My Arrogant Woman

My Arrogant Woman
Merindukanmu


__ADS_3

Uncle Gemal pulang ke Korea karena mendengar kabar Nenek yang terjatuh. Kini ia memasuki rumah Nenek karena akan menaruh kopernya lebih dulu, baru setelahnya dia akan bertandang ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi Nenek.


Uncle Gemal mengernyitkan keningnya saat melihat Dea yang menangis di meja makan. Bahkan makanan di depannya tak tersentuh sedikitpun.


Uncle Gemal mendekati Dea. Ia belum paham dengan situasi yang terjadi di rumah ini.


"Nak, kenapa Kau menangis?"


Mendengar suara Uncle Gemal, Dea langsung memeluknya.


"Uncle, kenapa tidak ada yang percaya dengan Dea. Mereka semua tidak ada yang menyukai Dea, Uncle." Tangis Dea pecah. Ia menuangkan semuanya pada Uncle Gemal.


"Apa maksudmu, Nak? Kenapa Kau berkata seperti ini? Coba Kau jelaskan pelan-pelan kepada Uncle." Uncle Gemal segera mengajak Dea untuk duduk. Setelah merasa sedikit tenang, Dea mulai menceritakan duduk permasalahan yang terjadi.


Uncle Gemal mulai mengerti duduk persoalannya. Dia sungguh tak menyangka Richie akan menjadi bodoh seperti itu.


"Kau tenanglah, Nak. Uncle akan mencari solusinya. Akan Uncle selidiki yang sebenarnya terjadi ini. Sekarang lebih baik Kau istirahat, wajah mu begitu pucat. Uncle khawatir dengan kesehatan mu."


"Tapi Aku ingin melihat kondisi Nenek, Uncle."


"Tidak mungkin, Dea. Uncle takut mereka akan menyakiti hati mu lagi."


"Tapi, Uncle. Please! Dea sungguh ingin mengetahui bagaimana kondisi Nenek saat ini," mohon Dea.


Akhirnya Uncle Gemal kalah. Dia pun mengizinkan Dea ikut bersamanya menjenguk Nenek di rumah sakit.


Ketika mereka sampai di rumah sakit. Semua anggota keluarga protes kenapa Uncle Gemal membawa Dea ke sana.


"Kenapa Kau membawa gadis pembawa sial ini!" Suara Hyomin memprotes Gemal.


"Jaga lisan Anda, Paman! Semua yang Paman tuduhkan kepada Dea belum terbukti!" Gemal merasa begitu marah karena mereka semua menyudutkan Dea.


"Hye jin adalah saksi mata atas apa yang gadis itu lakukan pada kakak ku. Jadi bukti apa lagi yang di butuhkan?!"

__ADS_1


"Kita tidak bisa memutuskan sebelum Mama sadar. Karena saksi kunci masalah ini adalah Mama sendiri! Jadi jangan pernah menghakimi dengan sepihak!"


Dea hanya menundukkan kepalanya sembari menangis dalam diam. Lalu ia mengikuti Uncle Gemal untuk membesuk Nenek.


Sejak tadi Dea heran karena tidak melihat suaminya. Bahkan Hye jin pun juga.


Tapi langkahnya terhenti kala melihat sang suami yang memeluk Hye jin di depan pintu ICU.


"Tenanglah, Hye jin. Nenek pasti akan segera sadar dan sembuh. Jangan menangis terus. Atau nanti kondisi mu juga akan memburuk." Richie menepuk punggung Hye jin.


Dea semakin sedih melihat pemandangan di depannya. Keduanya tidak menyadari jika Uncle Gemal dan Dea mendekat ke arah mereka.


"Ehem." Uncle Gemal berdehem membuat Hye jin dan Richie terkejut. Apalagi ketika Richie juga melihat sang istri juga berada di sana. Sontak Richie langsung melepaskan pelukannya pada Hye jin dan mendekati Uncle Gemal.


"Uncle sudah datang? Kenapa Uncle membawa Dea ke sini?" tanya Richie. Sebenarnya Richie tidak mempermasalahkan Dea untuk ke rumah sakit karena keluarganya tidak suka melihat sang istri. Richie tidak ingin keluarganya terus menyalakan Dea. Sangat sakit ketika melihat Dea menangis.


Sementara Gemal benar-benar tidak habis pikir dengan Richie yang malah menenangkan Hye jin dan bukan istrinya.


"Karena Dea ingin melihat bagaimana kondisi Nenek. Jadi Uncle mengajaknya. Sekarang kami akan masuk dulu," ucap Uncle Gemal dan segera mengajak Dea memasuki ruang ICU.


