
Setelah pergumulan panjang semalaman, kini Richie terbangun lebih dulu dari Dea.
Bahkan tubuh mereka masih terbalut satu selimut yang sama.
Richie tak ingin menyia-nyiakan momen pagi ini. Richie menatap lekat-lekat wajah sang istri. Sungguh menggemaskan menurut Richie. Istrinya terlihat begitu manis ketika sedang tertidur. Mengalahkan wajah galaknya ketika sang istri terjaga.
Jarinya menyentuh wajah Dea dengan begitu lembut. Sungguh ia tak percaya jika Dea benar-benar menjadi istrinya. Dan malam ini adalah malam dimana Dea menjadi miliknya seutuhnya.
"Kau hanya milikku," ucap Richie. Ia lantas langsung menarik sang istri kedalam dekapannya. Bibirnya menyapu lembut bibir istrinya.
"Sayang...." panggil Richie manja dengan menggoyangkan tubuh Dea untuk membangunkannya.
"Hemm?" Kelopak mata Dea mulai terbuka. Namun begitu enggan untuk terbuka sepenuhnya.
"Apakah kita bisa melakukannya lagi?" pinta Richie penuh harap. Dan sialnya, Dea tak dapat menolak permintaan suaminya. Richie merasa tubuh istrinya begitu candu, hingga dia menginginkannya lagi dan lagi.
***
Setelah malam panas itu, beberapa waktu ini Dea dan Richie menjadi semakin dekat. Walaupun Dea tak pernah menunjukkan sikap ramahnya pada sang suami, tapi secara diam-diam Dea begitu perhatian.
Mereka sering sekali berdebat. Bahkan hampir setiap hari mereka berdebat. Namun yang paling mengesankan adalah setelah berdebat pasti akan berakhir dengan saling bertukar keringat dia atas ranjang.
"Sayang, kenapa Kau berangkat bekerja pagi-pagi sekali?" tanya Richie ketika keluar dari bathroom dan mendapati Dea yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya.
"Hari ini Aku ada meeting penting," ucapnya seraya merapikan bajunya di depan cermin. Namun Dea terkejut tatkala tiba-tiba Richie memeluknya dari belakang.
"Aku tidak akan membiarkan mu berangkat ke kantor sendirian, Aku akan mengantarmu." Tangan Richie sudah bergerilya di dada sang istri. Namun segera di cegah oleh Dea. Jika tidak di cegah pasti ia akan terlambat untuk ke kamar seperti hari-hari sebelumnya.
"Jangan macam-macam, Richie." Dea menepis tangan Richie yang terus saja merayap menyentuh titik sensitif Dea.
Ya, Richie memang tak kenal tempat dan waktu untuk melampiaskan keinginannya. Pria itu begitu sulit mengontrol dirinya sendiri jika bersama dengan sang istri.
"Baiklah, Aku tidak akan macam-macam, setidaknya untuk pagi ini. Apa Kau meeting dengan Arsen?"
"Bukan, Aku meeting dengan Nona Alona. Kenapa?" Dea mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, baguslah jika Kau tidak bertemu dengannya. Kalau begitu biar Aku saja yang mengantarmu ke kantor." ucap Richie.
"Tidak usah, biar Aku berangkat sendiri saja," tolak Dea. "Lagipula ini masih sangat pagi jika Kau sekalian ke kantormu."
"Tidak apa-apa, Sayang. Nanti Aku bisa pulang lagi, baru berangkat bekerja."
"Tidak usah! Aku tidak ingin Kau terlambat bekerja. Biarkan Aku berangkat sendiri saja!" Dea kembali menolaknya.
"Pokoknya Aku akan mengantarmu, titik! Aku tidak akan merasa tenang jika tidak mengantarmu. Kau tidak akan berangkat ke kantor tanpa ku." Richie mengecup pipi sang istri dan langsung memakai kemejanya yang telah di persiapkan Dea sebelumnya.
Dea tak dapat menolak suaminya. Ia tahu akan sia-sia jika ia menolak permintaan suaminya yang begitu kekeh itu. Ia pun akhirnya menyetujui suaminya yang mengantarkannya bekerja pagi ini.
