
"Tidak, Gemal! Dea tidak boleh pergi. Saat ini cucu menantu ku sedang mengandung." Nenek menangis. Lalu ia memandang Richie yang tampak begitu kalut. "Richie, Kau harus bisa menemukan Dea! Bawa kembali Dea. Minta maaf padanya, Nak. Kau harus bisa membawa cucuku, atau Nenek tidak akan pernah memaafkan mu!" Nenek terlihat begitu marah. Terdengar nafasnya yang tak beraturan.
"Mama harus tenang. Jangan berpikir macam-macam dulu. Aku yakin jika Richie akan membawa Dea kembali kepada kita lagi."
"Permisi semuanya, maaf sepertinya pasien harus beristirahat. Bisakah kalian semua keluar dari ruangan ini?" Perawat datang ke kamar rawat Nenek.
Mereka semua akhirnya keluar dari sana. Tak berapa lama kemudian, polisi juga datang k rumah sakit tersebut. Polisi membawa Hye jin atas laporan dan juga bukti dari Uncle Gemal.
Richie tak hentinya menyalahkan dan menyesali dirinya sendiri atas semua yang terjadi. Hatinya begitu terluka kala mengingat tangisan Dea. Tangisan yang menggambarkan betapa terlukanya hati Dea karena dirinya. Richie masih mengingat bagaimana sulitnya dulu ia mendapatkan hati Dea. Dan semua itu semakin membuatnya menggila menyesali kebodohan terbesarnya.
Richie berulang kali menghubungi nomor ponsel Dea. Namun ponsel Dea sedang tidak aktif. Ia memutuskan untuk pulang. Ia berharap masih dapat menemukan istrinya.
Tak berapa lama pun Richie sampai di rumah. Saat ini tujuannya adalah menemukan istrinya. Namun ia sedikitpun tak menemukan sosok istrinya di rumah.
Richie menuruni tangga dengan cepat. Ia bermaksud menuju bandara untuk menemukan istrinya di sana. Jika istrinya kembali ke Singapore, mungkin saja dia masih di bandara.
Dengan cepat Richie mengemudikan mobilnya. Ia sudah tidak bisa berpikir normal lagi. Ia sudah sangat menyakiti hati sang istri.
"Bodoh... bodoh...bodoh! Maafkan Aku Dea...!" Richie terus saja mengucapkan kalimat itu.
__ADS_1
Hingga akhirnya ia sampai di bandara. Pandangan Richie mengedar ke sekeliling antara ratusan bahkan mungkin ribuan orang-orang yang sedang berlalu lalang di sana.
Richie merogoh ponselnya dan kembali menghubungi nomor sang istri. Dan masih saja tidak aktif. Rasanya Richie hampir putus asa. Ia menyugar rambutnya dengan kasar. Hingga tubuhnya hampir terjatuh saat seseorang menabrak dirinya. Dan itu adalah Uncle Gemal.
"Uncle, katakan dimana istriku? Dimana Dea?" Richie mengguncang lengan Uncle Gemal yang saat ini menatapnya sangat tak ramah.
"Mungkin saja dia sudah naik pesawat saat ini." ucap Uncle Gemal datar.
"Kenapa Uncle membiarkan Dea pergi? Seharusnya Uncle menahannya dan tidak membiarkan Dea pergi seperti ini!" serunya.
"Untuk apa membiarkan Dea di sini? Untuk Kau abaikan lagi, Kau sakit lagi? Atau membiarkan dia di caci oleh keluarga mu di sini?! seru Uncle Gemal dengan menghembuskan tangan Richie dengan kasar. Dia benar-benar kecewa terhadap keponakannya itu.
Uncle Gemal segera menghentikan Richie.
"Tidak perlu! Kau tak perlu menyusulnya!" larang Uncle Gemal.
"Uncle tidak bisa menghentikan ku!"
"Biarkan Dea pergi. Tidak usah menyusulnya. Urus saja keluarga Nenekmu itu. Setelah ini Uncle akan mengembalikan Dea kepada Arya."
__ADS_1
"Apa yang Uncle katakan! Uncle tidak berhak melakukan hal itu. Dea istri ku!"
"Uncle berhak!" serunya. "Dea adalah putri Arya yang dia titipkan pada ku. Melihatnya kau sakiti seperti ini membuat ku sangat merasa bersalah kepada Arya. Apalagi Kau, keponakan Uncle sendiri yang melukainya! Uncle sudah membantumu untuk mendapatkan Dea. Dan dengan mudahnya Kau menyakiti hatinya!"
"Uncle, Aku tidak tahu jika Hye jin melakukan kebohongan sebesar itu. Dan ku pikir ...," Richie sangat merasa bersalah.
"Seharusnya Kau lebih mempercayai istri mu di bandingkan dengan orang lain. Dan itu kesalahan terbesarmu, Richie! Uncle tidak akan membantumu lagi!" Uncle Gemal sungguh tak menyangka keponakannya itu menjadi bodoh seperti ini.
Richie tercenung. Ia semakin merasa gelisah karena begitu sulit menemukan jalan keluar.
"Uncle, tolong. Richie akan memperbaiki semuanya. Aku tidak ingin berpisah dengan Dea. Aku tidak mau berpisah dengannya. Tolong bantu Richie, Uncle."
"Aku sudah sering membantumu, Richie. Tidak untuk kali ini. Kau harus menyelesaikan masalahmu sendiri!"
"Uncle tolong. Dea saat ini sedang hamil."
Gemal terdiam sejenak. Ia melupakan hal tersebut. Sungguh rasanya Gemal ingin memukul keponakannya itu.
Dengan menghembuskan nafas kasar, Gemal pun mengajak Richie.
__ADS_1
"Ikut Uncle!"