
Mereka kini sampai di penginapan. Naura turun duluan agar ia bisa membantu Lunara turun tapi Naura sudah keduluan oleh Lucas. Lunara tersenyum dengan perhatian Lucas yang langsung memapahnya turun, padahal Lucas begitu karena memperhatikan Naura. Ia tidak mau Naura kesusahan sedangkan ada dirinya yang siap membantu.
Naura tersenyum melihat Lunara diperlakukan baik nan manja oleh Lucas tapi seketika senyumnya menghilang saat Lucas memegang tangan Lunara masuk ke dalam penginapan, karena masih ada sedikit kecemburuannya melihat Lucas memapah Lunara. Jujur, Naura begitu bukan karena benci melihat sikap Lucas baik pada Lunara tapi karena ia masih mencintai Lucas, dan perempuan atau laki-laki yang melihat orang yang dicintainya memperhatikan orang lain, tentu merasa cemburu seperti yang dialami Naura.
Aagha yang berdiri sedikit jauh dari Naura, mengerutkan keningnya melihat Naura tidak bergerak dan hanya diam saja menatap orang masuk.
Aagha berjalan sambil bertanya, "kenapa tidak masuk?"
"Ah." Seketika Naura sadar bahwa masih ada Aagha di sana. Ia tidak boleh menunjukkan ekspresinya yang tampak tidak senang melihat perhatian Lucas pada Lunara. Setidaknya demi kebaikannya dan Lunara, ia harus menjadi orang munafik dengan kembali menerbitkan senyumannya di depan Aagha. "Nggak apa-apa kak. Cuma sedikit pusing. Kayaknya mabuk perjalanan."
"Ya kalau pusing dan capek, masuk istirahat dong. Ngapain kamu cuma berdiri di sini seperti orang bodoh." Setelah mengatakan itu pada Naura, Aagha melangkah masuk ke dalam tanpa mengajak Naura. Sikapnya pun terlalu dingin pada gadis itu.
Naura tidak menjadikan itu sebuah masalah meski ia menghela nafas pelan sebelum kemudian masuk ke penginapannya. Di dalam, sudah ada petugas yang menunjukkan beberapa tempat kepada mereka untuk bersantai di dalam dan juga katalog wisata yang bisa mereka kunjungi selama berada di sana.
"Bagaimana Naura? Tempatnya bagus-bagus nggak?" sahut Lunara yang meminta pendapat Naura.
"Dari katalognya sih bagus Lun. Nanti kita datangi semua deh, terus kita foto-foto untuk dijadikan kenangan kalau kita pernah liburan ke sini," balas Naura tersenyum lebar.
"Kamu sudah seperti kekurangan uang saja. Memangnya aku tidak punya uang untuk bawa kamu kemari lagi. Bahkan ribuan kali ke sini pun, sangat mudah kulakukan. Mau keliling dunia, juga mudah Naura, Jangan seperti orang yang tidak mampu begitu dong," protes Aagha yang tidak senang mendengar ucapan Naura, karena sebagai suami Naura ia merasa terhina dan merasa sudah direndahkan gara-gara tidak bisa menyenangkan istrinya sendiri dengan liburan ke tempat seperti ini. Padahal bagi Aagha liburan kesini tidak ada apa-apanya.
"Bukan begitu maksudku. Maksudku, setiap momen harus kita abadikan sebagai kenangan kalau kita pernah liburan bersama. Walau kita liburan ribuan kali, momennya bakal tetap harus diabadikan untuk ditunjukkan di masa depan. Terutama untuk anak-anak kita kelak. Karena suatu hari, mereka bakal bertanya dan penasaran tentang kenangan kita. Dan aku nggak mau cuma kasih tahu mereka kalau ibunya pernah kemari atau ke tempat yang lain tapi aku mau mereka lihat bagaimana dulu ibunya sangat bahagia ketika masih muda," jelas Naura.
Aagha terdiam. Bukan karena ia tidak senang mendengar ucapan Naura melainkan karena ia tersentuh mendengar ucapan gadis itu. Begitu juga dengan Lucas dan Lunara. Namun hal itu malah membuat Lucas semakin kagum dengan Naura yang memang sering mengatakan kalimat yang buat orang terharu.
Lunara mengulurkan tangannya, mencari tangan Naura, dan Naura langsung meraih tangan Lunara sembari tersenyum melihat temannya itu.
__ADS_1
"Aku juga pengennya begitu Naura. Makanya aku senang kalau kita liburan terus menangkap setiap momen yang buat aku senang dan bahagia," ujar Lunara.
