My Beastly Husband

My Beastly Husband
Bergantung Pada Sang Kakak


__ADS_3

Naura berjalan perlahan mendekat ke Aagha. Ia berdiri di depan laki-laki itu tanpa mengatakan apapun karena berharap Aagha melupakan sesuatu yang ingin mereka lakukan sesaat lalu. Aagha yang sadar dengan kehadiran Naura di depannya, menghentikan kesibukannya lalu beralih menatap Naura yang terlihat gugup.


"Jangan bilang kau mengharapkan aku menggendongmu ke kasur!"


Naura mengangkat wajahnya sampai matanya menatap langsung wajah Aagha. "Tidak sama sekali."


"Lalu kenapa kau berdiri di depanku?" tanya Aagha dengan kening mengerut.


"Karena Kak Aagha panggil aku tadi."


"Aku sudah lupa mau bilang apa? Kalau sudah ingat, aku akan bicara padamu lagi. Sekarang aku ngantuk, mau tidur!" Aagha berdiri lalu berjalan ke tempat tidur tanpa peduli dengan Naura yang berdiri kebingungan di depan sofa.


Naura memutar kepalanya menatap Aagha yang naik ke kasur kemudian membatin, 'Yang tadi nggak jadi?'


Naura penasaran dengan Aagha yang tidak mengungkit masalah sesaat lalu dan ingin menanyakannya tapi hati nuraninya memaksanya untuk bungkam karena sejujurnya ia belum siap disentuh oleh pria itu. Namun Naura tetap melangkah mendekati Aagha.


"Kak Aagha mau tidur di sini, lalu aku tidur di mana?" Pertanyaan itu terlontar karena ia tidak mau membuat Aagha marah jika ia bertindak sendiri dengan berbaring di tempat tidur yang sama dengan Aagha.


Aagha melempar bantak ke Naura, dan Naura langsung menangkapnya dengan ekspresinya yang terkejut serta bingung.

__ADS_1


"Jangan tidur di sini! Aku tidak suka ada orang yang menggangguku saat tidur!" tegas Aagha.


"Lalu aku harus tidur di mana?"


"Terserah. Mau tidur di lantai, di sofa atau di manapun, aku tidak peduli. Yang jelas, jangan tidur di sebelahku! Aku tidak bisa tidur!" jelas Aagha yang membuat Naura mengerti.


Akhirnya Naura berjalan ke sofa dan meletakkan bantalnya di sana kemudian membaringkan tubuhnya dengan pasrah. Meski begitu, ia tidak mengeluh pada Aagha, karena menurutnya, tidur di sana lebih baik daripada tidur di sebelah Aagha yang mungkin memicu pertengkaran lagi. Terlebih ia belum siap tidur bareng dengan Aagha sebagai pasangan suami istri.


'Tidak apa-apa Naura. Mau tidur di manapun, tidak masalah. Yang penting dianya tidak rewel. Kepalaku benar-benar pusing kalau bertengkar terus dengan dia.'


Menit berikutnya, Naura masih belum bisa tidur meski ia sudah berusaha untuk menutup matanya karena ia memang tidak terbiasa tidur sekamar dengan orang lain. Apalagi orang itu seorang pria dan suaminya sendiri, sementara Aagha malah sudah tidur bahkan mendengkur di sana. Sungguh membuat Naura tercengan melihat pria yang beberapa saat lalu mengajaknya berhubungan intim.


Sementara itu, Tasya mabuk di kamarnya karena sangat marah pada semua orang. Terutama pada Naura yang sangat ia benci karena telah merebut tunangannya. Ia sudah menghabiskan lima kaleng alkohol yang memang sudah tersedia di kamarnya. Bahkan di kamar itu, ada lemari yang khusus menampung alkohol berbagai macam merek.


"Brengsek!" Tasya melempar kaleng alkohol yang baru saja ia habiskan.


