My Beastly Husband

My Beastly Husband
Disalahkan


__ADS_3

Semua orang keluar dari kamar mereka masing-masing setelah mendengar teriakan Naura. Terutama Nyonya Elif dan Tuan Edis yang tinggal di lantai bawah. Mereka semua syok tapi mereka tidak mengatakan apapun. Tuan Edis malah langsung menggendong putrinya lalu berlari keluar rumah bersama bawahannya yang siap siaga menyediakan mobil untuk Tuan Edis. Naura menyusul bersama Azra yang mengendarai mobilnya sendiri.


Di mobil pun, Azra tidak bertanya pada Naura apa yang sudah terjadi karena pikirannya hanya tertuju pada kondisi Lunara yang sangat mengkhawatirkan. "Ya tuhan! Semoga saja Lunara tidak apa-apa!"


Naura diam saja tapi terlihat diwajahnya yang panik, ketakutan serta khawatir dengan Lunara yang jatuh dari tangga. Tak lama, mobil Azra sampai di rumah sakit. Kedua perempuan berlari masuk ke dalam rumah sakit, menyusul Tuan Edis yang sudah duluan.


Lunara baru saja dimasukkan ke dalam ruang ICU. Azra dan Naura hanya melihat Tuan Edis dan Nyonya Edis yang menunggu di luar ruangan. Mereka masih diam. Tak ada satupun yang bertanya pada Naura tentang kejadian sebenarnya hingga ketika Nyonya Laura datang bersama Nolan dan juga Tasya, barulah semuanya fokus pada Naura.


Plakk!


Tanpa mengatakan apapun, Laura langsung menampar wajah anaknya. Naura yang tidak tahu alasan ibunya tiba-tiba datang memukul wajahnya, tentu terkejut. Begitu juga dengan Tuan Edis, Nyonya Elif dan Azra yang ada di sana. Mereka terkejut melihat Laura menampar Naura.


"Laura, apa yang terjadi? Kenapa kamu menampar Naura?" tanya Nyonya Elif yang kasihan melihat Naura ditampar.


"Elif, kamu tahu. Lunara jatuh dari tangga karena didorong sama Naura. Dan tamparanku padanya tidak seberapa dengan luka yang dialami Lunara," jawab Laura dengan penuh amarah karena Naura.


"Kamu tahu dari mana kalau Naura yang dorong Lunara?" tanya Elif yang terlihat tak percaya.


"Tasya yang bilang padaku."

__ADS_1


Elif diam tak bisa berkata-kata karena masih bingung mendengar semuanya.


"Kak Tasya bohong! Bukan aku yang dorong Lunara tapi Kak Tasya sendiri," bantah Naura dengan tegas kemudian menoleh melihat Tasya yang berdiri di samping Nyonya Laura, "Kak Tasya, katakan yang sebenarnya! Kamulah yang dorong Lunara, bukan aku. Tolong jangan memfitnahku!"


"Naura, aku tidak bohong. Tante, om. Aku tidak bohong. Yang kukatakan adalah kebenarannya. Naura yang dorong Lunara bukan aku." Cara Tasya bicara di depan semua orang, tidak seperti Naura yang meninggikan suaranya. Tasya lebih tenang. dan tidak menggebu-gebu.


Naura menggeleng. "Bukan aku. Aku tidak mendorong Lunara."


Disaat yang sama, Aagha datang. Pria itu berlari mendatangi mereka dengan tampangnya yang begitu khawatir. Setelah membawa Lucas pulang ke rumah, ia mendengar dari seorang pelayan bahwa Lunara di bawa ke rumah sakit karena jatuh dari tangga.


Karena begitu khawatir, Aagha tidak mempedulikan Naura dan Tasya yang sama-sama membela diri. Pria itu lebih dulu datang ke ibunya dan menanyakan keadaan Lunara. "Mom, bagaimana Lunara? Apa dia sudah ditangani dokter?"


"Mommy belum tahu. Dokternya belum keluar sejak tadi Nak," jawab Nyonya Elif.


Aagha menoleh dengan ekspresinya yang terkejut mendengar ucapan Tasya. "Maksudmu, Naura mendorong Lunara sampai jatuh dari tangga?"


"Iya," jawab Tasya.


