
Naura diperbolehkan keluar rumah sakit oleh dokter setelah seharian semalam hanya berbaring di kamar. Aagha yang datang kembali menemui Naura, membawa Naura ke kamar Lunara atas permintaan Naura sendiri yang ingin menemui Lunara sebelum kembali ke rumah.
"Di kamar ada, mommy dan daddy. Ada Tante Laura juga, jadi jaga ucapanmu di sana. Jangan sampai bikin mereka khawatir sama kamu." Maksud peringatan Aagha pada Naura agar Naura tidak mengatakan tentang dirinya yang dirawat di rumah sakit karena terkurung di ruangan tertutup. Alasannya tentu karena Aagha tidak mau keluarganya khawatir, dan ia juga tidak mau jika daddynya, menyalahkannya gara-gara menghukum Naura sampai masuk rumah sakit.
"Iya, aku mengerti. Kak Aagha sudah bilang puluhan kali. Aku nggak mungkin lupa," jelas Naura.
"Aku mengingatkanmu lagi supaya kau tidak lupa."
Kini sepasang pengantin baru itu berada di depan kamar Lunara. Mereka berdua masuk bersama-sama, dan langsung menyapa orang tua mereka.
"Naura, Lunara sudah tiga hari dirawat, dan kamu baru datang sekarang! Sebenarnya kamu masih punya ...,"
"Bibi Laura, tolong jangan ungkit masalah itu. Lunara dan Naura baik-baik saja. Jangan menambah masalah yang bisa membuat mereka canggung." Aagha tak tanggung-tanggung menegur ibu mertuanya di depan semua orang jika ia merasa bahwa sikap Nyonya Laura tidak dibenarkan.
Laura akhirnya diam dan tidak menyalahkan anaknya atas yang terjadi pada Lunara. Terlebih ia tiba-tiba merasa malu karena menegur Naura yang masih tak mau mendengarkannya.
Sementara Lunara dan Naura, kini malah saling berhadapan. Namun sebelum itu, Naura menyapa dan memberi salam Nyonya Elif dan Tuan Edis yang masih menyayanginya meski disalahkan oleh Nyonya Laura dan Aagha. Sebab, Nyonya Elif dan Tuan Edis tahu bahwa hubungan Lunara dan Naura masih kelihatan baik-baik saja, jadi untuk apa memperbesar masalah jika kedua orang yang bersangkutan saja tidak mempermasalahkannya.
"Mom, Dad, kalian berdua ngizinin aku dan Naura liburan kan?" Lunara sudah meminta izin sebelumnya pada kedua orang tuanya tapi mereka berdua menolak hingga Lunara kembali meminta izin di depan semua orang.
"Kalau kakakmu ikut, tidak masalah. Daddy izinin," sahut Tuan Edis yang tidak mau membuat putrinya kecewa dengan penolakannya.
"Tidak bisa. Lunara, kamu masih perlu istirahat. Tidak boleh pergi jauh. Kalau mau liburan, tunda sampai sebulan lagi," imbuh Nyonya Elif yang tidak setuju.
__ADS_1
Lunara diam saja tapi bibirnya cemberut karena kesal pada ibunya, bahkan ia memalingkan wajahnya ke arah lain. Naura yang awalnya setuju dengan rencana liburan Lunara, pun tidak bisa ikut meminta izin pada kedua orang tuanya karena masih berpikir bahwa ia disalahkan oleh mereka, dan tidak mau disalahkan terus. Memilih diam untuknya adalah pilihan terbaiknya.
***
Enam hari kemudian.
Keinginan Lunara akhirnya terwujud. Liburannya disetujui oleh semua orang, termasuk Nyonya Elif. Kini Lunara dan Naura beserta suami mereka sudah berada di mobil yang dikendarai supir pribadi Keluarga Ozkan. Mobil itu menuju sebuah pantai Tropea Beach. Mereka pun sudah memesan sebuah penginapan dekat pantai.
"Kamu udah pernah ke sana Lun?" tanya Naura yang duduk bersama Lunara di kursi tengah.
Sementara kedua pria duduk di kursi bagian belakang. Kedua pria itu tidak pernah saling bicara, mereka berdua hanya saling melirik dengan tajam.
