My Arrogant Woman

My Arrogant Woman
Kaulah yang Nenek cari


__ADS_3

Di dalam kamarnya, Hye jin benar-benar merasa sangat kesal. Ia terus memikirkan cara agar Nenek membenci Dea. Ia begitu risau saat melihat senyum Nenek ketika memuji masakan Dea tadi.


"Bagaimana Aku harus membuat Nenek membenci Dea? Ayo Hye jin, terus berpikir," gumamnya. Hingga terlintas sebuah ide di otaknya. Hye jin bertekad untuk melakukan idenya nanti.


***


Pagi ini seperti biasanya. Dea kembali membuat sarapan untuk Nenek. Namun entah mengapa tiba-tiba saja rasa pusing dan mual mulai melanda dirinya.


Dea hampir terjatuh jika seandainya tidak ada yang menyangga tubuhnya.


"Kalau sedang tidak enak badan jangan memaksakan untuk berada di dapur. Aku tidak pernah mengharuskan mu untuk membuat makanan kesukaan ku setiap pagi. Kau pikir pelayan lainnya tidak bisa mengerjakannya? Sudah sana kembali ke kamar mu dan istirahat!" Nada suara Nenek terdengar begitu ketus. Tapi mengandung banyak perhatian. Sungguh wanita tua itu seperti sosok Dea versi tuanya.


Ya, Nenek lah yang menopang tubuh Dea. Wanita tua itu sejak pagi, diam-diam memperhatikan Dea. Nenek hanya ingin tahu apakah masakan kemarin benar-benar Dea yang membuatnya atau bukan.


Tapi saat melihat Dea yang tiba-tiba memegangi kepalanya dan hampir terjatuh membuat Nenek refleks langsung menghampiri Dea.


"Nenek...." Dea menoleh ke arah Nenek. Ia segera menegakkan badannya.


"Ayo, sana istirahat saja. Jangan merepotkan orang seisi rumah." perintah Nenek lagi.


Entah kemana hilangnya rasa pusing dan mual tadi. Kini Dea malah sudah kembali baik-baik saja.


"Dea tidak apa-apa, Nek. Dea ingin belajar menjadi istri yang baik. Makanya sekarang Dea mau membuat masakan yang kata Auntie kesukaan Richie dan Nenek." Dea tersenyum manis setelah mengatakannya.


"Tapi Kau sepertinya tidak baik-baik saja."

__ADS_1


"Dea baik-baik saja, Nek. Lihatlah, tidak apa-apa kan?" Dea memutar tubuhnya memperlihatkan kepada Nenek jika dirinya memang benar baik-baik saja.


"Ya sudah, terserah. Tapi jika nanti Kau pingsan, Nenek tidak akan membantu mu lagi. Dan Nenek juga mau membuat masakan pagi ini. Sudah lama Nenek tidak pernah memasak. Baiklah, kalau begitu Aku akan mengajarimu untuk membuat nasi Curry."


Dea sungguh tidak percaya. Sekarang Nenek sendiri yang akan mengajarkan memasak di dapur. Menurutnya ini adalah kemajuan besar.


"Baiklah, Nek. Mohon bimbingannya." Dea membungkukkan badannya seraya menahan senyumnya.


Sementara Nenek hanya memutar bola matanya sembari menggelengkan kepalanya. Lalu Nenek memulai untuk membuat nasi Curry. Dan Dea sebagai asistennya.


Dea mengikuti setiap perintah dari Nenek. Saat ini Dea akan mengangkat masakan itu dari kompor. Namun tak sengaja tangan Dea menyenggol panci panas.


"Ahh! Ssst,panas sekali," Dea mendesis merasakan tangannya yang terasa seperti terbakar.


Nenek yang melihatnya langsung menarik tangan Dea Dan membasuhnya dengan air keran.


"Maaf Nek. Tapi ini rasanya sakit dan panas sekali," rintih Dea. Bahkan rasanya Dea hampir menangis ketika merasakan panas di tangannya dan juga omelan Nenek.


"Tunggu di sini, Nenek ambilkan salep untuk mengobati lukamu." Dea mengangguk.


Nenek segera mengoleskan salep pada luka bakar Dea yang terkena panci panas tadi. Namun, pandangannya teralihkan pada apa yang ada di dekat pergelangan tangan Dea. Nenek bahkan sampai menyipitkan matanya.


"Apa ini tanda lahir?" tanya Nenek saat melihat sebuah tanda yang hampir sama dengan bentuk bintang di dekat pergelangan tangan Dea.


"Iya Nek, itu sudah ada sejak Dea masih kecil. Kata ibu panti, itu tanda lahir Dea." tutur Dea. Nenek terdiam sejenak menatap Dea dengan hati yang gelisah.

__ADS_1


Dengan hati yang berdebar, Nenek bertanya kepada Dea. Nenek ingin memastikan sesuatu.


"Apa dulu Kau tinggal di panti asuhan?" tanya Nenek kembali. Dan Dea mengangguk.


"Iya, Nek. Memangnya kenapa? Apa Nenek tidak suka jika Aku sebenarnya seorang yatim piatu? Apa Nenek akan menentang keras hubungan ku dengan Richie?" Tiba-tiba Dea merasa takut jika Nenek akan menentang pernikahannya dengan Richie. Dea takut Nenek akan kembali menjodohkan Richie dengan Hye jin. Dan yang pasti, Dea tidak akan membiarkan siapapun menentang hubungannya dengan sang suami meskipun itu Nenek sekalipun. Dea akan mempertahankan pernikahannya.


Nenek kembali terdiam. Pikirannya melayang ke 20 tahun silam. Tapi ia tidak ingin menerka-nerka dulu sebelum mendapatkan pembuktian dari peraduannya itu.


"Nenek tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi ada satu pertanyaan lagi yang ingin Nenek tanyakan kepada mu."


Dea memicingkan matanya. Ia heran kenapa Nenek tiba-tiba banyak bertanya. Nenek begitu mengintimidasi nya.


"Nenek mau menanyakan apa?"


"Apa Kau memiliki kalung dengan liontin daun Semanggi?"


Dea terkejut. Bagaimana mungkin Nenek Richie ini bisa tahu jika dirinya memiliki kalung seperti yang Nenek sebutkan. Tangan Dea mulai menyentuh bagian lehernya. Lalu ia mengeluarkan kalung yang berada di balik bajunya. Ya, Dea memang memiliki kalung berliontin daun Semanggi itu.


"Maksud Nenek yang ini?" Dea memperlihatkan kalungnya kepada Nenek.


Tanpa ba-bi-bu Nenek langsung memeluk Dea, membuat sang empunya bingung tak mengerti.


"Akhirnya Nenek menemukan mu," ucap Nenek. Dea semakin bingung dengan ucapan Nenek.


"Nenek, kenapa memeluk ku? Dea sungguh tidak mengerti dengan yang Nenek katakan." Dalam kebingungannya Dea bertanya.

__ADS_1


Nenek mulai melepaskan pelukannya. Menatap hangat Dea yang menatapnya penuh tanya. Nenek merasa lega karena Dea menjadi istri dari cucunya. Kini Nenek menerima Dea sepenuhnya sebagai cucu menantunya.


__ADS_2