My Arrogant Woman

My Arrogant Woman
Aku berhak atasmu


__ADS_3

"Dea, kenapa Kau berjalan cepat sekali? Apa Kau tidak kasihan dengan suamimu ini." Richie tampak memelas. Sementara Dea menghentikan langkahnya dan menatap ke belakang.


Saat ini mereka sudah sampai di rumah. Ada rasa kesal ketika mengingat sang suami yang menyuapi Hye jin. Makanya ia berjalan begitu cepat untuk menghindari Richie.


"Salah sendiri Kau jalannya lamban. Aku lelah dan mengantuk, Aku mau istirahat." Dea langsung meninggalkan Richie.


Namun Richie tersenyum menatap kepergian sang istri menaiki tangga. Sudah di pastikan Dea cemburu terhadap Hye jin. Richie ingin sekali bersorak gembira melihat istrinya yang begitu kesal.


"Aku begitu suka dengan kecemburuan mu ini, Dea. Aku tidak akan melepaskan mu malam ini," ucap Richie sebelum menyusul sang istri.


Richie menaiki tangga dan membuka pintu kamarnya. Dea tak terlihat ada di sana. Namun ia dapat mendengar suara gemericik air dalam bathroom. Dengan menyilangkan kakinya di atas tempat tidur, Richi menunggu sang istri.


Tak berapa lama Dea keluar. Ia sudah mengenakan baju tidurnya. Berjalan melewati sang suami dengan wajah juteknya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kembalilah ke tempatmu."


"Aku tidak akan tidur di tempatku yang lama. Karena mulai malam ini aku akan tidur satu tempat tidur denganmu, istriku." Ricis berkata dengan nada menggoda.


"Apa? Tidak-tidak! Aku sudah pernah mengatakan bahwa bahwa aku tidak mau tidur satu tempat tidur denganmu," protes Dea.


"Tapi aku adalah suamimu, sayang. Dan tidak mungkin juga selamanya kita akan tidur terpisah. Kau adalah istriku dan aku berhak atasmu." Berkata dengan tegasnya.

__ADS_1


Sementara Dea, dia membelalakkan matanya tak percaya dengan pernyataan sang suami. Tapi apa yang diucapkan suaminya itu tidaklah salah. Karena mereka memanglah pasangan suami istri yang sah.


"Ta-tapi, Kita sudah sepakat bahwa kita tidak akan tidur di ranjang yang sama. Apa Kau melupakan itu?"


"Iya, aku tidak lupa. Tapi, selamanya kita tidak akan tidur terpisah kan? Cepat atau lambat kita akan tidur di ranjang yang sama. Aku suamimu dan seharusnya Kau menuruti perintah suamimu ini." Richi berkata dengan senyum kepuasan.


Dea termenung sejenak. Ia pun menelaah ucapan dan suami yang memang benar adanya. Tapi, Ia belum siap jika harus melakukan hubungan suami istri dengan sang suami. Dirinya masih trauma dengan kejadian yang membuat dirinya dan rinci bisa menjadi pasangan suami istri.


Walaupun saat ini Dea merasa sudah tidak suci lagi. Tapi tetap saja waktu itu dirinya melakukan hal itu dengan tidak sadar, dan kini secara sadar.


"Ta-tapi, aku belum siap jika harus melakukan hal itu denganmu, Richi." Dea menundukkan kepalanya. Membayangkannya saja sudah membuatnya begitu takut.


Wajah Dea memerah seketika, dan itu terlihat begitu menggemaskan menurut Richi.


"Ah, terserah!" Dia segera menaiki tempat tidur dan menenggelamkan dirinya di dalam selimut. Ia merasa begitu malu saat ini.


Sementara Richie tersenyum gemas menyaksikan sang istri. Ia pun naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya yang masih berada di dalam selimut.


Dea tersentak kaget saat merasakan tubuhnya yang dipeluk. Walaupun ada pembatas selimut tebal, namun ia bisa merasakan betapa hangatnya tubuh yang memeluknya itu.


Jantungnya berdetak tak beraturan. Dia menggigit bibir bawahnya menahan sesuatu aneh yang menyeruak dalam hatinya.

__ADS_1


"A-apa yang k-kau lakukan? Lepaskan aku sekarang juga, kau tidak boleh seperti ini." Suara Dea terdengar begitu gugup membuat Richie semakin senang menggoda istrinya.


"Kenapa tidak boleh? Kau istriku dan aku bebas melakukan apa saja kepadamu," ucap Richi dengan seringai senyumnya.


Perlahan tangannya membuka selimut tersebut hingga menampilkan wajah menggemaskan sang istri.


"Kumohon jangan seperti ini, Richie." Dea menundukkan kepalanya. Namun tangan Richie menarik dagu sang istri hingga kembali menatap ke arahnya.


"Dea, apa benar tadi Kau cemburu saat Aku menyuapi Hye jin?" tanya Richie.


"Si-siapa yang cemburu, Aku tidak cemburu," sangkal Dea.


"Benarkah? Tapi Aku tidak yakin Kau berkata jujur. Aku yakin seribu persen bahwa Kau sebenarnya cemburu kepadaku. Ayolah, mengaku saja, Sayang."


"Jangan berbicara sem...." Dea tak dapat meneruskan ucapannya karena bibir Richie sudah membungkamnya lebih dulu dengan ciuman.


Dea ingin menghindar, namun ciuman itu semakin menuntutnya untuk memejamkan mata. Membalas dan menikmatinya hingga ia sendiri tidak ingin mengakhirinya dengan cepat.


Beberapa saat ciuman mereka terlepas. Dea berubah pikiran. Dirinya nyaris terbuai oleh ciuman Richie. "Jangan pernah melakukan apapun tanpa seizin ku. Termasuk mencium ku!" Dea kembali teringat tentang sikap suaminya yang berubah beberapa hari ini. Dan juga saat tadi Richie menyuapi Hye jin.


Dea hendak beranjak bangun untuk melarikan diri. Tapi ia tidak bisa melawan tubuh sang suami yang sudah sebagian menindih tubuhnya. Kini ia terjerembab dalam kukungan tubuh sang suami.

__ADS_1


__ADS_2