My Beastly Husband

My Beastly Husband
Jangan Pedulikan Aku


__ADS_3

Naura dan Aagha baru saja menikah dengan pesta yang meriah di sebuah hotel ternama di kota itu tapi Aagha dan Naura tidak bahagia setelah mereka sah menjadi suami istri. Namun Naura tetap berusaha tersenyum jika ada tamu yang datang memberi selamat. Tidak seperti Aagha yang bermuka datar ketika disapa orang.


Naura duduk di depan cermin dengan gaun pengantin yang masih melekat ditubuhnya. Ia masuk ke kamar setelah satu persatu tamu meninggalkan tempat pesta. Namun di kamar itu tak ada Aagha. Pria itu malah berpesta bersama teman-temannya tanpa peduli dengan Naura yang kini menunggunya di kamar.


Naura menunggu di sana bukan untuk melakukan malam pertama dengan Aagha. Ia tidak mengharapkan hal itu. Jika perlu ia ingin menghindar dari hubungan suami istri seperti itu. Alasannya menunggu Aagha karena ingin bicara dengan Aagha terkait kesalah pahaman Aagha mengenai kehamilannya. Sejak ia membawa Aagha pulang dari bar, ia tidak punya kesempatan bicara berdua. Entah karena Aagha memang sengaja menjauhinya atau memang ia yang sibuk dengan urusan pernikahannya.


"Jam segini kenapa Kak Aagha belum balik?" Naura mondar-mandir di kamarnya sembari menatap jam dinding di kamar itu.


Demi bicara dengan Aagha, Naura bahkan tidak ingin mengganti gaunnya. Takutnya saat ia masuk kamar mandi, Aagha malah tidur duluan dan tidak sempat lagi bicara.


Tiba-tiba pintu kamar Naura diketuk oleh seseorang. Naura mengira itu suaminya sehingga ia buru-buru membuka pintunya. Namun yang ada di depannya bukan Aagha melainkan Lucas.


"Kak Lucas?" Naura heran melihat Lucas ada di depan kamarnya larut malam begini.


"Ada perlu apa sampai kamu datang di jam segini? Apa kamu gak tahu ini sudah jam satu malam. Nggak baik kalau kamu di sini!"


"Aku merindukanmu Naura!"


Dari tingkah Lucas seperti orang yang sedang mabuk. Bahkan cara berdirinya tidak tegak. Pria itu malah bersandar di pinggir pintu yang terbuka.

__ADS_1


"Kamu mabuk ya?" tanya Naura.


"Tidak Naura. Aku masih sadar. Aku masih bisa mengenalimu dengan baik." Tiba-tiba Lucas berjalan mendekat ke Naura dan langsung memeluk Naura yang seketika panik.


"Lucas, lepaskan!"


"Aku tidak mau melepaskanmu. Aku merindukanmu Naura!" Kedua tangan Lucas semakin erat memeluk Naura yang berusaha mendorong tubuh Lucas.


"Kak Lucas. Ini tidak baik. Kalau ada yang lihat, akan salah paham sama kita. Tolong lepaskan!" kata Naura memohon.


Tiba-tiba Lucas menangis dengan suaranya yang terdengar jelas. Layaknya bocah lima tahun, ia menangis tersedu-sedu dengan wajah bersandar di bahu Naura.


Naura yang tadinya berusaha mendorong tubuh Lucas, hanya diam sejenak mendengar tangisan Lucas. Ia kasihan melihat pria itu menangis padanya sembari mengatakan kerinduannya. Karena jujur, perasaannya pada Lucas masih terlalu dalam. Sulit untuk melupakan laki-laki itu meski ia sudah berusaha untuk menjauhkan dirinya dari Lucas.


Seandainya Naura tahu bahwa hubungannya dengan Lucas ditentang banyak orang termasuk Aagha dan keluarga Lucas hingga berakhir saling menyakiti,  ia tidak akan memulainya. Ditambah Lunara yang begitu menginginkan Lucas menjadi pasangannya.


Lucas melepas pelukannya lalu beralih menatap Naura lebih dalam. "Naura, aku cuma mau bahagia dengan orang yang kucintai, yang juga mencintaiku. Apa itu termasuk keegoisanku? Apalagi kita sudah pernah berjanji untuk bersama selamanya tapi kamu malah memilih Aagha! Kamu pasti tidak mengerti bagaimana sakitnya aku yang tidak bisa memilikimu?"


