
"Aku senang melihat mu mengkhawatirkan ku. Itu tandanya ada cinta untuk ku di hatimu," ucap Richie seraya mengusap-usap kepala istrinya.
"Kau tidak tahu betapa takutnya Aku tadi. Aku takut Kau akan meninggalkan ku."
"Apa Kau setakut itu, Sayang?"
Dea menganggukkan kepalanya. Membayangkan hal buruk yang terjadi pada Richie membuat tubuhnya bergetar. Dea kembali menahan air matanya. "Sangat takut sekali."
Richie meraih wajah sang istri dan memberikan ciuman bertubi-tubi pada wajah sang istri. " Jangan khawatir. Selama Kau ada bersamaku dan mencintaiku, maka Aku akan selalu baik-baik saja," ucap Richie yang langsung membenamkan sang istri ke dalam pelukannya. "Apakah Kau mencintai ku?" tanya Richie.
Dea mendongak menatap wajah Richie. Lalu dengan malu-malu dia menganggukkan kepalanya. Pipinya bersemu merah.
Richie merasa kebahagiaannya begitu lengkap saat ini. Ia begitu bahagia ketika Dea menganggukkan kepalanya saat menanyakan cinta kepada Dea. Padahal pria itu hanya bermaksud menggoda sang istri saja. Namun siapa sangka jika ia malah mengetahui jawabannya.
"I love you istriku." Richie mengecup kening Dea berkali-kali.
"Aku juga," ucap Dea masih dengan malu-malu.
"Juga apa hum?" Richie bermaksud menggoda sang istri agar membalas ucapan cintanya.
"Juga itu, yang Kau katakan tadi." Dea semakin menyembunyikan wajahnya di dada Richie.
__ADS_1
"Katakan, Aku mau mendengarnya, Sayang."
"Tidak mau, pokoknya sama seperti yang Kau katakan tadi." Wajah Dea semakin memerah.
"Baiklah, kalau tidak mau mengatakannya." Richie diam setelah mengatakannya.
Hingga beberapa detik tidak ada lagi suara Richie yang menggoda Dea.
Dea tidak ingin suaminya menjadi diam seperti ini. Kata-kata Richie yang selalu menggodanya sudah menjadi candu untuknya. Dan sekarang hanya karena dirinya tidak ingin mengatakan 'I love you' saja, suaminya menjadi diam.
"I love you too, suamiku," ucap Dea cepat. Kemudian dia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Ini pertama kali dirinya mengatakan cinta kepada seorang pria.
Richie merasa begitu bahagia, senang dan merasa begitu gemas pada macan betinanya itu. "Aku sangat-sangat mencintaimu, istri ku," ucap Richie sebelum membenamkan bibirnya pada bibir sang istri. Bibir mereka saling terpaut dengan rasa yang lebih nikmat. Karena saling mengungkapkan cinta satu sama lain.
***
"Tidak, Aku mau menemani mu di sini, Richie. Lebih baik sekarang Kau tidur, ini sudah malam." ucap Dea yang tidak bisa di ganggu gugat. Bahkan oleh Richie sekalipun.
Richie akhirnya menyerah. Sangat sulit sekali membujuk istrinya itu untuk pulang. Sekarang Richie menatap sang istri yang mengambil selimut yang tadi sudah Celine bawakan untuk sang istri dan membaringkan tubuhnya di sofa sebelah tempatnya.
"Sayang," panggil Richie. Dea menoleh.
__ADS_1
"Ya, kenapa? Apa ada yang Kau butuhkan, Richie?" tanya Dea yang kini sudah berdiri.
"Ya, Aku sangat membutuhkannya saat ini." Richie tersenyum penuh arti.
"Apa yang Kau butuhkan? Aku akan mengambilkannya untuk mu." Kini Dea sudah mendekati Richie.
"Tidak perlu mengambilnya untuk ku. Karena yang ku butuhkan hanyalah dirimu, Sayang." Richie menepuk sebelah ranjangnya. Dia sedikit menggeser tubuhnya.
"Apa? Tidak, Richie. Ranjang ini tidak akan muat untuk kita berdua. Dan Kau ini sedang tidak baik-baik saja."
"Tidurlah di sini bersamaku, Sayang. Aku ingin sekali memeluk mu. Kumohon temani Aku di sini ya?" bujuk Richie.
Dea tampak berpikir sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti kemauan sang suami.
***
"Richie, bagaimana keadaan mu?" Tanya Hye jin. Saat ini Uncle Gemal mendorong kursi roda Hye jin. Gadis itu bersikeras untuk melihat kondisi Richie.
"Aku baik-baik saja, istri ku pandai sekali merawat ku, jadi Aku cepat sembuh," ujar Richie tersenyum menatap sang istri yang sibuk menyuapinya buah apel.
"Oh, syukurlah. Aku begitu khawatir ketika Uncle Gemal memberi tahu ku kemarin."
__ADS_1
Tatapan Hye jin meredup. Ia seolah tak suka melihat kemesraan yang ada di depannya itu.
Sementara Dea, saat ini dia tidak mau lagi menjaga jarak dengan suaminya di depan Hye jin. Toh Richie adalah suaminya, jadi dia bebas untuk bermanja-manja dengan sang suami.