
Ketika Nenek mau menceritakannya, tiba-tiba saja Dea berlari ke arah wastafel dan memuntahkan cairan dalam tubuhnya yang terasa begitu pahit. Memang Dea belum makan sesuatu sejak bangun tidur.
Nenek segera mendekati Dea dan memijat tengkuk Dea agar merasa lebih baik. "Sepertinya Kau harus di periksa," ucap Nenek.
"Aku tidak apa-apa, Nek. Sepertinya asam lambung ku sedang kambuh. Di buat istirahat sebentar nanti juga akan sembuh," tolak Dea.
Namun Nenek menyipitkan matanya. "Sepertinya ini bukan hanya asam lambung saja, sepertinya ini lebih dari asam lambung," tutur Nenek membuat Dea terkejut.
Dea segera membasuh mulutnya dan kemudian menatap Nenek ketika rasa mualnya kembali menghilang.
"Maksud Nenek, Dea sakit parah?"
Demi apapun Nenek ingin menjitak kepala Dea karena salah mengartikan perkataannya.
"Kenapa Kau sepolos ini? Sudah ayo ikut Nenek," ajak Nenek. Sebelumnya ia memberi air putih hangat untuk Dea minum.
Nenek memanggil pelayan untuk menyuruhnya mengambil sesuatu dari apotek mini yang ada di rumahnya itu. Kenapa di bilang apotek mini, karena di ruangan itu berbagai macam obat dan alat kesehatan terdapat di sana dengan lengkapnya.
"Cepat gunakan ini, Kau pintar, jadi tidak mungkin Kau tidak tahu cara menggunakannya. Setelah selesai melakukannya, cepat berikan pada Nenek." Nenek segera menyuruh Dea memasuki bathroom.
Dea tahu dengan apa yang Nenek berikan padanya. Wajahnya terlihat begitu murung. Nenek selalu mendesaknya untuk segera hamil. Dan sekarang, Nenek memaksanya untuk menggunakan test pack. Sudah di pastikan setelah ini Nenek akan kecewa padanya.
"Tapi, Nek ...." Dea hendak memprotes. Namun Nenek kembali memaksanya memasuki bathroom. Mau tak mau Dea melakukan apa yang Nenek perintahkan dengan perasaan gamang.
"Sudah tentu Aku tidak mungkin hamil. Lagipula bulan ini belum genap juga satu bulan sejak terakhir kali bulanan ku," gumam Dea dalam bathroom tersebut.
Setelah melakukannya, tanpa melihatnya Dea segera keluar dan memberikannya kepada Nenek.
__ADS_1
"Nenek akan kecewa dengan hasilnya," ucap Dea sembari memberikan test pack itu kepada Nenek.
Nenek segera menajamkan pandangannya ke arah tanda merah yang tertera di sana.
Senyumnya terkembang ketika melihat praduganya yang ternyata adalah nyata.
"Benar dugaan Nenek. Sekarang Kau istirahat saja, jangan menyentuh apapun yang membuat mu lelah, Nenek tidak mau terjadi apapun terhadap cicit Nenek nantinya." Perintah Nenek membuat Dea terperangah.
"Maksud Nenek ...." Dea seakan kehilangan kata-katanya. Dia jadi penasaran dengan hasil testpack itu.
"Tentu saja Kau hamil. Kalau begitu sekarang istirahatlah, nanti kita akan memeriksakan kandungan mu ke dokter keluarga Nenek," ucap Nenek.
Dea masih tidak percaya. Benarkah dirinya hamil? Setitik air mata lolos dari pelupuk matanya kala Nenek memperlihatkan testpack tadi yang bergaris dua.
"Aku hamil, Nek?" Dea refleks langsung memeluk Nenek.
Sementara di sudut lain, Hye jin mematung melihat Nenek dan Dea saling berpelukan. Tangannya mengepal. Hye jin yakin jika Dea pasti sudah mencari perhatian dari Nenek.
"Ternyata Dea begitu licik. Apa yang dilakukannya hingga Nenek memeluknya seperti itu? Aku tidak akan membiarkan ini terus terjadi!" Hye jin segera meninggalkan tempat itu untuk menjalankan rencananya."
Hye jin mengambil minyak yang sudah dia persiapkan sebelumnya. Ia tahu pasti Dea sebentar lagi akan melintasi lantai di dekat tangga menuju kamar Richie.
Hye jin berjaga di sana dengan bersembunyi. Ia ingin memastikan jika Dea benar-benar terpleset nanti.
"Aku yakin Kau pasti akan keseleo nanti, Dea. Dengan begitu Kau tidak bisa lagi mencari muka di depan Nenek," pikir Hye jin. Keegoisan mulai menguasai hati gadis itu.
Dan benar saja. Beberapa saat kemudian, Dea berjalan hendak melintasi lantai tersebut dan hampir saja menginjak jebakan Hye jin. Tapi tiba-tiba Dea menghentikan langkahnya ketika Nenek kembali memanggilnya.
__ADS_1
"Biar Nenek saja yang yang memanggil suamimu untuk sarapan. Kau tunggu saja di ruang makan," ujar Nenek berjalan mendekati Dea.
"Tapi, Nek ...."
"Jangan membantah Nenek, cepat pergi ke meja makan!" perintah Nenek. Dea pun akhirnya mengalah dan menuruti perintah Nenek.
Di sisi lain saat ini Hye jin begitu khawatir karena ini tidak sesuai dengan rencananya. Ketika Hye jin hendak keluar ternyata Nenek sudah menginjak lantai yang terdapat minyak tersebut. Namun naasnya kepala Nenek terbentur lantai hingga terlihat darah segar mengalir dari sana.
Dea membalikkan badannya ketika mendengar suara terjatuh. Dan itu ternyata Nenek. Secepat mungkin Dea menghampiri Nenek dan menangis histeris melihat kondisi Nenek yang bersimbah darah.
"Nenek! Nenek kenapa? Kenapa bisa sampai seperti ini? Nek, Ayo bangun, Nek!" Dea menjerit sambil sesenggukan.
Hingga datanglah seluruh anggota keluarga menghampirinya. Mereka terkejut melihat Nenek yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.
"Ini pasti ulah mu kan?! Kau tidak menyukai Nenek, jadi Kau melakukan hal sekejam ini!" teriak salah satu saudara Nenek. (Dalam bahasa Korea)
Sementara Richie yang juga langsung menuruni anak tangga mendengar jeritan sang istri.
Richie terkejut melihat pemandangan di depannya. Dengan secepat kilat, Richie membopong tubuh Nenek langsung ke mobil dan segera melarikannya ke rumah sakit.
Dea mengikuti Richie hingga mobil. Dia tidak memperdulikan tuduhan yang di lontarkan oleh saudara Nenek. Yang terpenting saat ini adalah keselamatan Nenek.
Di tempat Hye jin. Saat ini Hye jin menekuk lututnya. Ia begitu ketakutan. Ia tidak menyangka akan menjadi seperti ini. "Nenek, maaf. Hye jin tidak bermaksud melakukan ini kepada Nenek." Gadis itu terus bergumam. Lalu dia bangkit dan mulai menyusul ke rumah sakit. Dea ingin melihat bagaimana kondisi Nenek saat ini.
***
Mungkin 6 bab lg akan tamat. Jadi pantengin terus ya genks 😁
__ADS_1