'Kenapa aku malah berakhir di sini? Dan duduk bersama dengan pria sialan ini?' batin Aagha yang tidak senang.
"Belum pernah. Makanya aku pengen ke sana. Kata Kak Azra, tempatnya bagus. Banyak wisatawan yang ke sana. Terutama pasangan yang baru menikah."
"Kalau Kak Azra yang cari tempatnya, pasti bagus. Aku nggak sabar mau lihat pemandangan di sana," ujar Naura senang karena bisa berlibur disaat ia memang butuh liburan setelah masalah yang membuatnya stress.
"Sayangnya aku nggak bisa lihat pemandangan," sahut Lunara yang membuat senyum Naura seketika menghilang, bahkan Naura diam karena tak mau membahas perasaan senangnya bisa menikmati pantai yang bisa buat Lunara sedih gara-gara tak bisa melihat pemandangan.
"Tapi aku tetap senang karena walau tidak bisa melihatnya langsung, aku masih bisa merasakan udara di pantai dan mendengar suara ombak yang buat aku seolah-olah bisa melihatnya," lanjut Lunara yang membuat Naura kembali tersenyum.
Disaat kedua perempuan itu asyik dengan obrolan mereka, Aagha dan Lucas malah saling beradu di belakang dengan bergantian bergeser. Jika Lucas bergeser ke kiri, Aagha yang duduk di sebelah kanannya, malah ikut bergeser ke kiri. Lucas tidak mau mengalah, dengan kasar, ia bergeser ke kanan yang membuat Aagha kesulitan bergerak. Aagha tidak suka berdempet-dempetan dengan Lucas, hingga ia menggeser tubuh Lucas menjauh darinya, bahkan membuat Lucas terhimpit di dekat jendela. Dan hal itu mereka lakukan secara bergantian karena tidak ada yang mau mengalah.
__ADS_1
Naura dan Lunara merasa terganggu dengan gerakan kedua pria itu hingga Naura menoleh ke belakang melihat Aagha dan Lucas. Seketika mereka berdua diam. Lucas langsung tersenyum pada Naura yang serius menatapnya, sedangkan Aagha bermuka datar melihat ke arah lain.
"Kalian berdua ngapain sih di belakang?" tanya Naura kemudian.
"Tidak ada. Cuma duduk aja di sini," balas Lucas yang tidak mau terlihat buruk di depan Naura.
"Walaupun kalian tidak bicara tapi aku bisa tahu kalau kalian gelisah dan tidak nyaman. Kalau kalian berdua nggak senang, mending turun aja dari mobil. Biar aku dan Lunara saja yang pergi liburan," tegas Naura.
"Siapa bilang tidak senang? Aku senang kok Naura!" Lucas kembali membalas tanpa mengurangi senyumannya pada Naura.
Tidak seperti Aagha yang tetap datar melihat Naura. Bahkan ia diam saja meski sebenarnya ia kesal mendengar ucapan Naura yang menyuruhnya turun dari mobil.
"Ya udah. Kalau senang, jangan banyak bergerak dong! Aku dan Lunara merasa terganggu karena kalian terus gerak ke sana kemari!"
"Oke. Aku bakal diam tapi tidak tahu orang di sampingku ini. Dari tadi dia cari masalah terus," sindir Lucas sembari melirik Aagha.
Naura tidak berani menegur langsung Aagha hingga ia hanya diam tapi sejenak ia melihat ke arah pria itu kemudian kembali fokus pada Lunara.
Lunara mendekatkan kepalanya ditelinga Naura lalu berbisik, "udah. Kamu biarin aja. Kak Aagha kayaknya nggak senang duduk di belakang. Tadi aku memang paksa dia duduk sama Kak Lucas karena pengen duduk sama kamu."
"Ya karena mereka nyebelin." Naura tidak berbisik ditelinga Lunara tapi suaranya tetap rendah dan pelan.
Lunara masih berbisik ditelinga Naura. "Naura, kamu tahu. Walau mereka nyebelin tapi aku senang bisa bulan madu bareng gini."
__ADS_1