My Beastly Husband

My Beastly Husband
Ketulusan Lunara


__ADS_3

"Lunara, bagaimana keadaanmu?" Baru saja Aagha masuk ke ruangan Lunara, dan ia langsung menanyakan keadaan Lunara yang masih berbaring di ranjang.


"Selain kepalaku yang sakit, yang lain baik-baik saja Kak." Lunara menjawab sembari memegang kepalanya yang diperban.


Aagha menghela nafas lega mendengar jawaban adiknya. "Syukurlah kalau tubuhmu tidak ada yang sakit. Kakak sempat khawatir kalau saja ada bagian tubuhmu selain kepalamu yang tidak bisa digerakkan." Meski Aagha merasa lega tapi rasa khawatir tentang kondisi adiknya, tetap ada karena jatuh dari tangga bukanlah sesuatu yang harus disepelekan. Bisa saja Lunara tidak bisa berjalan atau mungkin cacat permanen.


"Nggak kok Kak. Ngomong-ngomong kakak datang sama siapa?"


"Datang sendiri," jawab Aagha.


"Naura nggak datang sama kakak?" tanya Lunara yang sejak tadi menunggu kedatangan Naura.


Aagha sedikit kaget mendengar Lunara menanyakan Naura karena ia tidak berpikir bahwa sang adik akan bertanya tentang Naura. "Naura ada di rumah. Dia nggak enak badan makanya nggak bisa kemari."


Lunara terlihat kecewa karena tidak bertemu dengan Naura tapi Lunara bisa mengerti. "Oh begitu. Tapi Naura nggak terluka kan?"


"Nggak sama sekali. Naura baik-baik saja."


Nafas lega berhasil lolos dari mulut Lunara. "Syukurlah! Aku sempat khawatir sama dia karena dia habis bertengkar dengan Kak Tasya."


"Lunara, kamu sudah terluka begini tapi kamu masih saja peduli sama orang lain. Apa tidak bisa kamu lebih peduli dengan dirimu sendiri ketimbang orang yang mungkin tidak memikirkanmu?" Aagha kesal mendengar Lunara selalu memperhatikan Naura yang ia kira tidak peduli pada Lunara. Apalagi Naura adalah penyebab Lunara buta. Baginya Naura bukanlah teman yang baik untuk Lunara melainkan benalu yang kapan saja bisa menghancurkan Lunara.


"Naura bukan orang lain Kak. Dia sahabatku dan juga kakak iparku." Lunara kadang heran dengan Aagha yang seakan benci pada Naura setiap kali membicarakan Naura. Padahal yang Lunara dengar dari ibunya bahwa mereka menikah, salah satunya karena saling suka. Bukan hanya karena Naura hamil saja.


"Tapi dia udah bikin kamu jadi begini Lunara."


"Begini apa maksud kakak?"


Aagha diam saja karena tidak ingin membahas tentang kecelakaan Lunara yang akan membuatnya emosi lagi pada Naura.

__ADS_1


"Jangan-jangan kakak masih menyalahkan Naura tentang kecelakaan itu!?"


"Kakak kamu memang keterlaluan sekali, Lunara!" Lucas tiba-tiba saja menyahut. Pria itu masuk ke ruangan Lunara tanpa mengetuk pintu. Ia masuk begitu saja ditengah obrolan Lunara dan Aagha.


Aagha yang duduk di samping tempat tidur adiknya, menengok ke Lucas yang berjalan mendekatinya. "Kau tidak sopan sekali. Masuk tidak ketuk pintu dulu."


"Aku tidak sopan? Lalu bagaimana denganmu yang egois dan pengecut. Demi kasih sayangmu yang berlebihan pada Lunara, kau sampai mengabaikan Naura. Bahkan kau menghukum Naura karena Lunara. Jahat sekali kau Aagha."


Ucapan Lucas membuat Lunara terkejut tapi ia masih diam karena masih mencerna apa yang dibicarakan Lucas.


"Jadi kau mau jadi pahlawan berkuda putih untuknya?" Ekspresi Aagha tampak meremehkan Lucas. Senyuman sinisnya pun tampak diwajahnya. "Ingat Lucas, kau itu suami Lunara, adik iparku. Jadi berhenti ikut campur urusan rumah tangga kakak iparmu. Dan lagi, Naura adalah istriku. Hakku mau melakukan apa padanya. Tidak ada yang boleh ikut campur."


