
Aagha sudah masuk ke kamar Naura dan Lucas ikut masuk karena khawatir Aagha membentak Naura di dalam. Aagha langsung mendatangi Lunara yang masih duduk di samping tempat tidur Naura.
"Lunara, kamu baru sadar. Harusnya kamu istirahat saja di kamarmu. Bukan jalan-jalan begini."
"Aku datang ketemu Naura, Kak. Lagipula, aku baik-baik aja kok. Nggak ada yang serius dengan kondisiku," kata Lunara yang tidak senang mendengar omelan Aagha, dan ia tidak mau pergi dari kamar itu karena tetap ingin menemani Naura.
Naura yang melihat Aagha kesal karena tidak didengarkan oleh Lunara, merasa tidak enak hati karena membiarkan Lunara tetap di sana, padahal Lunara memang masih butuh istirahat. "Luna, aku baik-baik aja. Lebih baik kamu dengarkan Kak Aagha, dan kembalilah ke kamarmu untuk istirahat di sana."
"Tapi bagaimana denganmu?" tanya Lunara yang lebih senang bersama Naura.
"Aku nggak apa-apa kok. Di sini ada Kak Aagha dan suster yang jaga aku."
"Nggak ah. Aku bakal tetap di sini!" Lunara tidak mau meninggalkan Naura di sana karena mengira bahwa ketika ia pergi nantinya maka Naura akan kena marah lagi oleh Aagha yang akan menyalahkan Naura.
Naura memajukan kepalanya ke depan Lunara, dan mendekatkan bibirnya ditelinga Lunara lalu berbisik, "Kalau kamu di sini, kamu nggak bakal bisa berduaan dengan Kak Lucas. Bukannya kamu mau dekat dengan dia supaya dia lebih perhatian sama kamu."
Lunara mengingat rencananya itu hingga ia pun mneyerah untuk tetap di sana. "Oke. Aku bakal pergi tapi kalau kamu sudah keluar dari sini, kamu harus menemuiku."
"Oke."
"Kak Lucas, ayo kita pergi!" ajak Lunara yang ingin meninggalkan tempat itu, tapi berbeda dengan Lucas yang masih ingin di sana karena belum puas melihat Naura. Terlebih ia ingin bicara berdua dengan Naura tentang masalah Naura yang pura-pura hamil. Namun, Lucas tidak ingin menambah kebencian Aagha padanya hingga ia memilih mengalah. Ia pun mendorong kursi roda Lunara untuk pergi.
Ketika Lucas membuka pintu, Lunara tiba-tiba menahan tangan Lucas yang ingin mendorong keluar kursi rodanya. "Tunggu sebentar Kak!"
Meski tidak bisa melihat Naura dan Aagha tapi Lunara tetap menoleh ke belakang. "Kak Aagha, aku mau liburan di kota ini sebelum kembali ke Indonesia. Tapi aku tidak mau liburan berdua saja dengan Kak Lucas. Aku pengen Kak Aagha dan Naura menemani kami."
__ADS_1
"Kapan?" tanya Aagha.
"Minggu depan. Karena pasti aku dan Naura udah sembuh."
"Nggak bisa Luna. Kakak banyak kerjaan di kantor, dan harus balik minggu depan," tolak Aagha.
"Tunda dulu lah. Kan ada Om Emir yang ngurusin kantor kakak. Sekarang waktu kita untuk liburan dan senang-senang. Mumpung kita ada di sini. Walau nggak bisa lihat tapi aku pengen banget ke pantai," kata Lunara yang terlihat antusias.
Dan Aagha tidak ingin mengecewakan adiknya maka dengan terpaksa ia pun menuruti adiknya itu. "Oke. Kita liburan sama-sama."
"Makasih Kak! Masalah tempat, aku bakal minta bantuan sama Kak Azra. Aku nggak mau kalau kakak yang cari tempat nginapnya. Yang ada liburan kita bakal jadi berantakan. Nggak sesuai sama yang aku inginkan," ujar Lunara.
"Terserah kamu!"
"Ini makananmu!" Aagha yang masih memegang bungkusan makanan untuk Naura, menyodorkan bungkusan itu pada Naura yang duduk bersandar di sandaran ranjang.
