
Richie semakin memperdalam ciumannya ketika merasakan tidak ada penolakan dari istrinya. Bahkan Dea mengalungkan tangannya di leher Richie. Ciuman Richie begitu memabukkan, hingga Dea tak mampu melawan arus getarannya.
Siang yang panas semakin terasa panas kala ciuman menggebu dari keduanya terus saja terpaut. Sudah beberapa menit mereka tak ingin melepaskan tautan bibir satu sama lain. Rasanya benar-benar indah. Tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.
Hingga Richie mulai melepaskan bibir Dea ketika melihat Dea yang hampir kehabisan nafasnya. Mereka saling menempelkan kening. Nafas keduanya masih menderu.
Richie tersenyum. Ia melihat bibir Dea membengkak karena ulahnya. Namun itu malah membuat Richie semakin menginginkan bibir istrinya.
Disaat Richie hendak kembali mencium bibir Dea, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
"Astaga...."
Suara seseorang membuat keduanya langsung memalingkan wajah. Mereka melihat siapa yang membuka pintu ruangan tersebut tanpa permisi.
"Auntie...."
"Kenapa kalian berbuat mesum di kantor? Apa dirumah saja tidak cukup?" Rebecca berkacak pinggang melihat kelakuan keponakannya.
Dea sudah sangat malu sekali saat ini. Dea merutuki dirinya Kenapa dia tidak mampu mengontrol dirinya sendiri ketika berhadapan dengan Richie. Saat ini wajahnya sudah sangat merah menahan malu.
Namun berbeda dengan Richie. Pria itu malah tersenyum dan begitu santainya.
"Kenapa Auntie ke mari?"
Rebecca langsung berjalan mendekat ke arah Dea dan memeluknya. "Auntie merindukan kalian." Rebecca membawa Dea duduk di sofa ruangan itu.
__ADS_1
"Auntie menyusul Uncle mu karena ingin melihat keadaan Hye jin." terang Rebecca.
Dea mengerutkan keningnya. "Memangnya Hye jin kenapa, Auntie?" tanya Dea.
"Jadi Richie tidak memberitahu mu, Sayang? Empat hari yang lalu Auntie menyuruh Richie untuk menemani Hye jin di rumah sakit, karena Auntie dan Uncle sedang ada di Korea. Apa Richie tidak memberitahu mu?" Dea hanya menggeleng.
Namun tiba-tiba Dea mengingat malam itu dirinya yang menunggu suaminya hingga larut malam. Dan juga pesan dari Hye jin. Kini Dea mengerti bahwa malam itu Richie bersama Hye jin karena menemaninya saat berada di rumah sakit.
Dea merasa lega sekarang.
"Maaf, Aku lupa mengatakannya hehehe. Nanti Aku akan mengajak istri ku untuk menjenguk Hye jin," ucap Richie.
"Yasudah, kalau begitu Auntie mau ke bandara. Auntie akan kembali ke Korea. Kasihan Nenek sendirian di sana," ucap Rebecca.
"Tidak usah. Auntie akan pergi dengan sopir. Kalian ke rumah sakit saja menjenguk Hye jin. Sepertinya dia sedang sendirian sekarang, karena Uncle mu sedang berada di kantor."
"Baiklah, kalau begitu hati-hati, Auntie."
***
Kini Dea dan juga Richie dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Mereka akan menjenguk Hye jin.
Namun sejak memasuki mobil, keduanya saling terdiam. Bukan apa-apa, tapi Dea begitu malu mengingat ciuman panas yang mereka lakukan di kantor tadi, begitu pula dengan Richie.
Tak lama pun mereka sampai di rumah sakit. Richie membukakan pintu untuk Dea. Dea tak berani menatap ke wajah Richie. Dia masih begitu malu .
__ADS_1
Keduanya berjalan beriringan memasuki rumah sakit. Perlahan tangan Richie mulai menyentuh jemari Dea, membuat sang empunya membuang muka. Namun Dea tak menolak ketika tangannya di genggaman oleh Richie.
Tepat sampai di depan ruang rawat Hye jin, Dea berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Richie. Ia merasa tidak enak kepada Hye jin karena Dea tahu jika Hye jin pernah mencintai suaminya.
"Hai, Hye jin." Dea langsung mendekat ke ranjang tempat Hye jin di rawat.
Sedangkan Hye jin terkejut melihat Dea yang datang. Lalu ia melihat ke belakang yang ternyata Richie juga di sana.
"Hai, Dea. Kalian ke sini?"
"Ya. Maafkan Aku karena tidak segera menjenguk mu. Kalau bukan Auntie Rebecca yang memberitahuku, pasti Aku tidak akan tahu," ucap Dea seraya menatap tajam Richie.
"Maaf, Sayang. Aku benar-benar lupa mengatakannya padamu." Richie kembali berusaha meraih jemari Dea, namun segera Dea tepis. Dea melirik ke arah Hye jin.
'Dea selalu memperlakukan mu kasar, Richie. Kenapa Kau masih saja mencintainya? Seandainya Aku yang Kau cintai, Aku pasti tidak akan berbuat seperti apa yang Dea lakukan saat ini. Aku janji berjanji akan membuat mu mencintai ku, Richie. Karena seharusnya memang seperti itu'
"Permisi, saatnya pasien untuk makan siang," ucap perawat yang masuk ke dalam ruangan tersebut dan meletakkan makan siang Dea.
"Aku akan menyuapi mu, Hye jin." Dea mengambil makan siang Hye jin berniat untuk menyuapinya.
"Ah, tidak usah, Dea. Aku ingin sekali makan roti. Bisakah Kau membelikannya untuk ku?"
"Biar Aku saja yang membelikannya untuk mu, Hye jin." tawar Richie. Dia tidak ingin sang istri kelelahan.
"Tidak apa-apa, Richie. Biar Aku yang membelikannya, sekalian nanti Aku juga mau membeli minuman untuk kita," ucap Dea. Namun entah mengapa dalam hatinya bertolak dari yang ia ucapkan. Rasanya Dea tidak ingin Richie berdua saja di ruangan itu.
__ADS_1