My Arrogant Woman

My Arrogant Woman
End


__ADS_3

Richie menghembuskan nafas sejenak menatap pintu kamar hotel di depannya. Tadi Uncle Gemal telah memberitahunya jika Dea saat ini sedang berada di sana.


Pelan, Richie menekan bel pintu kamar tersebut. Rasanya ia sudah tidak sabar lagi untuk melihat seseorang di balik kamar tersebut.


Sementara di dalam kamar.


Dea yang sejak tadi hanya menangis, segera mengusap lelehan air matanya saat mendengar bel pintu kamarnya yang berbunyi. Ia berpikir mungkin itu adalah petugas hotel. Tanpa pikir panjang, Dea langsung beranjak dan membuka pintu kamar tersebut.


Deg...


Dada Dea kembali sesak melihat seseorang yang sangat di hindarinya. Ia buru-buru menutup pintu kamar tersebut dengan cepat tanpa mengatakan apapun.


Namun usahanya sia-sia tatkala Richie yang menghadang kan sepatutnya di pintu hingga Dea tak dapat menutupnya.


"Pergi! Apa yang Kau lakukan di sini? Aku tidak ingin bertemu dengan mu!" teriak Dea. Keduanya masih saling mendorong pintu.


"Sayang, maafkan Aku. Ayo kita bicarakan ini semua. Aku tidak ingin Kau marah seperti ini. Biarkan Aku masuk, Sayang." Richie masih berusaha untuk masuk.


"Apa lagi yang mau di bicarakan? Cintamu padaku hanya sebesar ini, Richie. Kau begitu menyakiti hatiku. Dimana Kau ketika semua orang merundung ku? Di mana Kau ketika semua orang tidak ada yang percaya padaku?!" Dea membentak bersamaan dengan terbukanya pintu kamar hotel tersebut.


Dea memundurkan tubuhnya ketika Richie berjalan memasuki kamar itu. Dia melihat betapa terlukanya sang istri. Tangisan Dea membuat hatinya tersa.yat, sungguh dirinya begitu kejam karena sudah membuat sang istri menjadi seperti ini.


"Sayang, maafkan Aku. Aku sangat salah, Aku sudah tidak mempercayai mu. Hukum Aku, Sayang. Hukum Aku semaumu asalkan jangan pernah meninggalkan ku." Richie berjalan semakin mendekati Dea. Hatinya sakit melihat Dea yang tertunduk dengan air mata yang terus mengucur.


Gadis yang selalu bersikap galak namun tegas dan perhatian itu begitu terluka. Tak pernah Richie melihatnya hingga seperti ini. Demi apapun itu, Richie ingin sekali menghukum dirinya sendiri.


"Berhenti di sana, Richie. Ku mohon jangan mendekat! Aku benar-benar tidak ingin melihat mu. Aku membencimu, sangat membencimu!" ucap Dea masih dengan tangisannya. Namun sayangnya ucapan dan hatinya begitu berlawanan. Sebesar apapun Dea membenci dan kecewa, namun tak mengurangi rasa cintanya pada pria di depannya itu.


"Sayang, Nenek sudah sadar. Dan dia menanyakan mu. Nenek mengatakan kalau Kau hamil. Aku sangat senang mendengarnya, Sayang. Aku berjanji akan memperbaiki semuanya." Richie terus saja memohon kepada Dea agar sang istri mau memaafkannya.


Dea terdiam sejenak. Kini ada malaikat kecil dalam perutnya yang masih rata. Ia menghentikan tangisannya. Ia tidak ingin terjadi apapun dengan calon anaknya itu jika dirinya terus saja stres memikirkan hubungannya dengan Richie.


Dia mulai menatap Richie. Namun rasa kecewanya masih terasa begitu besar. "Baiklah, Aku tidak akan pergi darimu. Tapi untuk memaafkan mu Aku belum bisa, Richie. Dan jangan harap jika sikapku padamu akan sama seperti sebelumnya. Sekarang antarkan Aku menemui Nenek." ucap Dea dengan dingin.


Richie tersenyum. Ia merasa lega, setidaknya sang istri tidak meninggalkannya. Walaupun Dea belum memaafkannya, Richie akan terus berusaha untuk mendapatkan maaf dari sang istri.


***


"Nak, terimakasih karena sudah kembali. Cucu Nenek memang sangat bodoh. Maafkan dia, Nak." Nenek menggenggam tangan Dea. Dan di balas hal yang sama oleh Dea.


Dea hanya tersenyum dengan di paksakan. Ia tidak ingin mengatakan jika dirinya belum memaafkan Richie. Dea tidak ingin membuat Nenek kepikiran.


Kemudian Dea di buat terkejut dengan keluarga Nenek yang meminta maaf kepadanya atas semua kata-kata dan sikap buruk mereka terhadap Dea. Mereka mengaku jika Hye jin lah yang sudah mengatakan jika Dea bukanlah gadis baik-baik. Mereka begitu bodoh karena sudah mempercayai Hye jin begitu saja tanpa mencari tahu kebenarannya.


