
"Kalau Kak Aagha nggak mabuk. Aku mau bicara sebentar," ucap Naura yang berdiri di depan Aagha yang duduk menenggelamkan tubuhnya di sofa. Meski dapat bentakan dari Aagha, Naura tidak peduli. Ia tetap ingin bicara dengan Aagha jika pria itu masih sadar.
"Aku tidak mau dengar kamu bicara. Pergilah dari hadapanku sekarang Naura. Aku benci melihatmu."
Naura tidak mau tahu. Ia tetap harus meluruskan kesalahpahaman Aagha karena Aagha uring-uringan seperti ini karena mengira dirinya hamil anak Lucas. "Walau Kak Aagha benci. Kakak harus tahan melihatku karena setiap hari kita akan tinggal satu rumah dan di kamar yang sama."
"Ah berisik! Bicaralah lalu pergi setelah kau bicara!" tegas Aagha.
"Ini tentang kehamilanku. Aku benar-benar nggak hamil. Aku nggak bohong sama kamu. Ini kulakukan murni karena Mommy Elif yang curiga tentang hubungan kita. Dan walau aku pernah pacaran dengan Lucas tapi aku nggak pernah tidur dengan dia. Percaya lah padaku!"
"Kenapa kau menjelaskannya padaku? Bukannya kau sangat mencintai Lucas? Kau pasti tidak masalah kalau aku menganggap mu pernah tidur dengan dia. Toh aku cuma pria yang hanya menikahimu karena Lunara. Bukan pria yang mencintaimu. Untuk apa kau peduli dengan pendapatku? Bagimu yang sangat mencintai Lucas, tidak akan mempedulikan pendapat orang lain." Aagha penasaran dengan pikiran Naura hingga ia bertanya seperti itu.
"Karena aku orang yang tidak suka membuat orang salahpaham. Aku akan jelaskan semuanya agar orang tidak salahpaham. Karena dengan begitu, orang tidak akan membenciku. Dan aku nggak mau Kak Aagha semakin membenciku karena sesuatu yang tidak kulakukan," jelas Naura dari hatinya yang paling dalam.
Tanpa mengatakan apapun, Aagha berdiri lalu berjalan mendekati Naura yang hanya berjarak dekat dari tempatnya duduk.
"Bagaimana kalau aku tidak bisa percaya padamu? Apa kau akan membuktikannya?" tanyanya kemudian dengan pandangan dingin yang begitu menusuk pada Naura.
"Aku ... aku ...,"
Naura bingung harus menjawab apa karena ia tidak pernah berpikir bahwa Aagha akan memberikannya pertanyaan seperti itu.
Aagha tersenyum smirk melihat Naura tak bisa menjawabnya. "Lihatlah! Kau tidak punya bukti untuk membuktikan kata-katamu. Kau itu pembohong besar Naura."
__ADS_1
"Aku tidak bohong. Aku nggak hamil. Kalau Kak Aagha nggak percaya, kita bisa periksa di rumah sakit."
"Oke, mungkin kau memang tidak hamil seperti yang kau katakan tapi kau tidak bisa membantah kenyataan tentang kau dan Lucas yang pernah tidur," ucap Aagha yang menekan Naura.
Untuk sesaat Naura terdiam memikirkan sesuatu yang harus ia lakukan untuk membuktikan dirinya tidak berbohong pada Aagha.
Aagha yang melihat diamnya Naura, menambah keyakinannya bahwa Naura dan Lucas memang pernah tidur bersama. Hal itu menambah amarah dan kebencian Aagha pada Naura. "Minggir! Jangan sentuh aku!"
Aagha mendorong Naura ke samping untuk menjauh darinya. "Tunggu! Aku bisa membuktikan kalau aku nggak pernah tidur dengan Lucas."
Aagha yang tadinya berjalan ke kamar ganti, menghentikan langkahnya lalu menoleh ke Naura yang berdiri di dekat kasur. "Kau mau membuktikannya? Dengan cara apa kau buktikan dirimu?"
"Lucas akan jelaskan padamu!" kata Nuara, dan Aagha malah tersenyum miring. Ekspresinya terlihat menghina Naura yang seakan tak tahu apa-apa.
"Lalu Kak Aagha mau bagaimana?" Naura tampak putus asa di depan Aagha yang tidak mau mendengarkannya.