"Kakak!" seru Lunara yang membuat Aagha baru menyadari bahwa ia sudah bicara kasar di depan Lunara meski kata-katanya itu ditujukan pada Lucas.


"Apa yang terjadi pada Naura? Kenapa Lucas bilang kakak jahat pada Naura?" tanya Lunara kemudian.


Aagha berbalik memandang Lucas dengan tajam.


Sementara Lunara seketika sedih karena mendengar penjelasan Lucas tentang Naura. "Kenapa Kak Aagha melakukan itu pada Naura? Apa yang sudah dilakukan Naura pada Kak Aagha?" tanyanya.


"Yang kulakukan pada Naura adalah hukuman untuknya karena telah membuatmu masuk rumah sakit, Lunara. Kamu begini karena dia yang mendorongmu ke tangga."


"Aku jatuh bukan kesalahan Naura, Kak. Ini tidak disengaja. Ini musibah karena aku yang tidak berhati-hati," kata Lunara yang berusaha membela Naura.


"Tapi tetap saja Naura yang sudah mendorongmu, Lunara."


"Aku tidak berani menuduh siapapun karena aku sendiri tidak bisa melihatnya tapi aku percaya pada Naura. Naura tidak akan menyakitiku. Lalu kakak, kenapa bisa menuduh Naura penyebabnya? Apa kakak melihatnya sendiri?" Raut wajah Lunara tampak sedih karena mendengar Aagha menyalahkan Naura.


Aagha terlihat ragu tapi ia tetap bisa menjawab Lunara, "kakak tidak melihatnya tapi pelayan di sana yang melihat semuanya. Pelayan itu tidak mungkin berbohong."

__ADS_1


"Kak, jangan salahkan Naura! Naura tidak sengaja melakukannya. Waktu itu, Naura tidak tahu kalau aku ada di sana." Lunara berbicara dengan nada rendah serta suara lembutnya untuk membujuk Aagha agar tidak menyalahkan Naura.


"Terserah kau. Aku tidak mau bicara lagi padamu." Aagha memilih keluar dari ruangan Lunara karena kesal pada adiknya yang terus membela Naura.


"Lunara benar-benar sudah terpengaruh oleh Naura. Dia sudah mencuci otak Lunara. Sialan! Sebenarnya apa yang dilakukan Naura sampai Lunara terus memihaknya?"


Sementara Lunara yang di dalam, menggerakkan tubuhnya sampai ia menurunkan kedua kakinya di lantai.


"Kau mau ngapain?" tanya Lucas yang dengan cepat memegang lengan Lunara agar tidak jatuh.


"Aku mau menghubungi Naura. Tolong berikan ponselmu Kak!" pinta Lunara.


"Naura tidak bisa mengangkat panggilanmu. Sekarang dia dirawat di sini dan belum sadarkan diri," ungkap Lucas yang membuat Lunara terkejut.


"Naura masuk rumah sakit? Kenapa bisa?"


"Ya karena perbuatan kakakmu."


Lunara mengira, Naura hanya pingsan sebentar tapi ternyata Naura sampai masuk rumah sakit. Tentu kabar itu membuat Lunara semakin khawatir pada Naura.


"Boleh minta tolong bawa aku ke kamar Naura!?"


"Boleh." Lucas mengangguk. "tapi kamu tunggu aku sebentar! Aku ambilkan kursi roda dulu." Meski Lucas tidak suka dengan Lunara tapi ia tetap peduli pada perempuan itu atas dasar kemanusiaan dan hati nuraninya sebagai laki-laki bertanggungjawab. Terlebih ia tersentuh dengan ketulusan Lunara terhadap Naura yang tetap percaya pada Naura meski Aagha terus menyalahkan Naura.


Tak lama, Lucas kembali membawa kursi roda untuk Lunara. Ia pun segera menggendong Lunara sampai duduk di kursi roda itu. Lalu dengan langkah pelan tapi pasti, Lucas mendorong kursi rodanya keluar dan menuju kamar Naura yang ada di lantai bawah. Aagha sengaja menempatkan Naura agak jauh dari ruangan Lunara karena tidak ingin keluarganya tahu apa yang sudah terjadi pada Naura. Terutama pada Lunara yang sangat peduli pada Naura. Meski begitu, Aagha tetap menempatkan Naura di Kamar VIP agar istrinya itu tinggal di ruangan yang nyaman.


"Di sini tempatnya?" tanya Lunara ketika Lucas berhenti mendorong kursi rodanya.


"Iya. Ayo masuk!"

__ADS_1


__ADS_2