Sungguh Dea sebenarnya masih sangat sakit hati. Tapi ia akan berbesar hati untuk memaafkan keluarga suaminya itu.


Melihat sang istri memaafkan mereka semua, Richie seolah ingin protes. Bukankah dirinya sama bersalahnya seperti mereka. Tapi mengapa sang istri malah tidak memaafkan dirinya. Tapi ia menerimanya, karena ia merasa pantas mendapatkannya.


Beberapa hari berlalu. Dea memutuskan untuk kembali ke Singapore. Untuk sikapnya kepada Richie, jangan tanya lagi. Saat ini bahkan Dea lebih ketus kepada sang suami.


Sementara Nenek juga sudah di izinkan untuk pulang. Walaupun Nenek tidak rela jika cucu dan cucu menantunya kembali. Tapi ia tidak dapat mencegahnya. Karena memang saat ini Richie memiliki perusahaan sendiri di Singapore dan tidak dapat di tinggalkan begitu saja.

__ADS_1


Setelah berpamitan kepada semuanya, Richie dan Dea segera menuju bandara.


"Semoga kalian selalu bahagia." ucap Uncle Gemal dalam hati. Dia menyerahkan semua pekerjaan di Singapore kepada Richie. Sementara dirinya menetap di Korea bersama sang istri.


***


Satu Minggu berlalu.


Sikap Dea kepada Richie masih saja sama dan belum ada perubahan sedikitpun. Sungguh itu sangat menyiksa Richie saat ini.


Richie ingin ketika Dea menginginkan sesuatu, Richie yang akan mendapatkannya. Tapi sayangnya Dea tak pernah mengatakannya kepada dirinya. Malah sang istri meminta kepada asistennya Celine untuk memenuhi ngidamnya.


Karena tidak bisa menahannya sang istri yang masih mendiaminya, Richie memutuskan untuk mengikuti sang istri kemanapun sang istri pergi hari ini.


Hari ini Dea memang hanya ingin menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan dan menikmati harinya. Ia ingin membeli apapun yang ia inginkan. Dea memang bermaksud untuk menghabiskan uang suaminya.


Saat ini Dea berada di sebuah toko roti. Entah mengapa saat ini ia ingin sekali memakan cake cokelat yang bertoping keju. Membayangkannya saja sudah membuatnya ngiler sendiri.


Namun belum sempat ia memesannya, tiba-tiba ada pelayan toko roti itu yang membawakan cake yang ia inginkan ke mejanya.


"Ini kenapa di taruh di sini? Saya belum memesan apapun loh." ucap Dea kepada pelayan toko tersebut. Lalu pandangannya menatap Celine di depannya. "Apa Kau yang memesannya, Cel?"


Celine menggeleng. Sejujurnya Celine mengetahui siapa yang sudah memesan cake tersebut.


"Ini memang sudah di pesankan untuk Anda, Nona. Ini dari Tuan yang duduk di ujung sana," tunjuk pelayan itu ke arah di mana Richie duduk. Kemudian pelayan itu segera pergi dari sana.


Dea melihat ke arah dimana Richie duduk dan tersenyum melambaikan tangannya. Dea menatapnya jengah.


Sementara Celine merasa begitu terancam. Jika ia menerima cake itu, bisa-bisa akan kena omelan Richie. Lalu jika dia tidak menerimanya sudah tentu akan mendapatkan semprotan bosnya itu.


"Tapi, Nona. Lihatlah, ini sepertinya sangat enak. Bukankah tadi Nona begitu menginginkannya? Belum tentu jika stok cake ini masih ada loh. Beneran, Nona tidak mau?" Celine berusaha agar Dea mau memakan cake pemberian Richie.


Dan benar saja. Dea begitu menginginkan cake tersebut. Bahkan air liurnya hampir menetes. Akhirnya Dea menarik kembali cake tersebut dan memakannya dengan lahap. Ia tidak perduli dengan siapa yang membelikannya.


Melihat hal itu, Richie tersenyum. Rasanya begitu senang sekali. Ia masih setia menatap sang istri dari kejauhan saat menghabiskan cake tersebut.


"Enak sekali rasanya, Celine. Apa Kau benar-benar tidak mau?"


"Tidak, Nona. Saya sedang menjaga berat badan saya."


"Ya sudah. Aku akan menghabiskannya." Dea dengan lahap menghabiskan semua cake nya.


"Celine, Aku mau ke toilet sebentar. Kau tunggulah di sini." titah Dea. Celine mengangguk.


Dea segera beranjak dari sana. Dan berjalan ke arah toilet. Namun di depannya ada segerombolan anak muda yang datang ke toko roti tersebut. Dua di antaranya sedang berlarian seolah sedang berkejaran. Hingga tanpa sadar mereka telah menabrak Dea hingga hampir terjatuh kalau Dea tidak berpegangan pada meja di sampingnya.


Richie yang melihatnya langsung menghampiri sang istri. Ia begitu marah dengan kelakuan dua anak muda itu.