Naura sangat paham rasa sakit yang dikatakan Lucas. Namun ia memilih diam di depan pria itu karena tidak ingin membuat Lucas semakin berharap kepadanya.

__ADS_1


"Naura, kumohon jangan siksa aku dengan sikapmu yang dingin ini!" Lucas masih menangis.


Dan itu pertama kalinya Naura melihat Lucas menangis di depan matanya. Selama ini, ia mengenal pribadi Lucas yang tidak gampang bersedih. Namun kali ini, pria itu malah menangis tersedu-sedu di depannya. Hal itu membuat Naura sesak hingga dadanya terasa sakit karena tidak sanggup melihat kesakitan Lucas di depannya.


Mata Naura berkaca-kaca. Ia ingin menangis melihat Lucas menangis dengan kepala menunduk di depannya. Kedua tangan pria itu memegang bahunya. Dan karena tidak mau menunjukkan matanya yang berkaca-kaca hingga akhirnya ia melepas tangan Lucas dari bahunya kemudian memutar tubuhnya membelakangi Lucas. Seketika pula, matanya yang berkaca-kaca itu, mengeluarkan air mata-membasahi pipinya.


"Aku muak melihatmu terus mendatangiku seperti ini. Jadi pergilah!" Setelah mengatakan itu, Naura buru-buru masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar itu rapat-rapat.


Lucas yang masih berdiri di luar, menjatuhkan tubuhnya di lantai dan malah bersandar di pintu kamar Naura. Ia sudah tidak menangis lagi tapi raut wajahnya tampak kacau karena kesedihan yang membelenggunya. Naura yang ada di kamarnya, juga sedang menyandarkan punggungnya di pintu yang tertutup. Perempuan itu menangis tapi ia berusaha menahan suara tangisannya dengan menutup mulutnya menggunakan tangannya.


'Aku juga sama sepertimu Kak Lucas. Hatiku sakit karena tidak bisa bersamamu. Dan saat ini, aku pun merindukanmu. Rindu dengan kebersamaan kita. Rindu dimanja sama kamu. Dan rindu tertawa bersamamu seperti dulu. Aku juga paham rasa sakit yang kamu rasakan sekarang. Aku sangat paham Kak Lucas. Dan bukan cuma kamu yang mau bahagia. Aku pun mau bahagia bersamamu. Tapi ada orang yang akan sedih karena kita. Aku harus menyelamatkannya. Maaf, aku tidak tahu harus bagaimana? Tidak ada yang bisa kulakukan untukmu selain diam membisu.'


Setengah jam berlalu. Naura tertidur di sofa dengan gaun pengantin yang masih membalut tubuh mungilnya. Wajahnya masih basah akibat air mata yang terus mengalir setengah jam lalu hingga membuat wajahnya berantakan. Dan matanya masih mengantuk tapi ia berusaha bangun untuk memastikan apakah Aagha sudah kembali atau belum. Ternyata Aagha belum kembali padahal jam dinding sudah menunjukkan pukul dua malam. Meski Naura tidak punya perasaan pada Aagha sebagai seorang wanita tapi ia tetap peduli dengan pria itu. Ia khawatir terjadi apa-apa pada Aagha hingga ia keluar dari kamarnya untuk mencari Aagha.


Namun ketika ia menunggu lift terbuka, Aagha malah keluar dari sana. "Kak Aagha!"


Dengan ekspresi dinginnya, Aagha berjalan melewati Naura tanpa peduli dengan Naura. Namun sesaat ia melirik Naura ketika ia berjalan pergi.


"Kak Aagha!" seru Naura sembari mengekori Aagha yang berjalan menuju kamarnya. Aagha masih tidak mempedulikan Naura hingga Naura berinisiatif meraih tangan suaminya, memegangnya untuk menahan Aagha berjalan masuk ke kamarnya.

__ADS_1


"Kak Aagha mabuk lagi ya?"


"Lepas!" kata Aagha sembari menghempas tangan Naura dari tangannya dengan kasar. "Jangan pedulikan aku! Pergi sana!"


__ADS_2