"Lihat saja Naura! Hari ini kau mengambil milikku, besok aku akan merebutnya darimu dan aku akan membuatmu menyesal telah dilahirkan ke dunia ini." Mata Tasya yang tajam, penuh dendam dan kebencian pada Naura. Bahkan karena kebenciannya pada Naura, ia meremas kaleng minuman itu dengan sangat keras.


Bukan hanya Tasya yang menderita saat ini. Lucas pun sangat menderita karena pernikahan Naura dan Aagha. Pria itu melampiaskan sakit hatinya pada minuman di sebuah bar ternama di kota itu. Bahkan di sana, ia ditemani para perempuan malam yang memang bertugas melayani tamu yang datang di tempat itu.

__ADS_1


"Tuan, sepertinya hari Anda tidak senang dengan sesuatu," sahut salah satu perempuan malam itu.


Lucas yang sudah mabuk, tertsenyum kecil melihat perempuan yang berbicara di sampingnya tersebut. Kemudian ia memegang dagu perempuan itu-dan mencubitnya pelan. "Orang yang membuatku seperti ini, tidak mengerti dengan perasaanku tapi kamu malah mengerti semuanya. Aku memang tidak salah datang kemari."


"Kalau Anda tidak senang karena dia. Saya bisa buat tuan senang kembali, bahkan tuan akan selalu bahagia bersama saya."


"Benarkah?" Saat ini Lucas ingin melupakan sakit hatinya hari ini, hingga ia menuruti perempuan itu yang tiba-tiba saja merangkul lehernya. Bahkan ia mencium dan meraba kedua paha perempuan itu yang kini duduk di atas pahanya. Sementara dua perempuan yang lain, tetap duduk di samping Lucas sembari menyaksikan kegiatan kedua orang itu tanpa merasa malu atau risih, bahkan mereka tersenyum dan raut wajah mereka terlihat bernafsu karena mereka juga ingin disentuh oleh Lucas.


Lucas bersenang-senang di bar itu untuk menghilangkan rasa sakitnya meski sebentar tapi ia tidak tahu bahwa orang yang paling sedih saat ini adalah Lunara yang ia tinggalkan di kamar setelah menghina perempuan itu dengan berbagai kata-katanya yang kasar. Dan karena itu, Lunara tidak bisa tidur dan hanya bisa menangis di kamarnya. Meski begitu, ia tetap mengkhawatirkan suaminya yang pergi entah ke mana dan tidak kembali sampai sekarang.


"Lunara, berhentilah menangis. Yang paling penting adalah mencari keberadaan Lucas." Lunara menghapus air mata di wajahnya lalu berusaha mengambil tongkatnya yang selalu menuntunnya kemanapun langkahnya.


Lunara berencana keluar kamar dan mencari Aagha untuk meminta bantuan pada sang kakak untuk mencari keberadaan Lucas. Sebenarnya ia tidak enak hati mengganggu malam pengantin Aagha. Terlebih ia merasa tak enak pada Naura tapi bagaimana lagi. Ia tidak punya pilihan selain mengganggu mereka karena hanya Aagha yang bisa membantunya untuk menghilangkan kekhawatirannya. Terlebih, selama ini, ia memang bergantung pada Aagha yang selalu menuruti keinginannya.


"Kak Aagha!" Lunara kini berdiri di depan kamar Aagha setelah berusaha berjalan dengan bantuan tongkatnya serta tangannya yang meraba-raba dinding tembok. Ia menghafal berapa langkah ke kamar Aagha hingga ia tidak memerlukan bantuan siapapun untuk datang ke kamar itu. Apalagi kamarnya dan kamar Aagha, jaraknya tidak begitu jauh.


"Kak Aagha! Apa kakak sudah tidur?"


"Kak!! Kak Aagha!" Lunara terus berteriak sembari mengetuk pintu kamar sang kakak, sampai akhirnya pintu itu terbuka. Namun yang ada di sana bukan Aagha melainkan Naura. Lunara tahu dari aroma tubuh Naura.

__ADS_1


"Lu!" Naura terkejut melihat Lunara berdiri dengan ekspresi khawatir. "Ada apa Lun?"


__ADS_2