"Apa yang Kau lakukan, huh! Kau sudah menabrak wanita hamil. Apa kalian tidak punya etika!" Bentak Richie dengan marahnya.


Seketika dua orang anak muda itu langsung meminta maaf kepada Dea. Namun Richie masih saja memarahi mereka. Mereka sudah hampir mencelakakan istri dan calon anaknya.

__ADS_1


"Maafkan kami, kak. Sungguh kami tidak tahu. Kami tidak sengaja melakukannya," ucap kedua anak muda tersebut.


"Memaafkan, kalian bilang. Kalian hampir mencelakakan istri dan calon anakku!"


"Richie hentikan!" sentak Dea. Seketika Richie langsung menahan amarahnya.


"Iya, Saya memaafkan kalian. Lain kali jangan di ulangi lagi," ucap Dea. Lalu kedua anak muda itu langsung pergi dan kembali bersama rombongannya.


"Kenapa, Dea, kenapa? Kau dengan mudahnya memaafkan mereka. Tapi sampai saat ini Kau masih saja tidak memaafkan kesalahanku. Apa Kau begitu membenciku Dea? Jika Kau memang tidak mau memaafkan ku. Aku tidak akan memaksamu lagi Dea. Aku akan menjauhimu agar Kau merasa nyaman." ucap Richie dengan marahnya. Ia segera pergi dari sana.


Sementara Dea masih mematung di tempatnya. Ia tidak mengerti mengapa dirinya masih juga belum bisa memaafkan sang suami.


***


Malam harinya.


Dea membaringkan tubuhnya di atas kasurnya. Malam sudah semakin larut. Tapi suaminya belum juga kembali. Mungkinkah dirinya sudah keterlaluan?


Ia menangis dalam diam. Hingga ia mendengar suara pintu terbuka. Dea merasakan seseorang yang menaiki kasurnya. Dan tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Ia meyakini jika itu adalah sang suami. Karena bau parfum khas suaminya memasuki indera penciumannya.


"Jangan lepaskan, ku mohon biarkan seperti ini." ucap Richie. Richie yakin jika Dea akan berusaha melepaskan pelukannya itu. Ia tahu jika sang istri belum tidur.


Dea tak bergerak sama sekali. Air matanya mengalir dari sudut matanya.


"Tolong maafkan Aku, Dea. Aku tidak tahu lagi dengan cara apa agar Aku bisa mendapatkan maaf dari mu." Richie sudah berusaha menekan rasa sedihnya. Namun sialnya air matanya tak bisa di ajak bekerja sama.


"Aku merasa tidak nyaman dengan semua ini, Richie." Dea berkata dengan nada seraknya.


Keheningan sejenak tercipta di antara mereka. Richie membalikkan tubuh Dea agar menatapnya.


"Jika Kau merasa tak nyaman dengan ku, tidak apa-apa. Aku akan menjauhi mu untuk sementara. Aku akan pergi untuk sementara agar Kau tidak semakin membenciku. Tapi ku mohon maafkan Aku. Biarkan Aku menebus semua kesalahanku. Kau boleh memakiku, memukul ku, asalkan jangan membenci ku seperti ini. Ini semua sangatlah menyiksaku, Dea."


Selama berminggu-minggu pria ini tak menunjukkan kesedihannya ketika Dea belum memaafkannya. Namun malam ini pria ini terlihat begitu sedih dan kalut. Richie benar-benar menderita dengan sikap Dea. Dan sekarang Dea masih terdiam membisu dan tak merespon apapun.


"Jika Kau sudah tak nyaman lagi melihat ku. Aku akan pergi. Aku akan menjauh supaya Kau merasa nyaman tanpa diriku," ucap Richie menahan sesak di hatinya. Pria itu mulai melepaskan pelukannya dan melangkah turun dari tempat tidur.


"Richie, jangan pergi ...." Suara Dea diiringi isak tangisnya menghentikan langkah Richie.


Dea ikut beranjak dari tempat tidur dan menghamburkan pelukannya kepada suaminya.


Dea menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya dan menumpahkan tangisannya di sana.


"Aku tidak ingin Kau pergi, Richie. Aku ingin Kau tetap di sini. Bersamaku. Maafkan Aku yang sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan mu. Bagaimana menderitanya dirimu. Jangan pergi, Aku mau Kau tetap di sini. Maafkan Aku ...."


Richie menghujami Dea dengan banyak ciuman di wajahnya. Air matanya kembali tumpah. Keduanya sama-sama tersiksa.


"Kau tak perlu meminta maaf, Sayang. Ini salahku. Aku bisa mengerti kekecewaan mu waktu itu. Mulai sekarang kita perbaiki hubungan ini. Kita mulai semuanya dari awal. Aku berjanji tidak akan pernah lagi membuat mu kecewa. Aku mencintaimu, sangat-sangat mencintaimu." Richie memeluk erat tubuh sang istri. Ia bahagia karena telah mengakhiri rasa sesak yang ia rasakan.


END


***

__ADS_1


__ADS_2