat lahap sekali memakan makanan hasil masakan Dea. Melihat hal itu membuat Dea begitu senang.


"Bagaimana rasanya, Mam? Masakan Dea enak kan?" Rebecca sengaja bertanya di depan seluruh keluarga ketika menikmati sarapan pagi ini.


Nenek menghentikan makannya ketika mendengar pertanyaan Rebecca. Wanita tua itu menatap ke arah Dea sembari memicingkan mata.


"Apa benar Kau yang memasaknya?" tanya Nenek. Tak di pungkiri jika lidahnya begitu di manjakan dengan rasa masakan yang berbeda dari sebelumnya. Bahkan rasanya lebih enak dari masakan Hye jin.


"Iya, Nek. Semoga Nenek suka,"ucap Hye jin tersenyum manis.


"Untuk rasanya, Aku tidak akan berbohong. Aku mengakui masakan mu enak." ucap Nenek. Kemudian ia kembali melanjutkan makannya.


Satu poin sudah Dea kantongi untuk mendapatkan hati Nenek. Kini tinggal melakukan poin-poin lainnya.


Sementara Richie begitu terkejut. Ia tidak mengetahui jika sang istri memasak makanan kesukaan neneknya. Dan itu membuatnya begitu bangga kepada Dea.


Tangan Richie menyentuh tangan istrinya yang ada di bawah meja makan. Sontak membuat Dea menoleh ke arah sang suami.


Richie tersenyum sembari menggenggam erat tangan Dea di bawah meja. Ia membisikkan kata-kata ke telinga sang istri.


"Kau adalah istri terhebat ku. Aku akan memberikan hadiah setelah sarapan."


Sembari tersenyum Dea membalas bisikan suaminya. "Aku tunggu hadiah mu," balasnya.


Ekor mata Dea melirik ke arah Hye jin yang sedang menyantap makanannya dengan wajahnya yang terlihat di tekuk. Bahkan anggota keluarga lainnya pun sama. Tapi Dea tidak perduli. Yang jelas dia akan tetap membuktikan jika ia pantas berada dalam keluarga tersebut.

__ADS_1


***


"Kau tidak ke kantor?" tanya Dea terkejut ketika memasuki kamarnya mendapati suaminya yang ada di sana.


"Aku ingin memberikan hadiah ku padamu, jadi Aku akan ke kantor agak siangan, Sayang," jawab Richie.


Dea menyipitkan matanya menatap sang suami. Lalu ia duduk di samping Richie.


"Kenapa harus berangkat agak siang? Bukankah Kau bisa memberikan hadiahnya sekarang dan langsung pergi ke kantor?"


"Tidak bisa, Sayang. Hadiah ku sangat spesial."


Dea menjadi semakin penasaran akan hadiah yang akan Richie berikan. Masih dengan memikirkannya, Dea di buat terkejut saat tiba-tiba Richie menariknya dan mengukungnya di atas kasurnya.


"Ahh... Richie apa yang Kau lakukan?" Dea sungguh terkejut.


"Memberikan mu hadiah," jawab Richie dengan santainya.


"Jadi Kau mengerjai ku?" Dea mengerucutkan bibirnya. Namun langsung di lahap oleh Richie dengan sedikit l.u.m.atan.


"Tidak, Aku akan memberikan hadiah terenak pagi ini, Sayang." Richie langsung melancarkan aksinya.


Dea, jangan ditanya. Walaupun dia merasa di bohongi dengan kata hadiah. Tapi ia begitu menikmati berada di bawah kukungan sang suami.


Suara de.sahan dan erangan memenuhi kamar tersebut. Tapi sayang kamar itu tidak kedap suara. Jadi setiap orang yang melintasi depan kamar mereka pasti akan mendengarnya.


Seperti halnya saat ini. Nenek dan Hye jin sedang melintas di sana. Sejenak mereka menghentikan langkah ketika melintasi pintu kamar Richie dan istrinya.


Hye jin merasa begitu marah, ia mengepalkan tangannya. Sementara Nenek menggelengkan kepalanya, ia mengajak Hye jin untuk mempercepat langkah.


"Dasar pengantin baru, melakukan seperti itu sungguh tidak tahu waktu," ucap Nenek menahan senyumnya. Dalam hati ia berharap akan segera menimang cicit.

__ADS_1


***


Maaf, untuk hari ini cuma segini 🙏


__ADS_2