Richie merasa bimbang dan juga merasa bersalah. Ia bimbang tentang apa yang Hye jin katakan benar atau tidaknya. Sementara ia juga merasa bersalah karena ia mendiami sang istri. Apalagi barusan melihat wajah pucat Dea membuatnya ingin sekali memeluknya.


***


Uncle Gemal keluar lebih dulu setelah melihat kondisi Mama mertuanya. Namun Dea masih enggan untuk meninggalkan Nenek. Jadi dia masih menemani Nenek di dalam.


"Nenek, kenapa Nenek menjadi seperti inilah? Sebenarnya apa yang terjadi, Nek? Cepatlah sadar Nek, Dea butuh Nenek. Mereka semua menuduh Dea yang mencelakakan Nenek." Dea meratap di sana, dia menangis mengingat suaminya yang juga tidak mempercayainya.


Dea segera keluar dari ruang ICU. Ia berharap Tuhan segera menyadarkan Nenek. Ia begitu tidak tega melihat kondisi Nenek saat ini.


Ketika melihat Dea yang keluar dari ruang ICU. Richie segera menghampirinya.


"Kita pulang. Aku akan mengantarmu." Richie langsung menarik tangan istrinya.

__ADS_1


Dea hanya diam. Tapi ia menurut untuk segera pulang.


"Apakah Aku boleh ikut, Richie? Sepertinya Aku juga harus pulang untuk mengganti pakaian ku." pinta Hye jin.


Sejujurnya Richie hanya ingin pulang berdua saja dengan Dea. Tapi ia kasihan melihat Hye jin yang dua hari ini memang belum mengganti pakaiannya.


"Baiklah, Hye jin."


Hye jin merasa senang. Namun tidak dengan Dea. Ia merasa tidak suka melihat sang Suami yang terlalu baik dengan Hye jin yang sudah menuduhnya tanpa bukti.


"Kalau begitu silahkan kalian pulang. Aku akan naik taksi saja," ucap Dea yang langsung pergi dari sana meninggalkan Hye jin dan Richie.


"Dea...!"panggil Richie, namun Dea sudah berjalan jauh.


Uncle Gemal yang tidak sengaja mendengar dan melihat kejadian itu langsung menghampiri Richie. Kejar istrimu. Biar Uncle yang akan mengantar Hye jin," ucap Uncle Gemal. Hye jin hendak protes tapi tidak bisa karena tidak enak sama uncle Gemal.


Sementara Richie langsung berlari mengejar Dea.


"Dea,"panggil Richie. Ia segera meraih tangan Dea.


"Kenapa Kau mengejar ku? Bukankah Kau akan mengantar Hye jin?" sinis Dea.


"Hye jin pulang bersama Uncle Gemal. Sekarang ayo masuk mobil. Kita pulang bersama." Richie menggiring sang istri memasuki mobil. Dea hanya diam, tapi ia menuruti suaminya.


Di dalam mobil tak ada sebuah percakapan. Hanya ada keheningan dengan pemikiran masing-masing diantara keduanya yang hanya ada di hati mereka. Richie yang rasanya ingin memeluk dan mencium aroma tubuh sang istri. Pria itu sejujurnya sangat merindukan sang Dea. Tapi ia terlalu bodoh karena tak mempercayai sang istri.


Sementara Dea, sejak mobil itu meninggalkan rumah sakit, dia terus saja menatap ke arah jendela mobil. Hatinya terlalu kecewa menatap sang suami.


Richie menghentikan mobilnya ketika sampai di halaman rumah. Sementara Dea langsung keluar dari mobil tanpa menunggu sang pemilik mobil turun.


Sedih, itulah yang Richie rasakan saat ini. Ia merindukan semua tentang istrinya. Ia ingin keduanya bisa kembali seperti semula. Pria itu tercenung sesaat. Ia tidak ingin terus seperti ini. Ia berpikir akan memaafkan sang istri. Setelah neneknya sadar nanti, Richie akan membawa Dea pergi jauh dari keluarganya.


Jika harus memilih, Richie memilih istrinya. Ia tidak akan pernah sanggup jika harus berpisah dari sang istri. Maka yang harus dilakukan adalah memaafkan. Ya, Richie akan memaafkan Dea.

__ADS_1


Pria itu mulai menampakkan kakinya melangkah menuju kamar. Karena dia yakin istrinya pasti berada di sana. Melihat sang istri yang menatap kearah jendela, Richie segera menghampirinya dan memeluknya dari belakang dengan hangat.


***


__ADS_2