Richie mengantarkan Dea menggunakan mobilnya. Dia juga mengatakan nanti akan menjemput Dea ketika pulang dari kantor.
Kini mereka telah sampai di kantor Dea. Namun Richie belum merasa lega sebelum melihat secara langsung ketika istrinya memasuki ruangan kerjanya. Jadi ia memutuskan untuk mengikuti di belakang sang istri.
"Kenapa Kau masih disini?" tanya Dea terkejut saat memergoki Richie ketika ia hendak memasuki ruangannya.
Richie menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. Ia menampilkan senyum semanis mungkin di depan Dea.
"Aku hanya ingin memastikan istriku memasuki ruang kerjanya.
"Selamat pagi, Nona Dea, Tuan Richie ," sapa Celine ketika hendak memasuki ruangannya yang letaknya melewati ruangan Dea. Celine baru saja datang.
Dia begitu senang melihat kedua pasangan itu yang kini nampak begitu akur.
Richie tersenyum ramah seraya menganggukkan kepalanya menjawab sapaan dari Celine. Lalu ia menarik Dea memasuki ruangan Dea.
"Kenapa Kau ikut masuk? Aku sudah di ruangan ku. Sekarang Kau bisa pulang," ucap Dea.
"Aku ikut masuk karena Aku tahu kalau Kau pasti akan malu dengan asisten mu itu, karena Aku mau melakukan ini...."
Cup... Richie mengecup singkat bibir Dea. Kemudian ia mengecup kening sang istri.
"Selamat bekerja, istri ku. Sampai jumpa nanti saat ku jemput," ucap Richie dan langsung pergi dari ruangan Dea.
__ADS_1
Sementara Dea hanya mematung mendapat perhatian manis dari sang suami. Namun ia langsung tersenyum ketika menyadari Richie yang sudah menghilang dari balik pintu ruangannya.
Tak ingin terlarut dengan degupan jantungnya yang begitu kencang. Dea segera meminta berkas kepada Celine tentang meeting pagi ini.
***
"Sepertinya Nona Dea sedang bahagia. Apa yang Tuan Richie lakukan pada Anda sehingga Anda bisa seperti sekarang ini, Nona?" tanya Celine yang sedari tadi melihat raut wajah Dea yang begitu sumringah, bahkan selalu tersenyum sejak pagi tadi.
Dea merubah expresinya menjadi datar menatap Celine. "Cepat selesaikan pekerjaan mu, Celine. Atau mungkin Kau ingin lembur malam ini?"
Celine menelan ludahnya dengan susah mendengar perintah Dea. "Baik, Nona. Maaf sudah menggodamu," ucap Celine begitu sungkan.
Sementara Dea melirik jam tangannya. Sudah saatnya pulang bekerja. Namun sang suami tak kunjung datang. Dea berpikir mungkin jalanan sedang macet.
Hingga satu jam ia menunggu, namun masih belum ada tanda-tanda suaminya yang datang menjemputnya.
Hingga Celine menawarkan untuk mengantarkannya, tapi Dea menolaknya. Dea masih ingin menunggu Richie menjemputnya.
Hingga ponselnya berdering membuatnya langsung segera meraih benda pipih tersebut. Dea berpikir mungkin dari sang suami. Namun dahinya mengernyit ketika ternyata itu dari Uncle Gemal.
"Ya, Uncle. Ada apa menghubungi Dea?"
"................"
"A-apa....!?" Ponsel Dea langsung jatuh tak berbentuk ketika mendengar berita kecelakaan suaminya.
"Richie, tidak mungkin." Tubuh Dea bergetar. Rasa cemas dan takut menderanya. Tak terasa air matanya lolos begitu saja.
Celine yang sedari tadi menunggui Dea langsung menghampiri bosnya itu saat melihat Dea yang tiba-tiba menangis.
"Nona, apa yang terjadi? Kenapa Anda menangis?" Celine tampak cemas melihat Dea yang tiba-tiba menangis.
"Celine, suamiku kecelakaan. Cepat antarkan Aku ke rumah sakit X."
Celine terkejut. Baru pagi tadi kedua pasangan itu terlihat begitu romantis. Dalam hati Celine mendoakan keselamatan Richie.
__ADS_1
***
Maaf ya genks, cuma up 1 bab hari ini 🙏