"Cara untuk membuktikan dirimu adalah menidurimu."
Naura terkejut mendengar ucapan Aagha. Dan seketika ia sedikit takut melihat Aagha yang mulai berjalan mendekatinya.
Tanpa mengatakan apapun, Aagha memegang dagu Naura dan mengangkat wajah Naura ke atas sampai ia menatap lebih dekat wajah perempuan itu. "Kenapa? Kau tidak mau melakukannya karena takut aku tahu kalau kau perempuan tidak tahu malu? Aku masih ingat prinsipmu. Kau pernah bilang padaku, tidur dengan pria atau wanita sebelum menikah adalah hal yang sangat memalukan. Sejak dulu kau benci itu. Tapi kau malah melakukannya sendiri. Dan sekarang, kau sangat malu padaku karena kau tidak seperti prinsipmu itu. Karena itu juga kau berusaha mati-matian membohongiku."
Naura sungguh lelah mendengar Aagha yang selalu mendesaknya, selalu menuduhnya telah berbohong. "Ka-kalau tidur dengan Kak Aagha bisa mereda kebencian kakak padaku. Aku ..., aku akan melakukannya. Ini demi menghilangkan kesalahpahaman saja."
__ADS_1
Jujur Naura belum siap bersentuhan dengan pria lain meski ia mengenal Aagha sudah bertahun-tahun lamanya. Apalagi ia tidak mau berhubungan intim dengan Aagha karena ia tidak mencintai Aagha tapi bagaimana pun juga ia dan Aagha sudah menikah. Siap atau tidak harus ia lakukan.
Aagha menarik pinggang Naura hingga tubuh Naura menempel padanya. Naura sampai terkejut ketika dadanya bersentuhan dengan dada bidang Aagha. Matanya membulat sempurna melihat Aagha. Dan perasaannya mulai takut karena berhubungan intim dengan pria memang hal yang belum pernah ia lakukan. Naura bahkan memegang erat gaun pengantinnya yang masih melekat ditubuhnya.
Aagha mulai mendekatkan wajahnya perlahan-lahan untuk menyentuh bibir Naura. Seketika Naura menutup matanya. Namun saat Aagha ingin mendaratkan bibirnya ke bibir Naura, Naura tiba-tiba mendorong bibirnya. "Tunggu sebentar! A-aku belum mandi. Biarkan aku mandi sebentar. Badanku lengket."
Aagha melepas Naura tanpa mengatakan apapun. Dan Naura buru-buru mengangkat gaun pengantinnya kemudian berlari masuk ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi, Naura tidak langsung membersihkan tubuhnya. Perempuan itu malah mondar-mandir sembari menggigit kuku ibu jarinya. "Aku dan Kak Aagha bakal bermalam pertama."
Terlihat diwajah Naura yang ketakutan dengan hal seperti itu. Beberapa kali ia menelan ludahnya karena ketakutannya itu. "Katanya berhubungan di ranjang dengan seorang pria sangat sakit sampai perempuan menangis, bahkan berteriak. Aku juga pasti begitu. Bagaimana ini? Kak Aagha benci sama aku. Dia pasti akan membuatku kesakitan dan tidak bisa bangun lagi."
Kepolosan Naura membuatnya panik. Jantungnya pun berdetak cepat karena ketakutannya dan kepanikannya. "Huuuuffff!"
"Naura!"
Teriakan Aagha di luar membuat Naura di dalam, tersentak kaget. Keringat dingin pun bercucuran keluar dari tubuhnya. Kedua tangannya juga begitu dingin.
"Bagaimana ini? Aku belum siap. Apa aku pura-pura datang bulan saja atau pura-pura pingsan?" Mata Naura sampai berkaca-kaca.
"Naura!" teriakan Aagha kembali terdengar.
"Ya. Aku sedang mandi. Kalau Kak Aagha nggak bisa nunggu. Kakak bisa tidur duluan!"
Naura segera mandi tapi ia berharap Aagha benar-benar tidur duluan seperti yang ia inginkan agar bisa menghindari malam pertamanya. Namun beberapa saat kemudian, setelah ia selesai mandi, Aagha malah duduk di sofa sembari memegang tabletnya.
__ADS_1
'Ya tuhan. Dia gigih sekali.'