Naura meraihnya dengan ragu-ragu karena masih takut pada Aagha yang dingin kepadanya. "Makasih Kak!"
"Mmm!" Aagha masih kesal dengan Naura sampai ia memalingkan wajahnya ketika membalas Naura dengan suara pelannya.
Naura membuka bungkusan makanan itu, dan melihat makanan kesukaannya di bungkusan itu. Ia sedikit kaget dengan Aagha yang membawakan makanan kesukaannya sampai ia mengangkat wajahnya menatap Aagha yang masih berdiri di samping tempat tidurnya.
"Makanlah! Kenapa malah melihatku? Tidak suka sama makanannya!" ketus Aagha yang tidak suka ditatap oleh Naura tanpa mengatakan apapun.
"Suka kok." Buru-buru Naura membuka plastik sendok dan garpunya kemudian mulai menyuapi dirinya sendiri sembari tersenyum senang karena bisa menikmati makanan kesukaannya. Sebenarnya bukan itu alasan utama Naura tersenyum senang melainkan karena Aagha yang masih ingat tentang kesukaannya.
__ADS_1
Aagha yang tidak melakukan apapun di sana, duduk di kursi-di samping tempat tidur Naura. "Aku tidak kasih tahu keluarga kalau kau masuk rumah sakit. Takut mereka khawatir. Jadi jangan bersedih kalau cuma aku yang menemanimu di sini."
"Iya. Nggak apa-apa tapi Kak Aagha sudah tidak marah lagi sama aku?"
"Siapa bilang? Aku masih marah sama kamu. Kalau bukan karena Lunara yang tetap membelamu, aku tidak mungkin baik padamu. Jadi baik-baiklah sama Lunara. Jangan menyakiti dia terus! Karena dia sudah sangat baik dengan tetap berpihak padamu."
Seketika raut wajah Naura berubah kecewa, karena ia mengira bahwa Aagha sudah percaya padanya tapi nyatanya pria itu masih tidak bisa mempercayainya.
"Ya. Aku mengerti. Aku tidak akan menyakiti Lunara lagi." Naura lelah menjelaskan pada Aagha tentang dirinya yang tidak pernah menyakiti Lunara hingga ia membiarkan saja buruk sangka Aagha kepadanya.
Aagha menghela nafas berat melihat Naura yang menunduk, tapi ia diam saja dan tidak ingin bicara lagi.
"Kalau Kak Aagha sibuk, lebih baik pergi saja! Aku nggak masalah sendiri di sini! Kak Aagha nggak perlu menemaniku kalau cuma sekedar karena tanggung jawab." Naura berucap ketika ia dan Aagha sama-sama diam beberapa saat.
"Terus minta Lucas menemanimu di sini, begitu?"
Naura langsung menatap Aagha dengan tatapan tajamnya. "Kenapa kamu selalu mengaitkanku dengan Lucas? Oke, aku pernah pacaran sama dia tapi sekarang sudah berbeda. Dia sudah menikah dengan Lunara dan aku menikah dengan kamu."
Aagha tidak senang mendengar cara bicara Naura yang tidak seperti biasanya, seolah tidak menghargainya. "Karena aku tahu, kamu berubah begini gara-gara kenal Lucas dan teman-temannya."
"Jadi Kak Aagha sekarang menyalahkan Lucas yang buruk? Lalu kenapa Kak Aagha menikahkan Lucas dengan Lunara kalau Lucas pria yang buruk dimata Kak Aagha?"
Aagha kehabisan kata-kata setelah mendengar ucapan Naura, dan ia tiba-tiba berdiri. "Aku tidak mau bicara denganmu. Urus saja dirimu sendiri."
Aagha pun keluar dari ruangan itu, dan Naura malah tercengan melihat sikap Aagha yang keras. Di luar, Aagha tidak langsung meninggalkan kamar Naura. Ia malah berdiri dengan pertanyaan yang tiba-tiba muncul dikepalanya. 'Sebenarnya kenapa aku tidak bisa balas pertanyaan Naura? Lucas, dia selalu membuatku tidak nyaman. Padahal, aku harusnya senang karena dari awal, inilah yang kuinginkan. Menikahkan Lunara dengan pria yang sangat dia cintai.'
__ADS_1