
Dea menangis di depan Richie yang saat ini sedang memejamkan matanya dengan tubuh luka-luka.
"Kenapa Kau bisa sampai seperti ini, Richie. Bangunlah, jangan tinggalkan Aku." Dea menangis dengan terisak-isak. Rasa takut kehilangan pria yang kini menjadi suaminya menyeruak dalam hatinya.
Wajah yang selalu menatap galak sang Suami kini berubah menjadi wajah ketakutan. Takut kehilangan.
"Nona, tenangkan diri Nona. Tuan Richie tidak apa-apa. Beliau hanya terluka ringan," ucap asisten Richie, Edo.
"Bagaimana dia bisa seperti ini? Kenapa bisa kecelakaan?" Dea kembali terisak. Ia tidak bisa membendung air matanya. Tubuhnya serasa lemas melihat keadaan Richie yang terbaring lemah saat ini.
"Ada mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi, Nona. Di duga sopir sedang keadaan mabuk. Hingga ia menabrak mobil Tuan Richie dan mengakibatkan mobil Tuan Richie terguling. Tapi beruntung Tuan Richie berhasil keluar sebelum mobil itu di tabrak mobil lainnya," tutur Edo.
"Buat pengemudi itu di jebloskan ke penjara, Edo. Aku tidak ingin orang yang mencelakakan suamiku bebas berkeliaran dan kembali mencelakakan orang lain lagi," ucap Dea. Lalu ia kembali menatap wajah sang suami.
"Richie, bangunlah, Aku di sini ," Dea kembali menangis. Bahkan tangisnya semakin kencang. " Maafkan Aku selalu marah-marah dengan mu. Aku janji tidak akan lagi bersikap kasar dengan mu. Aku akan bersikap manis dan menuruti semua kemauanmu. Tapi kumohon bangunlah."
"Nona, biarkan Tuan Richie istirahat." Celine berucap. Namun tetap saja tak di gubris oleh Dea. Dea akan merasa tenang jika melihat sang suami membuka matanya, berbicara kepadanya dan menggodanya lagi.
"Sa-sayang...." Perlahan Richie mulai membuka matanya. Pria itu telah sadar. Pandangannya langsung menatap wajah sang istri di depannya yang penuh dengan air mata.
Perlahan Dea mulai berhenti menangis. Namun air matanya masih saja mengalir. "Richie, Kau sudah bangun?"
Pria itu terlihat jelas sedang menahan sakit di sekujur tubuhnya. Tapi Ia masih dapat tersenyum menatap sang istri.
__ADS_1
"Aku sebenarnya hanya tertidur, Sayang. Tadi Aku baru minum obat. Mungkin itu mempengaruhi ku. Bagaimana mungkin Kau bisa berada di sini?" Richie berusaha bersikap kuat, padahal ia sangat lemah saat ini. Richie tidak ingin membuat sang istri khawatir.
"Uncle Gemal yang sudah memberitahu ku. Kau tahu, Aku hampir mati karena cemas mengkhawatirkan mu," ucap Dea.
Richie merasa begitu bahagia mendengar pengakuan Dea yang mencemaskan dirinya.
"Lalu di mana Uncle Gemal sekarang?"
"Tuan Gemal saat ini sedang mengurus administrasi, Tuan," sahut Edo.
"Kalau begitu tolong kalian keluarlah dari ruangan ini. Aku hanya ingin bersama istri ku saat ini. Jika Uncle Gemal mau ke ruangan ini, tolong katakan padanya jika Aku sedang ingin bersama istri ku dan tidak ingin di ganggu," titah Richie.
Edo dan Celine saling berpandangan sebelum mengangguk patuh.
Sementara Dea membelalakkan matanya tak habis pikir dengan suaminya itu. Dea merasa begitu malu di hadapan kedua asisten tersebut.
"Kenapa Kau berkata seperti itu kepada Edo dan Celine? Aku kan malu." Terlihat jelas pipi Dea yang memerah. Dan Richie begitu menyukainya.
"Kenapa harus malu? Kau istri ku, Sayang." Tangan Richie mengulur mengusap lembut pipi istrinya.
Kemudian pria itu mencoba untuk mendudukkan dirinya. Ia ingin leluasa menatap dan menyentuh sang istri.
"Kenapa Kau banyak bergerak? Jangan bergerak agar lukamu cepat sembuh," Dea memperingatkan, namun ia juga membantu Richie untuk duduk.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Sayang." ucapnya masih dengan senyum.
"Kalau Kau tidak apa-apa mana mungkin Kau bisa berada di sini. Lain kali jangan membantah. Aku yang akan melakukan semuanya selama Kau sakit."
Senyum Richie tak menyurut. Ia mengangguk patuh pada sang istri. Pandangannya teralihkan pada sisa-sisa air mata Dea.
"Kau menangis, Sayang? Maafkan Aku," ucap Richie mengusap lembut air mata Dea.
"Tidak, untuk apa Aku menangis," dangkal Dea. Lalu dengan cepat Ia mengusap air sisa air matanya hingga kering.
"Lalu ini apa hum?"
Dea tidak bisa lagi mengelak. "Aku sangat-sangat mengkhawatirkan mu." Dea berkata dengan lirih. Tak di pungkiri jika ia begitu mencemaskan sang suami.
"Jika Kau tidak terluka seperti ini, Aku ingin sekali memeluk mu, Richie," lanjut Dea.
Richie begitu gemas melihat sikap manis Dea yang selama ini tak pernah ia ketahui.
"Siapa bilang tidak bisa memeluk ku. Ayo peluk." Richie merentangkan kedua Tangannya. Walaupun sedikit lemah, tapi melihat sang istri rasanya ia menjadi begitu kuat.
"Memangnya boleh?"
Richie mengangguk. "Tentu saja boleh, kemarilah, Sayang."
__ADS_1
Dea segera membenamkan tubuhnya dalam pelukan sang Suami. Dea begitu lega karena suaminya baik-baik saja dan masih bisa memeluknya seperti sekarang ini. Rasa khawatir yang sejak tadi menghantuinya perlahan mulai surut.