Aagha malas mendengar kedua perempuan itu mengobrol. Bukan karena tidak senang mendengar obrolan mereka tapi jika mereka sudah asyik mengobrol, yang lain mereka abaikan. Aagha tidak suka diabaikan hingga ia memilih pergi. Begitu juga dengan Lucas yang malah menenggelamkan tubuhnya di sofa.
"Naura, kita istirahat dulu. Nanti sore kita ke pantai menikmati matahari terbenam. Oke," ujar Lunara.
"Oke." Naura mengangguk.
Lunara masih merasakan kehadiran Lucas dari parfum yang masih tercium. Ia melepas tangan Naura lalu melangkah melewati Naura dan berhenti setelah berjalan tiga langkah. "Kak Lucas, kamu masih di sini kan?" tanyanya memastikan.
"Iya. Ada apa?"
"Kita istirahat dulu di kamar. Boleh minta tolong bawa aku ke kamar," pinta Lunara lembut.
"Oke." Sebenarnya Lucas masih ingin duduk berlama-lama di sana karena belum puas melihat Naura tapi ia terpaksa menuruti permintaan Lunara gara-gara tidak mau terlihat buruk lagi di depan Naura. Sudah cukup sikapnya kemarin pada Lunara yang membuat Naura tidak senang.
Naura menghela nafas panjang mendengar teriakan pria itu, dan karena tidak ingin membuat para tamu di sana terkejut karena kelakuan Aagha hingga Naura buru-buru mendatangi Aagha di kamar.
"Kak Aagha kenapa teriak? Memangnya nggak malu didengar tamu yang menginap di sini?" tanya Naura setelah masuk ke kamar, dan ia melihat Aagha hanya duduk di sofa.
"Ya karena kamu tidak ada di sini." Aagha mengira Naura bersama Lucas lagi di luar sehingga ia berteriak tanpa memikirkan reputasinya di depan orang.
"Aku tadi ngobrol sama Lunara. Memang Kak Aagha butuh apa?"
"Aku mau mandi dan air hangat di dalam belum ada," kata Aagha, dan itu hanya alasan baginya agar Naura tidak keluar lagi dari kamar.
__ADS_1
"Oke. Aku sediakan dulu."
"Tunggu sebentar!" kata Aagha ketika Naura memutar tubuhnya.
Naura menoleh kembali. "Ada apa?"
Aagha menaikkan kedua kakinya dengan angkuh, dan itu membuat Naura bingung sampai mengerutkan keningnya. "Aku malas buka sepatu. Tolong buka sepatuku!" Karena terlanjur memerintah Naura, Aagha memanfaatkan kesempatan itu untuk membuat Naura kesal saja tapi Naura sama sekali tak menunjukkan kekesalannya. Malah perempuan itu dengan sukarela maju lalu membuka sepatu Aagha salah satunya.
"Kenapa tidak membantahku lagi?" tanya Aagha penasaran sembari menatap Naura yang membuka sepatunya yang sebelah.
"Untuk apa? Aku tidak ada alasan bantah Kak Aagha." Naura membalas ucapan Aagha sambil meletakkan sepatu Aagha yang sudah dibukanya.
"Tadi di mobil, kau menyuruhku turun dari mobil cuma karena aku mengganggumu. Sekarang aku menyuruhmu melakukan pekerjaan rendah seperti itu tapi kau tidak bilang apapun!"
"Maksud Kak Aagha, bantu kakak mandi terus buka sepatu, begitu?" kata Naura memastikan, dan Aagha diam saja tapi matanya tetap melihat Naura hingga Naura paham maksud Aagha.
"Menurutku melakukan hal seperti ini, membantu kakak dalam segala hal, bukanlah sesuatu yang hina dan bukan juga pekerjaan yang rendah, karena Kak Aagha suamiku. Kalau aku melakukannya pada orang lain, ya ceritanya berbeda. Aku pasti bakal merasa terhina banget tapi kalau sama suami sendiri, nggak ada yang seperti itu. Jadi kakak tidak usah banyak pertanyaan setiap kali aku membantu."
Lagi-lagi Aagha kehabisan kata-kata mendengar ucapan Naura. Ia terpengaruh hingga membuatnya sedikit kagum dengan kata-kata istrinya itu bahkan jantungnya terasa berdebar.
"Kak Aagha mau mandi kan? Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku masuk ke dalam."
"Tunggu sebentar!"
Naura yang baru berjalan dua langkah, berhenti dan melihat Aagha berjalan ke arahnya. Pria itu begitu dekat, bahkan Aagha memajukan kepalanya. Sesaat Naura kaget karena mengira Aagha ingin menciumnya tapi Aagha malah membelokkan kepalanya ketelinga Naura.
__ADS_1
"Kau masih punya hutang malam pertama padaku, Naura."