
Dea nampak terdiam menatap gedung-gedung tinggi dari jendela kamar hotel. Hari ini Dea tak jadi kembali pulang ke Singapore. Uncle Gemal menyarankan agar Dea memenangkan dirinya sejenak. Tadinya Dea menolaknya, karena rasanya dirinya sudah tidak ingin lagi berada di tempat yang begitu asing menurutnya.
Tapi Uncle Gemal telah memberikan pengertian kepada Dea untuk menunggu hingga besok. Akhirnya Dea menyetujuinya. Namun ia berpesan kepada Uncle Gemal agar tidak memberitahukan keberadaannya kepada siapapun, termasuk Richie.
"Jangan salahkan Aku jika Aku tak lagi di sisimu, Kau yang membuat ku meninggalkan mu. Richie, Aku sangat membencimu!" gumam Dea. Saat ini hati perempuan itu masihlah sangat sakit ketika mengingat suaminya yang tidak mempercayainya.
Sementara di sisi lainnya. Semua keluarga Richie benar-benar bahagia melihat Nenek yang sudah mulai tersadar.
Saat ini Nenek sudah di pindahkan ke ruang rawat intensif.
"Mama, terimakasih karena Mama masih bersama kami," ucap Rebecca. Tangannya menggenggam hangat tangan Nenek.
Nenek masih terdiam, ia masih mengedarkan pandangannya ke seluruh orang-orang dalam ruangan tersebut. Sepertinya dia sedang mencari sosok seseorang di antara mereka.
Hingga pintu ruangan tersebut terbuka dan menampilkan sosok Richie yang berjalan ke arahnya. Semburat senyum terukir di sana. Sang Nenek meyakini jika di mana ada Richie pasti akan ada Dea.
Masih menunggu sosok yang hadir di belakang Richie. Nenek sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu menantunya.
Namun ketika sosok yang ia tunggu tak kunjung muncul, dan malah ada Hye jin yang berjalan di belakang Richie, membuat Nenek membuka suaranya.
"Dea, di mana cucu menantuku?"
Richie menghentikan langkahnya. Sementara yang lainnya tercekat mendengar pertanyaan dari Nenek.
"Tenang saja Kak. Kau pasti mau mengatakan jika gadis itu yang sudah mencelakakan mu kan? Kami melarang keras gadis itu untuk datang kemari. Kalau perlu nanti Aku akan melaporkannya ke pihak kepolisian," ucap Hyomin.
__ADS_1
Seketika Nenek terkejut. Ia lantas menatap tajam ke arah Hyomin. "Bodoh! Siapa yang mengatakan jika Dea mencelakai ku?!" ucapnya sedikit berteriak. Tangannya memegang kepalanya yang terasa sedikit pening. Hyomin segera terdiam.
Hye jin menghentikan langkahnya. Rasa takut menjalarinya. Bagaimana jika nanti semuanya akan tahu jika dirinya berbohong?
Sementara yang lainnya terkejut melihat Nenek yang nampak begitu marah.
"Mam, tenangkan diri Mama. Mama baru sadar dari koma. Kami tidak ingin terjadi apapun terhadap Mama." ucap Rebecca.
Richie segera mendekati neneknya dan duduk di sampingnya. "Richie di sini, Nek. Jangan berpikir yang berat-berat dulu."
"Di mana istrimu, Richie. Nenek ingin bertemu dengannya. Dia tidak apa-apa kan?" Nenek merasa begitu cemas. Ia mengingat ketika dirinya terjatuh karena tergelincir di lantai yang ada minyaknya.
"Dia baik-baik saja Nek. Kenapa Nenek tiba-tiba menanyakan tentang Dea?" tanya Richie penasaran.
Semua orang tercekat. Mereka masih belum mengerti dengan yang terjadi.
"Maksud Nenek?"
"Waktu itu, istrimu mau mengajakmu turun untuk sarapan pagi. Tapi Nenek melarangnya dan menyuruhnya menunggu di meja makan, jadi Nenek yang akan memanggil mu ke kamar mu. Nenek tidak mengetahui jika ada minyak di lantai bawah tangga. Hingga Nenek terpeleset di lantai itu, dan Nenek sudah tidak mengingat apapun lagi setelahnya." tutur Nenek membuat semua orang terperanjat.
"A-apa? Ja-jadi bukan Dea yang mendorong Nenek hingga terjatuh?" Richie mengatur detak jantungnya yang berdegup sangat kencang.
"Mana mungkin Dea melakukan hal seperti itu? Siapa yang mengatakan jika Dea mencelakai ku? Asal kamu tahu, Richie. Nenek sudah menerima Dea sepenuhnya menjadi cucu menantu di keluarga kita. Nenek juga sangat bahagia karena saat ini Dea juga telah mengandung calon cicit Nenek. Sekarang katakan, di mana cucu menantu Nenek?"
Sungguh penuturan Nenek membuat keterkejutan untuk mereka semua. Terlebih Richie. Pria itu hampir menangis karena sudah menuduh dan tidak mempercayai istrinya.
__ADS_1
Lalu semua orang menatap tajam kearah Hye jin yang tampak ketakutan.
"Nenek bilang Dea hamil? Istriku hamil Nek?" Dadanya bergemuruh. Rasa bersalah menyatu dalam dirinya. Membuat Richie meneteskan air matanya merutuki kebodohannya.
"Ya, istri mu telah mengandung calon anakmu, Richie. Kau akan menjadi seorang Ayah, Nak. Dan Kau tahu? Dea adalah gadis yang sudah menyelamatkan nyawamu ketika Kau hendak di culik waktu kecil. Nenek akhirnya menemukannya, Richie. Dia adalah istrimu." Nenek begitu senangnya mengatakan hal tersebut.
Namun Richie malah tergugu karena penyesalannya. Sungguh ia menjadi suami paling kejam. Dia sudah menuduh sang istri dan tidak mempercayainya. Rasanya Richie ingin menghukum dirinya karena telah menyakiti sang istri.
Dan untuk kenyataan jika Dea adalah penolongnya ketika masih kecil, Richie tak terkejut. Karena Richie sudah mengetahuinya lebih dulu. Itulah alasan mengapa Richie jatuh cinta kepada Dea dengan begitu dalam.
"Tapi Aku suami yang kejam, Nek. Aku sudah menuduh istriku yang mencelakakan Nenek. Bahkan ketika Dea melakukan pembelaan, Aku sama sekali tidak mempercayainya. Aku suami yang begitu jahat, Nek." Richie semakin tergugu.
Nenek begitu terkejut mendengar ucapan Richie. Lalu ia menatap ke seluruh anggota keluarganya. Mereka semua menundukkan kepalanya. Mereka sama menyesalnya seperti Richie.
"Jadi kalian juga menuduh Dea?!"
"Maafkan kami, Kak. Semua ini terjadi karena ucapan Hye jin. Dia yang mengatakan jika Dea yang mendorong Nenek hingga terjatuh," tunjuk Hyomin ke arah Hye jin.
Nenek menangis tak menyangka. "Benarkah itu, Nak?" Nenek menatap Hye jin meminta jawaban.
Gadis itu tertunduk. Ia ketakutan saat ini. Semuanya sudah mengetahui jika dirinya telah berbohong. Lalu bagaimana dirinya untuk membela diri. Sepertinya akan sangat sulit bagi dirinya untuk melakukannya.
***
Happy reading all 🤧🤧🤧
__ADS_1