"Bukan aku. Aku tidak dorong Lunara."

__ADS_1


"Kalau saja cuma aku yang lihat kamu, mungkin kamu pantas bantah begitu tapi ada pelayan yang lihat kamu, Naura. Kamu tidak bisa berbohong di depan semua orang." Tasya sudah sekongkol dengan pelayan yang mengaku melihat Naura hingga Tasya percaya diri bicara di depan semua orang. Terutama di depan Aagha.


"Elif, Tuan Edis. Aku minta maaf karena kesalahan Naura. Aku benar-benar malu setelah tahu kalau Naura bertengkar dengan Tasya sampai membuat Lunara jadi korbannya." Nyonya Laura mendengar cerita dari Tasya dan seorang pembantu tentang Naura yang bertengkar dengan Tasya sampai Naura dituduh telah mendorong Lunara. Saat Tasya menceritakan itu, ia pun dapat teguran dari Nyonya Laura.


Naura kecewa dengan ibunya yang tidak percaya kepadanya. Namun ia hanya bisa diam karena mau berteriak pun dengan bantahan dan pembelaannya, tidak ada orang yang percaya kepadanya.


Sementara Aagha pusing mendengar perdebatan mereka hingga ia menarik Naura pergi dari sana. Naura menurut saja. Di mobil yang dikendarai Aagha, laki-laki itu tidak bicara apapun dan Naura pun tidak berani bicara. Sampai akhirnya mereka sampai rumah. Tanpa mengatakan apapun, Aagha menarik Naura masuk dan membawa Naura ke sebuah lorong ruangan yang gelap.


"Kak Aagha mau bawa aku ke mana?" tanya Naura yang mulai ketakutan.


Aagha masih tak bicara. Pria itu berjalan terus menarik Naura sampai berada di sebuah ruangan yang jauh dari ruangan lainnya. Aagha mendorong Naura masuk ke ruangan itu dan ruangannya sangat gelap sampai tak terlihat apapun. Naura semakin ketakutan. Ia yang terjatuh akibat dorongan Aagha, buru-buru berdiri dan mendekati Aagha.


"Kenapa Kak Aagha bawa aku kemari?" tanya Naura sembari memegang tangan Aagha.


"Kau sudah melakukan kesalahan pada Lunara. Bukan cuma sekali tapi berkali-kali dan kau tidak pernah mengakuinya Naura. Kau selalu merasa paling benar, paling terluka. Karena itu, aku membawamu ke sini untuk membuatmu sadar atas kesalahanmu. Kau akan keluar setelah kau mengakui semua kesalahanmu." Aagha tentu lebih percaya dengan tuduhan Tasya dan seorang pelayan karena selama ini ia belum melihat tindakan Naura yang membuatnya harus percaya omongan Naura.


"Bukan aku yang dorong Lunara. Tolong percaya padaku Kak!" Naura memohon dengan sangat disertai buliran air matanya di depan Aagha.


Namun Aagha malah terlihat dingin dan tak peduli. Bahkan ia mendorong Naura menjauh darinya lalu segera menutup pintu ruangan itu. Pintu tertutup. Ruangan pun menjadi gelap, dan Naura semakin ketakutan.

__ADS_1


"Kak, buka pintunya. Kak, jangan tutup pintunya. Aku takut, aku mohon Kak!" Naura berteriak sembari menggedor-gedor pintu. Suara tangisannya pun semakin keras karena begitu ketakutan berada di ruangan yang gelap itu.


Tak ada suara dari luar. Hanya ada suara langkah kaki yang menjauh dari tempat itu. Naura mendengarnya dan itu membuatnya terus menggedor-gedor pintu tapi tetap saja tak ada yang peduli. Naura yang menangis di dalam sana, menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Isak tangisnya terus terdengar di dalam sana. Dadanya pun begitu sesak karena kekecewaan dari orang-orang yang tidak percaya padanya. Terutama pada ibunya dan Aagha yang percaya pada Tasya. Ia disalahkan atas perbuatan yang tidak ia lakukan. Bahkan Aagha mengurungnya di tempat gelap yang paling membuatnya takut agar ia mengaku tapi sampai mati pun ia tidak akan mengakui sesuatu yang tidak ia lakukan.


__ADS_2